
Dua hari sebelum pertunangan Coco dan dokter Caroline, aku diajak dokter untuk menemaninya mencoba gaun yang akan dikenakannya di hari bahagianya. Karena kesibukannya yang sangat menyita waktu, makanya dokter baru bisa mencobanya H-2 acara.
“Vi..nanti kamu off dulu ya..temani aku ke butik”
“Butik dok?”
“Iya..temani aku untuk mencoba gaun pertunanganku nanti. Aku malas kalo pergi sendiri”
Memangnya Coco tak mau mengantarnya? Bukankah sebentar lagi mereka akan menjadi pasangan? Kenapa malah mengajak aku ya?
“Tunangan dokter ga mau nemenin?”tanyaku pelan-pelan karena takut menyinggungnya.
Dokter malah tersenyum.
“Calon tunangan”ucapnya sambil tersenyum
“Oh iya..maksud saya itu”
“Coco sibuk. Dia baru dapat proyek besar. Makanya aku minta kamu temenin, kamu mau ya?”ucapnya sambil memasang wajah memelas membuatku tak tega untuk menolak permintaannya.
“Baiklah dok”jawabku
Dokter yang mendengar jawabanku langsung memeluk tubuhku.
“Terimakasih ya Vi”
“Iya dok..sama-sama”
Akhirnya aku dan dokter Caroline berangkat bersama menuju sebuah butik yang khusus menjual gaun-gaun pesta yang sangat indah. Gaun yang biasa dipakai untuk acara pesta, pertunangan ataupun pernikahan.
Sampai di sana, dokter ditemani seorang pramuniaga butik, berkeliling butik memilih di antara deretan gaun yang ada di sana. Kulihat dokter sibuk membolak-balik beberapa gaun yang terpajang. Melihat detail gaunnya. Aku hanya menemaninya di belakangnya.
“Vi..kalo kamu mau lihat-lihat ga papa lho”ucap dokter padaku
Akhirnya aku memilih meninggalkan dokter yang sibuk berkonsultasi dengan pramuniaga di sana. Kulangkahkan kakiku menyusuri deretan gaun-gaun indah yang terpajang di mannequin. Gaunnya sangat indah.
Kapan aku akan memakai gaun seperti ini lagi? Sudah lama sekali aku tak memakai gaun-gaun seperti ini sejak terakhir mengikuti kontes prince and princess enam tahun lalu. Kenapa setiap mengingat kenangan itu hatiku sedih begini? Tentu saja karena kenangan itu adalah kenanganku bersama Coco.
Kulihat lagi sosok dokter Caroline yang masih juga berdiskusi dengan pramuniaga butik.
Akhirnya aku malah mengantar calon pendamping hidup Coco, lelaki yang sangat kucintai. Aku mengantarnya memilih gaun yang akan dikenakannya di hari bahagianya bersama Coco.
Kenapa cerita cintaku terasa sangat miris? Aku, mantan pacar Coco mengantar calon pendamping hidup Coco..
Sudahlah..bukankah aku sudah mengucapkan selamat tinggal pada Coco dalam hatiku? Anggap saja semua ini demi persahabatan lama kami.
“Kenapa melamun?”suara itu langsung membuyarkan lamunanku
Aku spontan menoleh. Rupanya Coco sudah berdiri di sampingku dengan senyum yang tersungging di wajahnya sambil menatap dokter Caroline
Sejak kapan dia di situ? Kapan dia datang? Aku tak tahu Coco ada di sampingku. Aku benar-benar malu.
Dokter Caroline yang melihat kedatangan Coco langsung tersenyum sambil melambaikan tangannya. Coco juga langsung menghampiri dokter. Sekali lagi mereka berdua menunjukkan kemesraannya tepat di depanku. Coco mencium pipi dokter.
Aku memilih membalikkan badanku.
Kenapa masih susah bagiku melihat dia bersama dokter? Ayo lah hatiku! Berusahalah..Buang jauh-jauh rasa cemburu itu dari hatiku ini..
Aku menghela nafas perlahan untuk menenangkan pikiran dan hatiku yang selalu saja diselimuti rasa cemburu ketika melihat dia dan dokter bermesraan.
“Vi..kemarilah”dokter memanggilku.
Apa lagi ini?
Aku pun berjalan ke arah dokter dan Coco. Kulihat dokter sudah membawa sebuah gaun di tangannya.
Tiba-tiba gaun itu malah diarahkan ke tubuhku. Tentu saja aku bingung. Kulihat dokter juga tampak sedang berpikir.
“Coba kau pakai ini”
“Apa dok?”tanyaku bingung
“Kau coba ini”
“Sebenarnya setelah ini aku ada meeting dengan teman dokterku di RS XX. Kalo aku harus nyobain gaun-gaun ini, aku ga punya waktu. Badan kita kan ga terlalu beda jauh. Kamu mau ya Vi gantiin aku nyobain gaun itu, mau ya?” pinta dokter
Whatt? Jadi tujuan aku diajak supaya aku jadi kelinci percobaan dokter nyobain gaun pertunangannya gitu?
