
By: Tiara Sajanaka
🌼Keesokan harinya, Rasyid memintaku untuk menemaninya berkunjung ke kediaman Dokter.
Sebuah kereta kuda telah berada di depan pintu gerbang, sewaktu kami keluar dari kediaman Rasyid.
Aku terkejut. Kenapa kami harus mengendarai kereta kuda?
Bukankah di tempat Rasyid tersedia banyak kendaraan roda empat lainnya?
Didalam kereta, kami duduk berhadapan.
Seorang pekerja menemani Rasyid duduk.
Aku kembali terkejut sewaktu kereta kuda melayang di udara.
Membuatku teringat pada mobil yang kami kendarai bersama pak Arkana.
Aku bisa melihat kearah luar jendela yang memiliki jendela transparan. Diluar terlihat kami melewati sebuah kawasan perkebunan cukup luas.
Menyenangkan sekali melihat seluruh tempat yang kami lewati.
Aneka pohon buah, bunga serta taman langka ada di tempat ini.
Sampai akhirnya, kereta terasa mendarat dan berjalan dijalan tanah.
"Kawasan ini, adalah kawasan bebas polusi." kata Rasyid.
"Polusi seperti apa?"
"Dari pembakaran bahan bakar kendaraan, serta berbagai hal yang mengakibatkan udara menjadi kotor."
"Pantas saja,kita menggunakan kereta kuda kesini."
"Benar Lira. Dokter kami sangat menjaga kawasan ini agar tetap bersih. Disini juga tempat perawatan dan pemulihan para pasien."
"Apa madsudnya, disini adalah sebuah kawasan rumah sakit?"
"Ya, mungkin seperti itu. Tetapi kami tidak seperti bangsa manusia yang sering mengalami sakit."
"Jadi, untuk apa ada tempat perawatan dan pemulihan?"
"Untuk merawat para pasien dari dunia manusia."
"Madsudnya seperti apa?" tanyaku terkejut.
"Haha.kamu sampai melotot begitu karena terkejut." Rasyid tertawa kecil.
"Tentu saja aku terkejut. Kenapa manusia harus menjalani perawatan di tempat ini?"
"Beberapa manusia yang telah ditetapkan untuk berada di Wilayah Arkana, mereka sering memberontak. Walaupun mereka sudah mengetahui hal itu"
"Lalu?"
"Akhirnya, mereka menjadi kehilangan kendali pada dirinya sendiri. Hal itu menjadi tanggung jawab kami untuk membuat mereka tetap sadar sebagai Sukma yang harus menepati perjanjian yang telah dibuat."
"Biarkan semua menjadi rahasia semesta. Kamu sudah mengetahui tahapan-tahapan yang harus dijalani mereka."
"Tidak secara keseluruhan. Aku hanya sampai pada tempat paling umum."
"Hal itu, seharusnya tidak kamu jalani. Tapi, kamu memiliki tanggung jawab pada bangsa astral."
"Apa itu bukan kutukan? Walau ada mengatakan semua itu adalah talenta. Tapi aku merasa memikul beban yang berat."
"Setiap penciptaan itu, memiliki fungsinya masing-masing. Hanya saja, ada yang tahu dan jelas dengan arah tujuannya. Tetapi manusia sering abai dan terikat pada keinginannya sendiri."
"Benar. Sampai akhirnya mereka hanya mengikuti hawa nafsunya sendiri." ucapku sedih.
"Kamu sudah mengerti?"
"Tidak secara keseluruhan. Apa aku boleh melihat para Sukma yang ada dalam masa perawatan?"
"Lira, sebaiknya kamu tidak melihat mereka. Hal itu sudah diluar tanggung jawabmu. Jadi, jangan bebani dirimu dengan karma orang lain." ucapnya lembut.
Kuhela nafas berat. Ternyata perjalanan manusia saat di dunia manusia itu adalah penentu perjalanannya di kehidupan yang lain.
Apa semua berhubungan dengan takdir? Atau sebenarnya, manusia juga membuat takdirnya sendiri?
"Ada apa?" Rasyid menatapku teduh.
"Tidak ada. Aku sedih dengan kehidupan manusia yang tidak memahami jalan kehidupannya. Tetapi aku bersyukur karena diberi pilihan untuk menentukan tujuan hidupku."
"Apa tujuan hidupmu?"
"Aku ingin dapat menjadi berkat untuk orang banyak. Keluarga, saudara, kerabat, anak, cucu serta orang-orang yang membutuhkan."
"Kalau kamu bersamaku, semua akan lebih mudah, Lira."
"Haha..aku tidak ingin terikat pada duniamu, Rasyid. Walaupun aku sangat mencintaimu. Tapi, untuk hal itu, aku harap kamu tidak melakukan apapun."
"Kamu tidak ingin, semua dapat dikendalikan? Bukankah hal itu malah akan dapat menjangkau banyak orang?"
"Aku hanya mengandalkan Dia." tunjukku ke atas.
"Keimananmu teguh. Tapi orang salah paham tentang keyakinan yang kamu anut selama ini."
"Sebab, mereka tidak berada diposisiku. Tapi, aku menjadi lebih memiliki toleransi dan empati pada semua keyakinan."
Rasyid tersenyum. Wajahnya terlihat cerah dan penuh semangat.
Kebahagiaannya adalah kebahagiaanku.
Aku berharap dia segera pulih kembali.
Agar aku tidak terus menerus didera rasa bersalah.
🍃🍃