SINTRU

SINTRU
SINTRU- 106



By: Tiara Sajanaka


🌼 Dua hari kemudian, aku berkunjung ke kediaman mas Jantaka.


Villa itu telah selesai dibangun kembali.


Istri mas Jantaka, sekarang sudah terlihat lebih baik.


Walaupun, energinya belum pulih sepenuhnya.


Kami berbicara di ruang tengah berdua. Sedangkan istri mas Jantaka berada didalam kamar.


Setelah berdiskusi cukup lama.


Kuputuskan untuk tidak mengembalikan energi istri mas Jantaka.


Sebab, energi itu telah berbaur dengan energi negatif selama berada didalam tubuh mbak Kun.


Sangat beresiko kalau aku mengembalikan kedalam tubuh istri mas Jantaka.


Tetapi, mas Jantaka meminta solusi lain. Agar istrinya dapat pulih seperti semula.


Aku termenung beberapa saat.


Berusaha mencari solusi untuk mengembalikan energi itu.


"Sebaiknya, saya pikirkan dulu ya mas. Saya masih belum menemukan cara yang paling aman untuk itu."


Mas Jantaka setuju. Dia akan menunggu kabar dariku.


Kemudian aku berpamitan. Dan berjanji akan membawa kabar baik secepatnya.


Keluar dari kediaman mas Jantaka, aku terbang melayang perlahan menuju kearah perbukitan.


Seperti biasanya, mbak Kun sedang duduk diatas pohon di lereng bukit.


"Bagaimana keadaannya?" tanyanya sewaktu aku duduk di sebuah batu besar.


"Rencana berubah." sahutku sedih.


"Berubah seperti apa?" dia turun dari atas pohon. Kemudian berdiri diujung tebing.


"Energinya telah berbaur dengan auramu. Aku tidak bisa mengembalikan."


"Jadi, energi itu selamanya akan bersamaku?"


"Sebenarnya, energi atau tenaga dari pusat Cakra itu bisa memudar seiring berjalannya waktu. Sebab, tubuh astral tidak dapat menyerap sumber energi seperti tubuh material."


"Aku tidak paham madsudmu. Tolong jelaskan dengan bahasa yang mudah kumengerti."


"Manusia memiliki sumber energi yang lebih besar dari pada para astral. Tubuh manusia dapat menyerap energi dari sumber makanan dan juga dari alam. Itu sebabnya, manusia memiliki energi yang lebih besar daripada para astral. Sampai disini bisa dimengerti, mbak Kun?"


"Lalu, hubungan dengan Cakra pusat?"


"Ini hanya dimiliki oleh tubuh material. Tubuh astral tidak memiliki Cakra pusat. Itu sebabnya, saat manusia bertambah usia, maka sistem pada Cakra pusat juga akan semakin melemah. Sehebat apapun manusia berusaha mengendalikan pola hidupnya. Cakra pusat akan tetap melemah dan energi akan semakin memudar."


"Apa itu berkaitan dengan energi yang saat ini berada dalam diriku?"


"Ya tentu saja. Selama ini, kamu sudah menggunakan energi itu. Bahkan dapat membuatku datang ke tempat ini. Itu artinya, energi itu semakin berkurang. Sama seperti batray pada handphone. Semakin besar digunakan, semakin cepat akan berkurang. Dan akhirnya, energi itu akan memudar dengan sendirinya."


"Tidak seperti itu, mbak kuuuuun.."


"Jadi, seperti apa?" ucapnya gelisah.


Aku tersenyum mendengar kegelisahannya.


Sebagai astral, dia memang membutuhkan energi lebih besar saat akan menggunakan kemampuannya.


Dan disaat energi itu telah memudar. Dia akan kembali seperti semula.


Hanya dapat melakukan hal-hal sesuai dengan kemampuannya.


Sebatas kekuatan astral yang dimilikinya.


Mbak Kun menoleh kearahku. Dia menunggu jawaban dariku.


Tapi, bukankah mereka juga suka membuatku tidak mendapatkan jawaban?


AHA!


Akhirnya, aku akan membuatnya harus mencari jawaban sendiri.


"Aku akan menemui Rasyid. Apa kamu mau pergi bersamaku?"


"Jawab dulu pertanyaanku." desaknya.


"Tidak semua pertanyaan harus dijawab, bukan?" godaku.


"Hmm, ternyata kamu membalasku."


"Tidak, hanya saja..biarkan semua itu menjadi rahasia semesta." ucapku sambil menahan tawa.


Mbak Kun terlihat kesal.


Dia terbang meninggalkanku dengan suara tawanya yang terbawa angin.


Aku tersenyum kecil. Ternyata tidak semua hal diketahui oleh mereka.


Walaupun mereka hidup ratusan tahun, tetapi beberapa dari jenis mereka ada yang tidak peduli dengan ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi.


Astral dimensi kedua memang begitu pasif.


Namun mereka bisa menjadi sangat liar dan jahat kalau terusik.


Dan sering kali, jenis mereka dikendalikan oleh manusia-manusia serakah.


Manusia-manusia yang gila akan keduniawian. Sampai menggunakan segala cara untuk mendapatkan keinginan mereka.


Sedangkan para astral dimensi kedua ini, sangat lemah dengan berbagai jenis benda yang dapat membuat mereka tidak sadar.


Saat mencium aroma gaharu, kemenyan atau gagak bakar, maka mereka akan mudah dikendalikan manusia.


Ya..mereka sangat lemah dan rentan sekali.


Dibalik sosok mereka yang tidak terlihat indah, mereka adalah para astral yang penurut dan setia.


🍃🍃