
Satu lagi kejadian lucu yang selalu menganggu pikiranku. Karena tingkah Coco yang memang beda, terutama ketika aku berinteraksi dengan Aldi. Aku selalu merasa ke-GR-an sendiri setiap melihat sorot mata Coco yang sepertinya cemburu.
Waktu itu, selesai latihan PMR, Aldi datang menemuiku. Kebetulan aku dan Coco juga sudah berencana pulang bersama.
“Bubar barisan..jalan”perintah Aryo pada junior PMR
“P..M..R..jaya”junior PMR serempak balik kanan lalu membubarkan diri setelah mengucapkan yel-yel PMR kami.
“Mau pulang sekarang?”tanya Coco
“Bentar ya..masih agak panas..kamu mau pulang sekarang?”
“Ga sih..nanti juga ga papa”
“Aku duluan ya..ada les nih”pamit Dedi pada kami
“Oh..iya..hati-hati Ded”ucapku
“Aku juga pulang duluan ya..mamaku ngajak ke mall..barusan aku di chat”pamit Anti
“Lho kok pada pulang sih? Ya udah..kita pulang juga deh Co”
Padahal aku masih ingin ngobrol dengan teman-teman, tapi mereka malah pulang satu per satu.
“Ya udah, aku ambil motor dulu” Coco beranjak dari duduknya.
“Hei..emang tas sama hoodie mu bisa jalan sendiri?”
“Kamu bawain sekalian”perintah Coco padaku
“Hisshhh..bantuin..tasmu kan berat banget..mana aku kuat bawanya”keluhku
“Dasar manja”ucapnya enteng
“Yang ada tuh kamu yang manja..bukan aku..dasar!!”protesku sambil mencoba menoyor kepalanya, tapi yah..karena aku pendek, tentu aku tak bisa melakukannya. Dia tertawa mendengar ucapanku dan mencoba menghalangi tanganku yang ingin menoyornya.
“Maaf kak..kak Vivi ada waktu sebentar”seseorang memanggilku.
Aku menoleh. Rupanya Aldi yang memanggilku.
“Eh..iya Al..ada apa?”
Aku segera membalik badanku menghadap adik kelas ganteng, idolaku. Tanpa sadar aku pun tersenyum dengan sangat manis. Sampai-sampai Coco mengejekku.
“Senyumnya biasa aja kali”
Whattt! Cocooo..kenapa dia ngomong gitu sih? Kalo kedengeran Aldi, aku kan jadi malu..dasar Coco!
Aku spontan melotot ke arah Coco.
“Bentar ya Al”aku tersenyum pada Aldi kemudian segera mendorong tubuh Coco supaya menjauh.
“Katanya mau ambil motor dulu..dahhh, kamu sanaa”
Tubuh Coco benar-benar berat. Aku sampai kesusahan mendorongnya supaya dia agak menjauh dariku dan Aldi.
“Aku kan mau ambil tas dulu..gimana sih?”protesnya padaku
“Ya udah..ambilin tasku sekalian ya”pintaku
“Ogah”ucapnya tanpa rasa bersalah
Aku menghela nafas panjang.
Ni anak kalo udah kumat nyebelinnya pingin aku jitak deh..hissshhh!
Aku pun berjalan kembali ke arah Aldi.
“Gimana Al..ada apa?”tanyaku
“Maaf kak, kalo tidak merepotkan, aku pingin pinjam catatan PMR kakak. Buat persiapan EPSP. Boleh ga kak?”
“Boleh..boleh”
Coco yang katanya mau ambil tas, malah duduk-duduk di kursi taman di dekat kami sambil menyilangkan tangannya di dada. Raut mukanya juga terlihat tidak bersahabat.
“Udah ga usah dengerin”ucapku pada Aldi disambut senyum manis dibibirnya.
Iiihh..pingin cubit bibir tipis itu deh..suka banget senyum-senyum. Ga tau apa kalo senyumnya itu bisa mengguncang jiwa dan ragaku..
