
Lomba olimpiade provinsi berlangsung selama lima hari. Dua hari penyisihan grup. Tiga hari Semifinal dan final. Di sela-sela penyisihan grup, tim kami memilih pulang. Tidak menginap selama lima hari full.
Sepulang dari lomba provinsi, tak seperti biasanya, dia mau mengajakku bicara. Walaupun masih sangat ringan. Aku pun menjawab sekenaku. Sepintas kulihat, matanya sudah sehangat dulu.
Waktu itu, setelah istirahat jam pertama, Coco dan Dedi duduk di meja depanku. Membahas tugas kelompok yang diberikan bu Indri guru Biologi kami.
“Mau ngerjain kapan nih tugas proyek Biologinya?”tanya Dedi
“Besok sabtu-minggu gimana?”tanya Anti
“Sabtu-minggu? Ya moga aja bisa..kan kalo kami lolos penyisihan grup, kami harus kembali ke kota XX masuk semifinal”jawab Dedi
“Kamu sakit Vi?”tanya Coco tiba-tiba padaku.
Jujur aku kaget, karena dia yang mengajakku bicara dulu.
“Ah..enggak”
“Kenapa diam aja?”tanyanya lagi
“Emang mau ngomong apa?”
“Balik ke topik pembicaraan, tugas proyeknya ini gimana?”tanya Anti
“Ya udah..kita tunggu aja hasil lomba mereka..kalo mereka lolos penyisihan berarti kan Sabtu-Minggu ini kita ga bisa ngerjain. Ya udah..kita undur minggu depan aja”jawabku
Sepanjang diskusi itu, aku memilih menatap Dedi daripada melihat Coco yang duduk di depanku. Aku memilih tidak mendekat terlalu dekat. Aku takut jika terlalu dekat nantinya akan terlalu silau, sehingga membuatku lemah dan sakit seperti dulu. Aku belum siap jika harus sakit hati untuk kesekian kalinya dengan ucapan dan sikap dingin Coco padaku.
Saat pelajaran Bahasa Inggris, Aldi datang membawa surat ijin rapat. Oleh pak John dia dikerjai untuk menyebutkan nama siapa saja dalam surat itu. Dan harus meminta ijin menggunakan Bahasa inggris.
Dasar si Aldi sudah jago Bahasa Inggris, tak menjadi masalah baginya meminta ijin dalam Bahasa Inggris. Satu per satu nama dalam surat ijin itu dipanggil dan mereka melangkah keluar kelas.
Nisa, Nia, Bila, Aku dan … Coco?.
Aku sempat kaget karena tak biasanya semua pengurus inti PMR dipanggil. Tapi kemudian aku ingat, hari ini adalah briefing akhir sebelum pelaksanaan bazar.
Aku pun beranjak meninggalkan kelas. Di depanku Nisa, Bila dan Nia sudah berjalan terlebih dahulu, bersama dengan Aldi. Coco di belakangku.
Sepanjang perjalanan menuju ruang PMR, kami bertemu dengan pengurus inti PMR yang lain dari kelas yang lain. Sesekali kulihat langkah kakiku dan Coco beriringan, kemudian Aldi melambatkan jalannya sehingga bersebelahan denganku. Coco tetap di belakangku dengan Arman dan Arsy.
Sesampainya di ruang PMR kami duduk di tempat yang tersedia.
Entah disengaja atau tidak, dudukku jadi bersebelahan dengan Coco dan Aldi. Dengan aku duduk ditengah, sementara mereka berdua duduk di samping kanan kiriku.
Aku berusaha tak ambil pusing, karena aku memang sebagai sekretaris, duduk di sebelah ketua panitia. Dan ternyata tersisa satu kursi di sampingku. Malah Coco yang mendudukinya.
Sebelum rapat dimulai, Dani, ketua PMR periodeku meledek kami bertiga.
“Wah…duduk kita hari ini seperti mengadili mereka bertiga ”sambil menunjuk padaku, Coco dan Aldi.
“Iya..ya..seperti mengadili satu istri dua suami”ledek Nisa
“Ya..silahkan terdakwa 1, sampaikan esepsinya” kata Dani menirukan suara seorang hakim
Aku hanya tersenyum kecil mendengar percakapan teman-teman.
Rapatpun dimulai. Dibuka oleh Dani. Kemudian Dani mempersilahkan Aldi menyampaikan hasil rapat dan perkembangan persiapan bazar yang sebentar lagi dilaksanakan. Aldi pun menyampaikan dengan lengkap. Aku pun menambahi sedikit. Semua tampak puas dengan pemaparan kami.
