Stuck With My First Love

Stuck With My First Love
Kunjungan Perdana ke Rumah Coco



Keesokan harinya,


Setelah pulang sekolah, aku Anti Coco Dedi dan Daniel berangkat berempat ke rumah Coco. Daniel yang walaupun tak sekelas dengan kami, memang suka ikutan. Sebelumnya, aku dan Anti berganti baju dulu di toilet sekolah.


“Kalian mau kemana? Ga langsung berangkat aja?”tanya Coco


“Tungguin bentar ya..aku sama Anti ganti baju dulu”jawabku


“Hei, ngapain ganti baju. Kita kan mau kerja kelompok”keluh Coco


“Ya iya masak kita pake seragam..ga asyik banget. Tungguin bentar ya. Sepuluh menit”kataku


“Bener Co..kita Cuma ganti baju bentar doang kok”sahut Anti


“Sepuluh menit? Kelamaan. Keburu sore nanti selesainya”protes Coco


“Udah lah Co..Cuma sepuluh menit juga. Kita tunggu mereka di kantin”tutur Dedi


“Tuh..Dedi aja paham. Kamu kenapa sih Co?”gerutuku


“Udah Vi..An..kalian ganti baju sana. Kita tungguin di kantin”Dedi dan Daniel langung merangkul Coco dan mengajaknya ke kantin


Aku dan Anti langsung berlari ke toilet sekolah.


“Pacarmu tuh ga peka banget deh Vi?”goda Anti.


Saat hanya berdua denganku, Anti selalu menyebut Coco “pacarku”. Mendengar ucapan Anti, aku langsung menoleh ke kanan dan ke kiri. Aku takut ada yang mendengar percakapan kami.


“Hehehe..kenapa? Ga ada orang kali. Tenang aja”ucap Anti sambil menertawakan kepanikanku.


“Ngawur kamu An..kalo sampe ada yang denger gimana lho?”gerutuku


“Ga usah panic gitu..biasa aja”jawab Anti


Akhirnya kami sampai di toilet sekolah. Aku dan Anti memang sengaja membawa baju ganti karena kami berdua sama-sama ga nyaman jika setelah seharian pakai seragam sekolah lalu harus kerja kelompok yang mungkin sampai sore dengan masih memakai seragam. Aku dan Anti sepakat membawa baju ganti. Hari itu aku memakai atasan putih dan celana jeans. Sementara Anti memakai atasan kaos turtle neck warna cream dipadu dengan celana jeans. Penampilan Anti sudah seperti anak kuliahan. Apalagi dengan rambut panjangnya yang digerai, “calon kakak iparku” ini memang cantik.


“Busyettt..ckckck”ucapku begitu keluar toilet sekolah dan melihat Anti yang sangat cantik.


“Kenapa?”Anti kebingungan melihat ekspresiku


“Pantes kak Ilham ga kedip-kedip..kamu pelet gini..mana berani dia cari cewek lain di kampus”godaku


“Dasar! Kirain kenapa? Awas aja kalo dia main cewek di kampus”ucap Anti


Aku dan Anti kemudian sedikit memakai bedak dan lipgloss untuk menunjang penampilan kami. Ga lucu kan, udah cantik-cantik tapi wajahnya pucat. Aku dan Anti berganti baju lebih dari sepuluh menit karena kami terlalu asyik berdandan.


Keluar dari toilet,


“Ya Allah..ihh.. Coco ngapain kamu berdiri di sini sih? Bikin kaget aja”keluhku


Coco dengan kedua tangannya dilipat di depan dada. Wajahnya juga tampak kesal. Dia hanya diam, tapi aku tahu dia pasti sedang marah. Tatapan matanya yang sangat tajam padaku malah membuatku serba salah. Karena Coco yang marah malah terlihat seksi di mataku. Ohh..tidakkk..apa-apaan aku ini!!!


Coco diam saja lalu meninggalkan kami berempat. Aku yang bingung, menoleh pada Dedi dan Daniel.


“Coco kenapa sih?”tanyaku


“Udah susul aja..daripada nanti kita semua yang kena damprat. Dari tadi dia udah uring-uringan terus”


“Gitu ya..oke..aku susul dia. Kalian nyusul ya?”


“Oke”


Aku segera berlari mengejar Coco yang sudah jauh meninggalkan kami. Aku sampai harus berteriak-teriak supaya dia mau menghentikan laju langkahnya yang kalo sedang marah bertambah cepat. Akhirnya Coco sampai di tempat parkir duluan. Dia sudah duduk di motornya. Aku yang masih ngos-ngosan harus mengatur nafas dulu.


“Kamu..cepet banget sih.. jalannya.. huh.. huh.. aku sampe lari..”kataku masih ngos-ngosan


Dia hanya menatapku. Entah kenapa tatapannya kali ini malah membuat aku tambah salah tingkah. Tatapan matanya sudah beda dari saat dia marah tadi. Dia yang memeluk helmku dengan matanya terus menatapku.


“Kenapa kamu ngliat aku kayak gitu?”tanyaku


Dia hanya tersenyum, lalu memakaikan helmku ke kepalaku.