“Kamu butuhnya kapan?”
“Se..”belum selesai Aldi menjawab Coco sudah menyela pembicaraan kami. Dia yang awalnya duduk kini berjalan ke arahku.
“Lama banget sih Vi..udah sore banget nih..ga takut dimarahin ayahmu anak gadisnya ga pulang-pulang?”
“Iihh...bentar Co..ga sabaran banget sih..kamu dah mau pulang? Ya udah pulang aja..aku bisa kok naik angkot apa bis kota..jam segini juga masih ada yang lewat”ucapku karena aku mulai kesal Coco yang ga sabaran.
“Ya udah kak..nanti aku chat aja ya untuk waktunya”
“Oh..iya”aku menganggukkan kepalaku pada Aldi. Aku merasa tak enak hati padanya, karena sikap Coco yang mulai meresahkan.
“Duluan ya kak”pamit Aldi padaku
Coco diam saja malah melengos. Aku tatap cowok tinggi disampingku yang barusan membuat ulah.
“Kamu kenapa sih buru-buru banget ngajakin pulang? Kasihan kan Aldi jadi ga enak hati gitu anaknya”protesku
Dia yang kuomeli malah diam saja. Hihhh..pingin aku jitak beneran deh anak ini!
“Kok dia punya nomormu? Kalian tukar nomor?”
“Malah mengalihkan pembicaraan..kamu tau ga sih barusan kamu nyebelin banget?
“Aku tanya dia dapat nomormu darimana?”tanyanya dengan suara keras
Aku sampai kaget karena nada suaranya tak seperti biasanya. Ini anak lagi kesambet apa sih? Aneh banget!
“Aku kok yang ngasih nomor ke dia”
“Kenapa dikasih?”
“Terserah aku dong..kamu kenapa sih Co? Hari ini aneh banget”
Ditengah pembicaraan kami, Arman dan Aryo menegur kami.
“Sudah..sudah..suami istri ga baik berantem”goda Arman
“Iya..sudah pulang sana..udah sore juga”tambah Aryo
“Apaan sih kalian? Ga usah ikut campur urusan orang deh”protesku karena aku memang kesal sama Coco
"Wihhh..Vivi kalo marah nyeremin ternyata"ucap Aryo
Aku akhirnya meninggalkan Coco, Arman dan Aryo. Aku berjalan ke markas PMR kami, untuk mengambil tasku. Rupanya Coco juga mengikutiku. Karena ketika aku mau keluar markas, dia sudah berada di depan pintu. Wajahnya terlihat sudah berbeda dari tadi di taman sekolah.
“Kamu marah ya?”tanyanya pelan
Aku diam saja sambil menatap ke arah lain.
“Maaf ya”
Kata “maaf” nya terdengar sangat tulus. Wajahnya pun didekatkan di depan wajahku. Karena aku risih dilihat dia dari dekat, aku pun mengalihkan pandanganku. Dia malah mengikuti arah pandanganku.
Kenapa lihatnya dekat banget gini? Aku kan jadi salah tingkah..
Aku paling ga kuat kalo dilihatin dari dekat kayak gitu. Wajah Coco yang tampan dengan ekspresi sedikit memelas membuatku seketika itu juga melupakan kemarahan dan kekesalan atas ulahnya yang menyebalkan tadi. Justru kelakuannya yang mendekatkan wajahnya seperti itu membuat jantungku berdegup sangat kencang. Untuk mengusir kegelisahanku, aku pun mendorong tubuh besarnya agar menjauh dari hadapanku.
“Udah ah Co..jangan dekat-dekat gitu..aku risih tau”
Dia tertawa cekikikan melihat aku yang salah tingkah.
“Kita pulang sekarang?”tanyanya
Aku hanya mengangguk. Akhirnya kami pun pulang bersama seperti biasa. Aku mengikutinya menuju tempat parkir. Sepanjang perjalanan kami ngobrol bersama. Seakan-akan tak pernah ada masalah di antara kami.