Aku ingin sekali menolaknya, tapi melihat wajah dokter yang memelas malah membuatku sekali lagi tak tega menolak permintaannya. Apalagi aku juga paham, kesibukan yang dialami seorang dokter. Aku hanya bisa tersenyum dengan senyum yang sangat kupaksakan.
“Baiklah dok”
Dokter lagi-lagi memeluk tubuhku.
“Terimakasih Vivi..kamu memang yang terbaik”
Kulihat Coco menatapku sekilas. Dia tak berkomentar apa-apa. Membuat aku hanya bisa menyeret kaki-kakiku menuju ruang ganti di antar seorang pramuniaga butik.
Kucoba gaun pertama yang disodorkan dokter padaku. Gaun mermaid off shoulder warna putih dengan hiasan besar di bagian dada. Dengan ekor memanjang. Sayangnya gaun ini memiliki belahan samping lumayan tinggi hingga membuat pahaku terekspos. Aku merasa tak nyaman dengan gaun yang dipilih dokter ini.
Ketika aku keluar dari ruang ganti. Aku bingung bagian dada atau bagian pahaku yang harus aku tutupi. Karena keduanya sama-sama terbuka. Aku hanya bisa menghembuskan nafasku dengan kasar.
Sampai di tempat dokter dan Coco, aku yang malu sangat tak nyaman dengan tatapan keduanya. Terlebih tatapan Coco.
“Kau cantik sekali Vi”puji dokter
Aku hanya bisa tersenyum.
“Gimana Co? Kalo aku pakai gaun itu saat pertunangan kita?”tanya dokter pada Coco.
Aku semakin malu saat Coco sekali lagi menatapku. Kulihat dia menggelengkan kepalanya.
“Gaunnya ga bagus. Ganti yang lain saja”ucap Coco sambil melengos
“Begitu ya? Coba aku cari lagi ya.. Bentar ya Vi..calonku ga mau aku pakai itu. Maaf ya?”ucap dokter sambil tersenyum lalu sibuk mencari gaun yang lain.
Dokter kemudian menyodorkan gaun kedua. Aku kembali ke ruang ganti. Gaun kedua ini sebenarnya bagus. Warnanya yang light grey dengan hiasan manik-manik membuat penampilanku terlihat elegant. Apalagi pada bagian roknya terbuat dari tumpukan kain tule yang membuat dress ini terlihat sangat indah. Style gaun pesta satu ini memiliki model sleeveless dan v-neck yang cukup rendah. Sekali lagi membuat belahan dadaku terlihat jelas. Kakiku juga terlihat menonjol dengan belahan yang cukup tinggi pada dress ini. Apalagi gaun ini bagian belakangnya backless. Lengkap sudahlah bagian tubuhku yang terekspos karena gaun ini.
Aku ragu saat harus keluar dari ruang ganti.
“Masih lama Vi?”tanya dokter
“Ah iya..sudah dok”
Aku pun keluar dari ruang ganti. Aku berjalan ke arah dokter dan Coco yang sedang asyik mengobrol. Saat keduanya melihat kedatanganku, mereka menoleh bersamaan ke arahku. Membuat aku malah salah tingkah. Dokter menatapku sambil tersenyum lebar. Sementara Coco masih menatapku tanpa ekspresi apapun.
Dokter mendekatiku.
“Ini aja ya Co?”tanya dokter pada Coco
Coco diam saja. Ekspresinya datar saat menatapku.
“Gimana? Bagus ga?”tanya dokter lagi.
“Suruh dia berputar”perintah Coco
“Coba kamu muter Vi”pinta dokter padaku
Aku pun menurut saja. Aku berputar satu putaran. Setelahnya Coco malah melengos lagi.
“Ganti..ganti”ucap Coco sedikit kesal
Kenapa aku mesti ikutan pusing dengan gaun yang dipakai dokter sih? Kenapa mereka tidak mendiskusikannya berdua saja? Kenapa harus membawa aku juga?
Lama-lama aku jadi jengkel juga. Ini yang tunangan siapa sebenarnya? Malah aku yang harus bolak-balik ganti gaun. Membuatku mengerucutkan bibirku karena jengkel dengan kelakuan dua manusia yang katanya mau tunangan itu.
“Maaf ya Vi”dokter mengatupkan kedua tangannya di depan wajahnya memohon padaku.
Dan untuk kesekian kalinya aku mesti luluh melihat wajah dokter yang memelas.
Kenapa aku selemah ini? Kenapa aku tak bisa menolak saja? Kenapa? Apa karena aku masih ingin melihat Coco dari dekat? Entahlah..
Aku pun kembali ke ruang ganti untuk ketiga kalinya dengan sebuah gaun yang sudah dipilih dokter sebelumnya. Semoga setelah gaun ini aku bisa segera pulang.