
Awalnya dia setuju dengan pilihanku. Semuanya tampak biasa saja. Tapi dua kali latihan, dia marah-marah terus padaku.
“Kamu bisa nyanyi dengan bener ga sih? Kenapa malah jadi fals?” hardik Coco padaku sambil memukul tuts piano nya. Membuatku kaget.
“Dari kemarin, nyanyi ga bener-bener”protes Coco
Mau gimana lagi. Mungkin karena aku terlalu menghayati makna lagu itu makanya aku terbawa suasana, jadi kadang aku ingin menangis. Karena aku menahan suaraku agar tetap stabil meski hatiku bergejolak kuat, akhirnya suaraku malah fals.
“Suaraku emang gini mau gimana lagi?”balasku tak mau kalah
“Kita ganti saja lagunya..aku tak suka”pinta Coco setengah berteriak
“Co, lombanya kurang dua hari lagi. Mau ganti lagu apa lagi? Kemarin juga kamu udah setuju, kenapa sekarang malah gini sih? nyebelin”protesku
Aku dan dia lagi-lagi bertengkar hanya karena masalah pilihan lagu.
“Kita nyanyiin lagu ini aja”
Coco memutarkan sebuah lagu dari Lady Antebellum yang berjudul Need You Now. Lagu itu menurutku juga bagus.
“Kalo pake lagu itu, nanti kita bisa colab bareng”
“Terserahlah”ucapku pasrah
Akhirnya kami membawakan lagu dari Lady Antebellum, Need You Now. Dia yang memilih lagu itu. Dia memaksa membawakan lagu itu. Alasannya nanti biar kami bisa kolaborasi. Duet. Ya sudah lah, aku malas berdebat dengan dia. Aku turuti saja keinginannya.
Picture perfect memories,
Gambar (mu), kenangan yang sempurna,
Scattered all around the floor
Terserak di lantai
Reaching for the phone cause I can’t fight it anymore
Kuraih telepon karna aku tak tahan lagi
And I wonder if I ever cross your mind
Dan aku bertanya-tanya apakah aku pernah terlintas di benakmu
For me it happens all the time
Dirimu selalu terlintas di benakku
Sekarang pukul satu seperempat, aku sendirian dan aku butuh dirimu sekarang juga
Said I wouldn’t come, but I lost all control and I need you now
(Ku)bilang takkan datang, namun aku hilang kendali dan aku butuh dirimu sekarang juga
And I don’t know how I can do without, I just need you now
Dan aku tak tahu harus bagaimana tanpamu, aku hanya butuh dirimu sekarang juga
Another shot of whiskey, can’t stop looking at the door
Kuteguk wiski lagi, tak bisa kuberhenti pandangi pintu
Wishing you’d come sweeping in the way you did before
Berharap kau datang seperti dulu lagi
And I wonder if I ever cross your mind
Dan aku bertanya-tanya apakah aku pernah terlintas di benakmu
For me it happens all the time
Dirimu selalu terlintas di benakku
Yes I’d rather hurt than feel nothing at all
Ya lebih baik aku terluka daripada tak merasakan apa-apa
Setelah latihan selama dua hari menurutku hasilnya sudah lumayan. Kami bisa menyamakan nada dan irama dengan sangat baik. Walaupun kadang aku dan dia sering bersitegang. Entahlah.
Biasanya emosiku akan langsung meledak kalau dia sudah mulai membahas latihan lomba olimpiade. Mungkin karena aku cemburu, dia akan bersama dengan Feli. Latihan bersama. Atau emosinya yang mendadak berubah jika aku sudah membahas rapat bazar.
Aku sampai bingung. Sampai kapan kami akan seperti ini? Apakah sampai lulus nanti? Apakah kami akan bisa berbaikan lagi? Aku sering bertanya seperti itu. Karena aku rindu pada dia yang dulu. Dia yang teman baikku. “Kekasih khayalanku”.
Tahun itu, saat lomba aku merubah sedikit penampilanku. Rambutku kuikat ke belakang, dengan aksen bergelombang. Kubiarkan sedikit anak rambutku ke depan wajah.
Oya, tahun ini dresscode kami adalah putih. Jadi dia juga memakai setelan jas putih. Walaupun dengan wajah serius dan coolnya itu, aku akui kali ini penampilannya lebih menarik dari tahun lalu. Lebih dewasa. Macho. Membuat hatiku selalu bergetar melihat penampilannya yang setampan itu.
Coco dengan balutan setelan jas putih, dengan rambutnya yang ditata rapi benar-benar menjelma menjadi seorang pangeran. Karena dia pangeran dalam hatiku. He’s my handsome prince.
Walaupun diwarnai perang dingin dan pertengkaran, akhirnya untuk ketiga kalinya kami bisa meraih juara. Juara pertama. Mengalahkan Aldi dan Feli di peringkat kedua. Jujur saja aku senang, akhirnya kami juara satu lagi. Dan mendapat penghargaan Best Couple. Karena berhasil menjadi juara selama tiga tahun berturut-turut.