Kemudian Coco sedikit memberi saran dan masukan yang menurutku memang bagus. Kulihat lagi sosok Coco yang kusuka. Tenang, smart, dan inovatif. Sesekali dia melempar candaan yang membuat suasana menjadi santai dan hangat.
Selesai rapat, Aldi mengajakku berunding lagi. Memperbaiki konsep kami dengan sedikit masukan dari Coco tadi. Coco mengajakku kembali ke kelas.
Belum sempat kujawab, Arman sudah menyela pemmbicaraan kami.
“Udah, ga usah diganggu… Kalian kan sudah cerai” canda Arman yang memang suka bercanda
Coco hanya tersenyum. Tak kulihat kemarahan dimatanya, mendengar candaan Arman. Diapun pamit kembali ke kelas. Aku hanya mengangguk pelan tanpa sepatah kata pun.
Saat latihan PMR, sore harinya, tumben dia juga muncul. Ikut latihan. Walaupun tidak melakukan kegiatan apa-apa.
Aku dan Anti duduk bersebelahan. Coco dan Dedi duduk di belakangku. Sesekali Dedi mengajak kami mengobrol. Suasana hampir mirip seperti dulu, hanya bedanya sekarang kami tidak duduk bersebelahan lagi seperti dulu kami biasa lakukan.
Saat akan mengambil sesuatu di tasku yang aku taruh di ruang PMR, tak kulihat Coco yang ternyata mengikutiku dari belakang. Sesampainya di ruang PMR, tiba-tiba dia ingin mengajakku bicara empat mata.
“Aku ingin kita bicara” pintanya
“Mau bicara apa?”
“ Tentang…. “
“ Dooorrrrrr…”
Belum selesai dia menjelaskan, Feli dan Sandra datang. Dua kunyil pengganggu. Feli mencoba mengagetkan Coco dari belakang. Dia tak melihat aku yang ada di dalam ruangan.
“Eh, ternyata ada kak Vivi…maaf ya kak”jawab Feli
“Kamu ganggu ah Fel, kak Vivi kan sama Coco..kalian mau bicara kan? “tanya Sandra
“Ah, tidak apa-apa..kami sudah selesai bicara kok. Aku duluan ya…” Akupun pergi dan meninggalkan mereka bertiga
Aku memilih pergi. Daripada berlama-lama di sana dan mesti melihat kemesraan Coco dan Feli di depan mataku. Akku tak mau. Mending aku saja yang pergi ketimbang melihat mereka berdua pamer kemesraan mereka. Belum lama beranjak, tiba-tiba tanganku ditarik dari belakang
“Kita belum selesai..” kata Coco sambil memegang pergelangan tanganku
Aku kaget. Karena Coco memegang pergelangan tanganku. Kulihat wajahnya juga sangat serius.
“Lepaskan Co…” pintaku padanya. Pegangannya sangat kuat. Aku mencoba melepaskan tapi tak bisa.
“Lepaskan Co…lihat, semua melihat ke arah kita” pintaku sambil melihat ke sekeliling.
Beberapa adik kelas dan senior PMR yang lain ada yang melihat kami, sambil berbisik-bisik. Kali ini dia melepaskan tanganku, akupun pergi meninggalkan dia.
Aku kembali duduk di sebelah Anti. Dia menanyaiku tentang kejadian barusan. Aku hanya menjawab singkat. Coco duduk kembali di belakangku. Sampai latihan PMR berakhir, kami tidak bicara satu sama lain.
Ketika pulang latihan, dia sempat menawarkan untuk mengantarku pulang. Tapi kutolak karena Aldi sudah menawarkan lebih dulu.
“Vi..mau kuantar pulang?”tanya Coco.
“Maaf Co..aku pulang bareng Aldi”
“Oh..gitu ya..oke..hati-hati ya”
Aku mengangguk pelan. Lalu Aldi mendekatiku.
“Kita pulang sekarang kak?”
“Iya”
Sempat ada rasa kecewa di hatiku, kenapa aku mesti menolak tawarannya. Sudah lama sekali kami tidak pulang bersama. Ini adalah momen langka yang sudah kunantikan sejak lama. Tapi apa mau di kata. Aku sudah terlanjur menerima ajakan Aldi.
Saat kulihat Coco pulang sendiri, rasa-rasanya aku ingin menangis. Aku merasa sedih untuknya. Maafkan aku Co!!