
Sejak “pengakuan cintanya” padaku, sikap Aldi sama sekali tak berubah padaku. Kami masih berteman baik. Aku juga semakin dekat dengan Dila. Karena rupanya Dila sangat menyukaiku. Dila sering menelponku sekedar curhat padaku.
Hari itu, sepulang sekolah, kami panitia bazar sengaja rapat diluar sekolah. Mencari suasana baru. Kami rapat di café dekat sekolah. Tempat yang biasa dikunjungi murid-murid di sekolahku. Sekedar untuk nongkrong. Karena tak mungkin kami nongkrong memakai seragam sekolah, maka hari itu, kami sengaja membawa baju ganti dari rumah. Sehingga rapat bazar kali ini bisa lebih santai dan nyaman.
Panitia bazar terdiri dari gabungan antara senior PMR kelas XI, angkatan Aldi dan senior PMR kelas XII, angkatanku. Meskipun kami beda angkatan, tetapi panitia bazar kali ini anaknya asyik-asyik. Persiapan bazar jadi tak terasa berat. Kami saling membantu dan mengemukakan pendapat kami supaya acara bazar sukses. Tak ada rasa canggung maupun jaim di antara kami. Benar-benar team work yang solid.
Kami rapat tak terasa hampir 2 jam lamanya. Akhirnya rapat pun kami akhiri. Lalu satu per satu panitia pamit pulang. Tersisa aku dan Aldi. Awalnya kami akan segera pulang tapi kemudian Dila menelpon akan menyusul ke café tempat kami berada sambil menunggu temannya.
“Kakak ga papa kan nunggu bentar?”tanya Aldi
“Iya ga papa”jawabku sambil tersenyum
Kami menunggu di sana selama beberapa saat sambil ngobrol. Lagi asyik-asyiknya ngobrol, mataku menangkap sosok yang selama beberapa hari ini sangat aku rindukan. Lelaki tampan dengan outfit putih kesukaannya. Yang selalu membuat hatiku bergetar setiap melihat betapa gantengnya makhluk Tuhan yang satu ini. Iya..Coco juga datang ke café. Dia datang bersama beberapa temannya sesama peserta olimpiade.
“Hai Vi”sapa Daniel
“Oh hai”jawabku sambil melambai pada mereka semua
“Kalian berdua aja?”tanya Dedi
“Ga kok kak..yang lain udah pada pulang. Tadi abis rapat bazar”jawab Aldi
“Ooo..kirain kalian nge-date disini” sahut Daniel sambil menyenggol tubuh Coco.
Mataku dan Coco sempat beradu pandang. Tapi aku tepiskan pandanganku. Tatapannya yang tajam, seakan mampu menggoyahkan tembok pertahanan hatiku. Ekspresinya yang seperti sedang marah, membuat nyaliku ciut.
“Hahaha..ga lah. Kalian darimana?”
“Barusan latihan olimpade. Terus kami mau ngadem disini. Biar ga stress”ucap Daniel disambut tawa teman-temannya.
“Kita duduk di sana aja”ajak Coco pada teman-temannya.
Meja kursi di café itu bentuknya saling berhadap-hadapan. Satu meja terdiri dari empat kursi. Aku dan Aldi kebetulan duduk bersebelahan. Dua kursi di hadapan kami kosong, karena panitia yang lain sudah pulang.
Entah sengaja atau tidak, Coco duduk di meja sebelahku. Dia duduk disamping Dedi dan di depannya adalah Feli dan Sandra. Aku bisa melihat wajahnya dengan jelas. Dari tadi Dedi yang duduk di sebelah kirinya mengajakku ngobrol, mau tak mau aku tentu saja bisa melihat Coco. Walaupun dia jarang ngomong, tapi setiap Dedi bertanya padaku, Coco juga melihat ke arahku. Membuatku salah tingkah saja. Karena jujur, tatapannya seperti bisa membunuhku. Sangat dingin.
“Kak Viviiiii”seru Dila begitu memasuki café dan menemukan tempatku duduk sambil setengah berlari dan melambai padaku.
Dila langsung menghamburkan tubuhnya padaku, memelukku. Aku pun memeluk tubuh kecilnya.
“Jangan bikin malu Dil..cepat lepasin kak Vivi”ucap Aldi sambil mendorong tubuh kecil adiknya dari tubuhku.
“Emang kenapa? Aku kan kangen sama kak Vivi..kak Vivi kenapa ga pernah main kerumah lagi?”tanya Dila dengan memasang wajah memelas.
