
Aku sempat syok, karena Aldi tiba-tiba mengiyakan ucapan teman-teman, kalo dia adalah pacarku.
“Ada apa ini sebenarnya?” tanya Aldi
Mendengar Aldi mengiyakan, ekspresi wajah kak Diana cs berubah. Seperti orang yang kecele.
“Ehmm..maaf ya Vi..kalo aku udah nuduh kamu yang enggak-enggak..Aku harap gossip antara kamu dan Sandy bisa segera mereda..oke..kami pergi dulu”ucap kak Diana pamit.
Kak Diana cs pun pergi meninggalkan aku dan teman-teman.
“Siapa cewek itu?”tanya Aldi dengan ekspresi bingung lalu duduk disampingku.
“Udah ga usah dipikirin..Cuma salah paham..kalian mau minum apa? Aku pesankan dulu”jawabku mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Siapa Sandy?”tanya Agus
“Itu..kakak tingkat di kampus yang naksir Vivi”jawab Lala sambil menyeruput minumannya.
Aldi langsung menoleh ke arahku. Tatapan matanya seolah menuntun penjelasanku. Membuatku salah tingkah.
“Terus yang barusan itu siapa?”tanya Benny
“Itu ceweknya..mereka tadi kesini nglabrak si Vivi..enak aja mereka main nuduh, bilang Vivi yang udah nyebarin gossip kak Sandy sama Vivi udah jadian..ya aku ga terima lah.. orang di sini Vivi yang jadi korban malah dituduh macam-macam..bikin emosi”sungut Chika penuh kemarahan.
“Bener ada gossip kayak gitu?”tanya Aldi padaku
Aku hanya bisa mengangguk.
“Untung tadi kalian datang tepat waktu..jadi kak Diana bisa lihat sendiri dengan mata kepalanya kalo Vivi tuh dah punya pacar, jadi ngapain ganggu- ganggu kak Sandy”seloroh Lala
“Iya bener..kalian tadi datengnya paaaaas banget”tambah Chika dengan ekspresi wajah yang meyakinkan
“Maaf ya..kamu jadi kebawa-bawa masalah ini”ucapku pada Aldi.
Aku merasa tak enak hati karena Aldi harus ikut terbawa dalam masalah yang aku hadapi.
“Kamu juga sih Vi..coba kamu lebih tegas sama kak Sandy..pasti ga ada gossip kayak gini”protes Chika
“Kok jadi aku yang salah? Aku kan sama kak Sandy biasa aja..kalian kan juga lihat aku gimana sama kak Sandy”jawabku tak terima disalahkan.
“Tapi semua orang juga bisa lihat kali Vi..kalo kak Sandy tuh naksir berat sama kamu”tambah Lala
“Emang seperti apa sih si Sandy ini ? jadi penasaran”tanya Benny
“Hei Al, masak kamu diem aja sih lihat Vivi dideketin cowok lain”pancing Agus
“Kamu jangan ngompor-ngomporin ya Gus..udah dibilang aku ga ada apa-apa sama kak Sandy”
Aku menoleh ke arah Aldi. Wajahnya tumben memerah. Ekspresinya juga seperti orang yang sedang marah. Membuatku jadi merasa bersalah. Untuk mengalihkan pembicaraan, aku akhirnya memilih memesankan mereka bertiga minuman.
“Udah ga usah dibahas lagi..aku pesenin minum ya? Kalian mau minum apa?”tanyaku
“Es teh aja deh Vi sama siomay”jawab Agus
“Oke..kamu Ben?”tanyaku pada Benny
“Sama deh”jawab Benny
“Kamu Al, mau pesen apa?”tanyaku pada Aldi
“Sama”jawab Aldi singkat. Ekspresi Aldi jika marah mengingatkanku saat Coco marah dulu.
Coco? Ah..kenapa malah kepikiran Coco lagi sih?
Aku pun berjalan menuju salah satu warung makanan yang menjual es teh dan siomay.
Sesekali aku menoleh ke arah mejaku. Kulihat Chika, Lala dan Aldi cs ngobrol seru banget. Pasti mereka masih membahas masalah tadi.
Waktu menunggu gilliranku memesan pada pelayan warung, tiba-tiba saja kak Sandy sudah di sampingku.
“Mau pesen apa Vi?”tanya kak Sandy
Aku pun menoleh ke samping. Kak Sandy tersenyum ke arahku. Aku pun membalas senyumnya.
“Ini kak, pesen minum sama siomay buat temen-temenku”
Belum sempat aku menjawab pertanyaan kak Sandy, tiba-tiba Aldi sudah berdiri di sampingku lalu menggenggam pergelangan tanganku. Aku tentu saja kaget dengan sikap Aldi ini, karena dia tak pernah menyentuhku sebelumnya. Aldi menarikku sehingga aku berdiri di sampingnya dengan tanganku yang masih digenggamnya.
