
Di akhir semester 2, PMR sekolahku selalu melaksanakan perkemahan 2 hari dalam rangka Evaluasi Pengangkatan Senior PMR (EPSP), sebuah acara semacam pembantaraan jika dalam Pramuka. Kegiatan pengangkatan senior baru.
Biasanya acara ini dilaksanakan untuk melantik senior periode berikutnya. Berhubung selesai semester 2, kami para senior akan naik ke kelas XII. Maka kami adakan pengangkatan senior baru untuk menggantikan kami. Pergantian kepengurusan dari senior PMR lama kepada senior PMR baru.
Sebelumnya kami survei lokasi EPSP itu. Ada beberapa alternatif tempat yang bisa kami gunakan. Tetapi kriteria utama lokasi adalah lapangan terbuka yang tidak terlalu jauh dari rumah penduduk. Yang dekat dengan aliran sungai dan lokasinya juga bisa menunjang semua aktivitas kami.
“Siapa aja nih yang ikut survei?”tanya Nisa.
“Aku ikut ya?”
“Aku juga ikut”ucap Arsy lalu mencoba merangkulku sambil cengar cengir. Anak itu masih saja usil. Meskipun kini kami berbeda kelas.
“IIhhh..Ga usah pegang-pegang deh Ar..udah kamu jauh-jauh sana”ucapku sambil berusaha menyingkirkan tangan Arsy.
“Siapa juga mau pegang..ada kutu tuh di bajumu”ledek Arsy
“Kutu apaan? Aku ga punya kutu. Rambutmu itu yang banyak kutu”
“Menghina kamu”ucap Arsy tak terima
“Rambut bagus gini dibilang banyak kutu”ucap Arsy sambil menyibak rambutnya ke belakang ala model iklan shampoo.
“Eh..Ar..ini apaan?”tanya Coco sambil memungut sesuatu di bagian punggung Arsy.
“Apaan?”tanya Arsy sambil menoleh kebelakang.
“Oo..cuma semut..kirain kutu”ucap Coco enteng
“Hahahahaha”aku dan beberapa teman—teman tertawa mendengar ucapan Coco. Apalagi tadi ekspresi Arsy yang penasaran, lucu sekali.
“Hahaha..lucu ya? Ketawa aja terus sampai bibirmu kering”sindir Arsy yang tak terima ditertawakan.
Coco lalu memberi isyarat padaku untuk pindah kursi kosong yang tak jauh dari dirinya. Karena aku tak mau dekat-dekat Arsy, makanya aku memilih pindah kursi.
“Minggir kamu”
“Mau kemana Vi?”tanya Arsy begitu melihat aku berdiri dari kursiku
“Pindah kursi..takut kutumu terbang ke rambutku”godaku pada Arsy
“Aku ga ada kutu ya..dah dibilangin ga ada kutu”ucap Arsy dengan nada kesal.
Aku biarkan Arsy ngomel-ngomel sendiri. Aku duduk di kursi kosong yang tadi ditunjukkan Coco dengan isyarat matanya tadi. Coco ternyata malah duduk disampingku. Jadilah kami duduk berdua.
“Sudah..sudah..kutu aja jadi masalah. Jadi siapa aja nih yang mau ikut survei, angkat tangan?”perintah Aryo selaku ketua EPSP
Aku, Coco, Arsy, Bila, Nisa, Denise, Aryo dan Arman yang setuju ikut survei. Sementara Dani dan teman-teman pengurus yang lain tidak ikut karena jadwal survei bertepatan dengan jadwal ulangan. Jadi mereka terpaksa tidak ikut survei. Biasanya waktu survei kegiatan seperti ini kami manfaatkan untuk sekalian jalan-jalan. Karena kami bisa keluar sekolah dan seharian tidak ikut pelajaran. Itulah salah satu “keuntungan” menjadi pengurus organisasi. Kami bisa ijin untuk rapat kegiatan, padahal sebenarnya rapatnya hanya 10 menit, sisa waktu yang lain, kami pakai untuk jajan dan bolos pelajaran. Itulah “kenakalan” pengurus PMR angkatanku. Memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Jangan ditiru ya!! hahahaha…
Keesokan harinya, saat tiba waktunya survei kegiatan EPSP, aku dan teman-teman dari pagi sudah ijin tidak mengikuti pelajaran. Kami berganti baju dari seragam sekolah menjadi seragam PMR. Kami semua berkumpul di lapangan sepakbola.
“Dah siap semua? Ga ada yang ketinggalan kan?”tanya Aryo memastikan
“Dah..ayo berangkattttt!”seru Arsy bersemangat.
“Kita naik motor apa mobil nih?”tanya Coco.
“Kamu bawa mobil Co?”aku menoleh ke arah Coco
“Mobilku sama Aryo kayaknya cukup. Cuma delapan orang kan?”tanya Coco
“Naik motor aja..lebih seru”ajak Arman
“Iya..motoran aja”sahut Denise
“Halahh..itukan akal-akalanmu aja biar bisa boncengan sama Arman. Dasar modus emang kalian ini”
“Lha emang ada berapa motor?”tanya Nisa
“Kayaknya sih cukup..motorku 1, Arman 2, Nisa 3, Bila 4..Pas kok motor 4”ucap Arsy sambil mensensus jumlah motor yang ada.
“Oke deh..motoran aja ga papa”jawab Aryo.
