SINTRU

SINTRU
SINTRU- 101



By: Tiara Sajanaka


🌼 "Berapa lama proses penyembuhannya?" tanyaku sambil meletakkan wadah buah di atas meja. Rasyid sudah selesai makan dan sekarang dia memintaku mengambil air minum diatas meja.


Setelah meneguk minumannya, dia memintaku mengembalikan gelas di atas meja.


Rasyid memang membutuhkan bantuan pekerja untuk melakukan beberapa hal.


Dia tidak dapat bergerak bebas seperti dulu.


Bahkan untuk menggeser posisi duduknya dia membutuhkan bantuan dua orang pekerja.


"Aku tidak dapat memastikan kapan akan pulih. Tapi, aku berharap, sebelum aku pulih, kamu bersedia selalu menemaniku."


Aku tertegun mendengar ucapannya. Apa aku akan datang setiap malam ke kediamannya atau aku akan tinggal disini sampai dia pulih?


"Kenapa? Kamu merasa keberatan?" tanyanya sewaktu melihatku terdiam cukup lama.


"Aku tidak keberatan, Rasyid. Tetapi, apa aku akan berada disini sampai kamu pulih?"


"Tentu saja tidak. Kamu datang seperti biasanya. Karena selama aku belum pulih, aku tidak bisa menemuimu."


Kutarik nafas lega.


Syukurlah kalau aku hanya diminta menemani disaat sedang berada di dunia Astral. Bukan selalu berada disini selama 24 jam penuh.


"Rasyid, apa disini juga berada dalam waktu 24 jam?" tanyaku penasaran.


"Kamu aneh. Di sini dan dunia manusia masih berada dalam satu planet. Tentu saja kami juga berada dalam perputaran waktu 24 jam. Kecuali sudah berbeda planet." kekehnya.


Aku merasa, dia sedang menyembunyikan jawaban yang benar. Sebab, aku merasakan waktu di tempat Rasyid, berbeda dengan waktu di dunia manusia.


"Setelah urusanku selesai dengan mas Jantaka. Aku tidak bisa datang ke tempat ini lagi."


"Apa benar seperti itu?"


"Iya, aku datang karena Mbak Kun yang menarikku ke tempat ini. Setelah dia mengembalikan energi istri mas Jantaka, maka kekuatan itu akan hilang."


"Hmm..cukup menarik.Kalau hal itu terjadi, aku tidak bisa memaksamu untuk menemani ku." ucapnya datar.


Dia berbicara dengan tenang, seolah-olah hal itu tidak mengganggunya. Sedangkan aku, merasa sangat sedih.


Beberapa waktu lalu, aku ingin tidak datang lagi ke tempat ini.


Tapi, melihatnya mengalami kejadian buruk karena aku, membuatku merasa memiliki tanggung jawab padanya.


"Sepertinya aku sudah harus kembali."


Rasyid memegang tanganku. "Tinggallah sebentar lagi. Aku tahu kamu mendapatkan ijin untuk istirahat. Tetaplah bersamaku selama waktu itu."


"Teman-teman kost akan menggedor pintu kamar, kalau aku tidak terlihat selama dua hari."


"Jangan khawatir soal itu. Manggala akan mengaturnya."


Rasyid tertawa kecil, dia menunjuk kearah meja panjang tempat aneka hidangan di kamarnya.


Aku ingat, dia selalu menyediakan buah dan madu untukku. Sekarang aku melihat sebuah kaleng cereal dan sekotak susu segar berada diatas meja.


"Kamu bisa menghangatkan susu itu dalam gelas elektrik." ucapnya sambil tersenyum lebar.


"Kamu sudah menyiapkan semuanya, sebelum aku datang?"


Rasyid mengangguk senang. Dia terlihat bahagia sewaktu melihatku menatapnya dengan bingung.


"Kamu tahu, aku akan mendapatkan ijin dua hari?"


"Tentu saja aku tahu. Apa yang dapat kamu sembunyikan dariku?" ucapnya serius.


"Aku juga tidak merasa perlu menyembunyikan apapun darimu."


"Yakin?"


"Sangat yakin."


"Aku tahu, kamu orang yang jujur. Tapi, kamu juga suka memendam sesuatu sendiri. Hal itu yang membuatmu sampai diijinkan istirahat dua hari."


Aku tertawa geli. " Ternyata hal itu yang kamu anggap aku menyembunyikan sesuatu."


"Kamu tidak ingin berbagi denganku?" dia menyentuh wajahku dengan ujung jari telunjuknya.


Aku menunduk. Tidak tahu harus bercerita padanya atau sebaiknya aku tidak mengatakan tentang kegelisahanku. Aku tidak ingin dia menjadi sedih dan terluka.


"Apa terlalu berat untuk berbagi denganku?" desaknya.


Kuangkat wajah dan menatapnya.


"Rasyid, apa yang kurasakan saat ini, sebaiknya biar untukku saja. Kamu fokus dengan pemulihan dan kesembuhanmu. Aku tahu bagaimana mengatasi masalahku sendiri."


"Kalau berbagi, tentunya akan lebih ringan, Lira."


"Aku tidak merasa berat, kok." kekehku.


"Kamu itu..baiklah. kita istirahat ya."


Rasyid meminta dua orang pekerja untuk membawanya ke atas tempat tidur.


Dia tidak menggunakan kursi roda.


Tapi, dia menggunakan alat bantu berjalan.


Itu sebabnya, dia perlu dua orang yang dapat menopang tubuhnya saat bergerak.


Kakinya terlihat sangat lemah. Namun dia berusaha bergerak dengan seluruh tubuhnya. Dia begitu bersemangat untuk bisa segera pulih kembali.


🍃🍃