“Maaf ya..kak Vivi belum sempat main”
“Kamu pikir kak Vivi pengangguran..ga ada kerjaan lain. Emang kamu, taunya main mulu”
“Iihhh..Kak Al kenapa sih?”Dila cemberut sambil memegang lenganku.
“Itu adikmu Aldi?”tanya Dedi
“Iya kak”
Feli menepuk bahu Dila. Membuat Dila menengok kearahnya.
“Dila masih ingat sama kakak ga?”tanya Feli
Dila tampak mengerutkan dahinya seperti sedang berpikir.
“Yup..betuul. Kirain udah lupa”
“Apa kabar kak?”
“Baik..kamu udah tambah gedhe ya? Bentar lagi ujian ya?”
“Iya kak”
Akhirnya Dila ikut nimbrung bersamaku dan Aldi. Dila duduk di depanku. Bersebelahan dengan Coco. Anak ini tampaknya sangat senang bertemu denganku karena dia terus mengoceh menceritakan banyak hal. Dia sangat bersemangat menceritakan persiapan ujian akhirnya dan tentang sekolahnya.
Coco dan teman-temannya juga asyik berdiskusi. Kulihat mereka juga bercanda dan tertawa bersama. Walau kulihat dia lebih banyak diam di antara mereka semua. Setiap kali menyeruput minuman yang ada di hadapanku, sesekali aku mencuri pandang pada Coco. Tak bisa kupungkiri aku selalu terpesona melihat Coco dengan penampilannya yang selalu terlihat sangat tampan. Kaos putih dipadu dengan kemeja putih lengan panjang yang dibiarkan terbuka dan celana jeans biru yang dikenakannya benar-benar memancarkan aura ketampanan Coco. Apalagi saat dia mulai melipat lengan kemejanya sampai siku, hingga memperlihatkan tangannya yang berotot dan kekar, membuatku hanya bisa menelan air ludah. Dia macho sekali.
“Kak, aku ke toilet sebentar ya?”pamit Aldi padaku
Aku mengangguk.
“Jangan macam-macam sama kak Vivi ya?”ancam Aldi pada adik kecilnya sambil mengusap-usap kepala Dila membuat gadis kecil itu protes.
“Iiihhh..iya..iya..”protes Dila sambil merapikan rambutnya yang berantakan.
Setelah Aldi pergi, Dila terlihat clingukan. Membuatku bingung. Kemudian gadis kecil itu berpindah duduk di kursi Aldi dan mulai mengeluarkan laptop Aldi yang ada di tas ranselnya.
“Dila ngapain?”tanyaku setengah berbisik
“Ssstttt..aku mau ngasih liat kakak sesuatu” ucapnya sambil berbisik
Dila mulai menyalakan laptop Aldi.
“Kakak jangan bilang kak Al ya kalo aku buka laptopnya..nanti kak Al pasti marah-marah sama Dila”
“Sebaiknya Dila kembaliin lagi deh laptopnya” pintaku
Tapi gadis kecil ini tak mau mendengarkan ucapanku. Dia mulai mengetikkan beberapa huruf dan angka password di laptop Aldi. Membuatku ikut penasaran, sebenarnya apa yang ingin ditunjukkan gadis kecil itu padaku.
Begitu laptop terbuka, aku benar-benar kaget melihat gambar wallpaper yang digunakan Aldi. Karena gambar itu adalah..
Fotoku dan Aldi.
Foto yang diambil saat kami menjadi peserta prince and princess tahun kedua. Saat aku kelas XI. Kebetulan saat persiapan lomba, kami para peserta dikumpulkan untuk briefing acara. Selesai acara, aku dan Aldi sempat foto bersama. Aku tak menyangka 6 foto yang diambil waktu itu dijadikan satu frame foto oleh Aldi dan malah dijadikan wallpaper laptopnya.
“Kakak udah lihat kan?”tanya Dila sambil tersenyum.
Karena takut Aldi memergoki kami, Dila segera mematikan kembali laptop Aldi lalu memasukkannya ke tas. Dila duduk lagi ke kursinya.
“Gimana kak? Kak Vivi kaget kan?”tanya Dila sambil terus tersenyum melihat aku yang syok dengan wallpaper Aldi barusan.
Aldi kembali dari toilet bertepatan dengan datangnya teman Dila. Begitu temannya datang, Dila segera memperkenalkan mereka padaku.
“Kak Vivi kenalin, ini Cici, Lia sama Anya..mereka teman-temanku”
“Salam kenal kak” sahut mereka hampir bersamaan.
“Iya..salam kenal juga”
“Ini kak Vivi..pacar kak Al”
Gubrakkkk