Akhirnya kami motoran. Aku dengan Coco. Arsy dengan Bila. Nisa dengan Aryo. Denise tentu saja dengan Arman. Awalnya Arsy mengajakku ikut dengannya, tapi Bila keburu memberikan kunci motornya pada Coco dan Coco sudah mengajakku dulu.
“Aku udah diajak Coco tu Ar..maaf ya..kamu sama Bila aja ya”
“Ya udah deh”ucap Arsy. Aku lihat ekspresi wajah Arsy jadi beda setelah mendengar ucapanku.
Aku dan Coco berangkat terakhir karena sebelum berangkat, Coco mengambil hoodie-nya dulu di mobil. Kupikir hoodie itu untuk dipakainya sendiri ternyata hoodie itu malah diberikan padaku.
“Pakai ini”ucap Coco sambil menyerahkan hoodie itu padaku
“Hah?”aku bingung dia memberiku hoodie-nya.
“Biar ga masuk angin”ucapnya enteng
“Apa ga kebalik? Harusnya kamu yang pakai dong..aku kan bonceng dibelakang?”
“Aku kan bawa ini” Dia menunjukkan padaku tas ranselnya yang dipakai di depan.
“Ayo buruan pake..kita nanti bisa-bisa ditinggal temen-temen”
Akhirnya dengan terpaksa aku pakai juga hoodie abu-abu itu. Aroma parfum di hoodie itu benar-benar wangi. Aroma tubuh Coco. Aroma parfum yang sama yang kucium wanginya saat di perpustakaan waktu itu. Berasa lagi meluk tubuh Coco…hahahaha..dasar halu!
Aku pun duduk membonceng di belakang. Awalnya kami berdua agak canggung. Berboncengan berdua seperti itu. Karena walaupun Coco sering mengantarku pulang, tapi kan posisi dudukku tidak seperti sekarang. Karena sehari-hari memakai rok ketika sekolah, maka aku membonceng menyamping. Sementara hari itu, karena memakai celana, tentu saja aku duduk menghadap ke depan. Aku pun duduk sedikit berjarak dengannya. Aku juga hanya berpegangan pada tali pada tas ranselnya saja.
Sampai di gerbang sekolah, teman-teman yang sudah menunggu lama memarahi kami berdua.
“Kalian lama banget sih? Ditungguin juga”gerutu Denise
“Iya..lama banget. Keburu sore nanti pulangnya”tambah Bila
“Iya..iya..maaf”jawabku meminta maaf.
“Cieeee..Vivi pakai hoodie siapa tuh?”goda Nisa
“Woalah..rupanya tadi pakai hoodie Coco dulu ya Vi..makanya lama”Denise menambahi.
“Udah..udah..ayo berangkat”ucap Arsy ketus. Wajahnya juga kelihatan jutek banget.
Akhirnya kami berdelapan pun berangkat. Sepanjang perjalanan menuju lokasi EPSP aku dan Coco ngobrol terus dijalan. Bahkan sambil bercanda. Sesekali saat kami sampai di lampu merah pasti dia akan mengerem mendadak motor Bila. Sehingga aku pasti terdorong ke depan.
“Ckiiittttt”suara motor direm
Aku yang terdorong ke depan, menabrak punggungnya yang lebar. Refleks saja aku memukul dia karena ulah usilnya itu.
“Iiihhh..Coo..nyetirnya yang bener dong..jangan ngerem mendadak gitu..aku kan kaget”keluhku
“Hahaha..”dia malah tertawa
“Kamu sengaja ya biar aku nabrak kamu?”
“Hei ngawur..lihat itu, lampunya merah..ya direm lah motornya..kalo nylonong terus, ditangkep polisi”alasannya.
“Huhh..alesan”
Di lampu merah itu, aku lihat teman-temanku Bila, Denise, dan Nisa tanpa sungkan duduk merapat pada Arsy, Aryo dan Arman yang memberi mereka boncengan.
“Makanya Vi..pegangan yang kuat..kayak gini lhoo”ucap Denise yang motornya disampingku sambil menunjukkan pegangannya di pinggang Aryo. Aku tentu saja menatap sinis dua manusia yang baru seneng-senengnya jalan berdua itu.
Ya jelas kalian berani..kalian kan emang sama-sama suka. Baru seneng-senengnya PDKT.. apa kabar jiwa jombloku yang ngenes ini? Diboncengin Coco gini aja udah berasa spot jantung, keringat dingin..Disuruh pegangan kayak gitu..bisa pingsan nanti akunya..
Setelah lampu berganti warna, kali ini Coco seperti sengaja tancap gas mendadak hingga membuatku hampir saja jatuh ke belakang saking tidak siapnya. Untung saja, aku tidak jatuh. Aku pukul lagi punggungnya karena kelakuan usilnya hampir saja mencelakaiku.
“Uweeennggggg”
“Co..pelan-pelan..aku hampir jatuh”gerutuku sambil kucubit pinggangnya.
“Hahaha..makanya pegangan yang bener”
“Mau pegangan gimana?”
“Tuh kayak Bila tuh”ucapnya enteng
Spontan aku pukul lagi punggungnya karena sudah memberi ide konyol yang tak mungkin aku lakukan. Gampang banget dia ngomongnya.
Aku? Disuruh pegangan kayak gitu? Ga mungkin lah..Sama temen sendiri juga ga mungkin lah..kecuali kalo dia udah jadi pacarku, baru aku mau, hahahahahaha..