Kak Sandy yang melihat kehadiran Aldi, wajahnya langsung berubah. Secara fisik, aku akui Aldi lebih menarik dari kak Sandy. Aldi juga lebih tinggi dan smart juga.
“Maaf..kamu yang namanya Sandy?”tanya Aldi pada kak Sandy
Aku kaget karena Aldi memanggil kak Sandy, hanya namanya saja. Padahal jelas-jelas dia lebih tua dari kami berdua.
“Al, jangan ga sopan”ucapku pada Aldi memperingatkan Aldi.
“Siapa ini Vi?”tanya kak Sandy padaku
“Aku pacar Vivi”jawab Aldi tiba-tiba. Membuatku kaget.
“Al?”
Wajah kak Sandy kulihat juga langsung berubah. Jika sebelumnya dia masih tersenyum, sekarang senyumnya berubah.
“Aku ga tau ada masalah apa antara Vivi dan Diana, cewek yang tadi ngelabrak Vivi..tapi aku minta kamu bisa membereskan kesalahpahaman dan gossip aneh di kampus kalian. Aku tak suka pacarku dibawa-bawa dalam masalah antara cewek tadi dengan Anda”ucap Aldi.
Entah kenapa, Aldi yang marah ternyata sangat mengerikan. Menyeramkan. Dia yang biasanya menyenangkan dan murah senyum. Ternyata jika sudah marah, seperti singa kelaparan. Mengerikan. Mirip Coco
dulu.
Coco lagi? Kenapa aku selalu menyamakan Aldi dengan Coco? Hentikan Vi..sudah hentikan..
Aldi lalu menoleh ke arahku.
“Kamu duduk sana, biar aku yang antri”pinta Aldi padaku sambil mendorong tubuhku menjauh dari mereka berdua.
Sampai di mejaku, Chika langsung menarik tanganku.
“Tadi kak Sandy diapain Aldi?’tanya Chika penasaran
“Kamu ngomong apa sih Chik sama Aldi, aku sampe takut lihat wajahnya pas marah gini”
“Ga ngomong apa-apa..ya kan La?”
Lala hanya mengangguk.
“Bohong”
“Aldi Cuma tanya Sandy tuh yang mana? Eh..kebetulan banget kak Sandy malah nongol. Aku tunjuk aja, “tuh yang lagi nyamperin Vivi”, terus Aldi langsung nyamperin kamu tadi”jawab Chika
“Jadi itu yang namanya Sandy?”tanya Benny
“Iya..idola di kampusku”jawab Lala
“Kamu juga suka Sandy itu?”tanya Agus pada Chika
“Enggak lah..dia mah bukan tipeku”jawab Chika
“Terus tipemu yang kek gimana?”tanya Agus
“Ngapain kamu nanya-nanya..yang jelas bukan kamu lah”sungut Chika emosi
“Aku kan Cuma nanya, kenapa malah nyolot?”balas Agus emosi
Dan akhirnya Chika dan Agus yang malah berantem. Lagi. Mereka berdua tuh setiap ketemu pasti berantem. Heran deh..
*
*
*
*
Masalah dengan kak Sandy dan kak Diana akhirnya terselesaikan. Setidaknya gossip antara aku dan kak Sandy sudah tidak seperti dulu lagi. Semuanya karena Aldi sudah membantu menyamar jadi “pacar”ku. Walaupun aku sebenarnya tidak enak hati, karena Aldi ikut terbawa dalam masalah itu.
Menginjak tahun ketiga kuliah, aku semakin dipadatkan dengan jadwal praktek keperawatan. Jadwal kuliah dan praktek Aldi juga semakin padat. Membuat intensitas pertemuan kami berkurang. Kami hanya bisa video call. Itupun saat hari sudah malam. Kehadiran Aldi telah membuatku menyadari betapa kesepiannya diriku. Meskipun di kelilingi orang-orang yang menyayangiku, keluarga dan sahabat-sahabatku, tapi ada ruang dalam hatiku yang terasa kosong. Ruang yang telah ditinggalkan Coco tiga tahun lalu. Sampai saat itu pun, ruang itu masih tetap kosong.
Setiap kali aku mencoba membuka hatiku untuk cinta yang baru, seperti ada yang menarikku menjauh. Aku masih takut untuk mencintai lagi. Rasa sakit kehilangan seseorang yang sangat berarti bagiku telah meninggalkan luka yang dalam yang membekas kuat dalam hatiku. Aku tak bisa melupakan semua luka itu. Bahkan rasa sakitnya masih dapat kurasakan. Dan rasa itulah yang membayang-bayangi hubunganku dengan Aldi.