“Udah..ayo naik”ucapnya


Aku hanya cemberut. Daripada Coco marah lagi, akhirnya aku pun naik motornya. Coco kemudian memakai helm besarnya dan mulai menyalakan mesin motor besarnya. Motor melaju dengan kecepatan sedang, lalu berhenti sebentar di depan teman-teman.


“Kalian nyusul ya..aku duluan”ucap Coco pada Dedi Daniel dan Anti.


“Aku duluan ya”ucapku


Aku dan Coco segera tancap gas dan meninggalkan teman-teman.


Di tengah perjalanan,


“Co?”


“Hemmm”


“Orangtuamu udah tau kalo kita mau kerja kelompok di rumahmu?”tanyaku


“Orangtuaku ga pernah dirumah. Tenang saja”jawabnya


“Kenapa?”tanyaku penasaran


“Mereka kerja di luar kota. Sabtu atau minggu biasanya mereka baru pulang”


“Terus kamu di rumah sama siapa?”


“Nanti juga tahu”


Akhirnya kami sampai di depan rumah Coco. Seorang satpam yang tahu kehadiran majikannya segera membukakan pintu gerbang. Aku menganggukkan kepala pada pak Satpam.


Aku benar-benar takjub melihat rumah Coco yang besar dan megah. Rumahnya bergaya Eropa dengan tiang-tiang besar di depan rumahnya. Terlihat sangat indah.


Dari pintu gerbang menuju rumah depan lumayan juga rupanya. Sampai di bagian depan rumah, Coco mematikan mesin motornya dan melepas helmnya. Aku pun segera turun dari motor dan melepas helmku. Aku memandang taman Coco yang memang luas dan tertata rapi. Sebuah kolam air mancur besar ada di tengah taman. Menambah keindahan taman yang dihiasi beberapa tanaman dan bunga-bunga yang indah.


“Rumahmu besar banget Co? Berapa luasnya?”tanyaku


“Ga tau..itung aja”jawabnya enteng


“Hisshhh”Aku mendesah kesal mendengar jawaban Coco. Dia hanya tersenyum melihatku.


“Ayo masuk”ajak Coco


Aku pun mengikuti Coco dibelakangnya.


Seseorang langsung membukakan pintu untuk kami. Aku sempat kaget karena kami belum mengetuk pintu.


“Siang mbak”


“Selamat siang Ko”jawab seseorang yang sepertinya adalah ART Coco


“Selamat siang"aku mengucap salam pada ART Coco


“Selamat siang non”


Aku dan Coco masuk ke dalam rumah. Sumpahh..rumah Coco bagus banget. Furnitur-furnitur didalam rumah juga kelihatan mahal-mahal. Namanya juga orang kaya.


“Duduk Vi”


“Ah..iya.makasih”aku duduk di kursi sofa di ruang tamu.


Rumah Coco sangat besar, tapi kelihatannya ga banyak orang karena sepi.


“Aku ke atas dulu ya..mau ganti baju”


“Oke”


“Beranikan sendiri?”


“Maksudmu?”


“Ya..siapa tau aja kamu takut, hahaha”


Dia pergi ke lantai dua ke kamarnya untuk ganti baju.


“Mau minum apa non?”tanya Mbak Intan, ART Coco yang membukakan pintu tadi


“Apa aja boleh..terimakasih”


“Baik..saya ambilkan dulu”


Akhirnya aku sendiri di ruang tamu besar itu. Karena teman—teman tak kunjung datang, Coco juga baru ganti baju, aku pun berjalan-jalan sambil mengamati ruang tamu Coco yang memang besar dan bagus. Jendelanya dihiasi tirai besar berwarna gold, karena jendelanya juga sangat besar.  Sebuah lampu hias besar ada di tengah ruangan. Sebuah lukisan besar juga ada di sana. Nuansa gold dan cream mendominasi ruang tamu. Lantai marmernya besar dan sangat artistik. Sebuah karpet besar yang desainnya sangat indah dan empuk juga halus ada di ruang tamu itu.


Ketika aku sedang melihat-lihat ruang tamu, seseorang menepuk pundakku. Membuatku kaget dan menoleh dengan cepat.


“Iihhh..Coco..ngagetin aja”


“Hahahaha..kenapa? takut?”


Aku memegang dadaku. Coco benar-benar membuatku kaget.


“Kamu sih dateng ga ada suara..tau-tau nepuk pundak. Siapa yang ga kaget coba?”gerutuku


“Hahahaha”Coco mengacak-acak rambutku.


“Coo”aku singkirkan tangannya dari rambutku


Ditengah percakapan kami, teman-teman rupanya sudah datang.


“Jadi kerja kelompok ga nih?”tanya Dedi begitu melihat kami berdua.


“Eh..kalian udah dateng..Lama banget”keluhku


“Tuh, nungguin cowok-cowok itu..mereka tadi juga pulang bentar. Ambil baju ganti”jawab Anti


“Pantesan lama”


“Aku ke kamarmu bentar ya Co?”pinta Dedi


“Aku ikut”ucap Daniel


“Aku antar mereka dulu ya”ucap Coco padaku


Aku menggangguk.


“Kita ngerjain di atas aja Co”ujar Daniel


“Ya udah deh..ayo ikut”ajak Coco padaku dan Anti