SINTRU

SINTRU
SINTRU- 85



By: Tiara Sajanaka


🌼 Dua malam kemudian, mbak Kun memintaku datang. Dia menungguku di gerbang Astral.


"Apa semua baik-baik saja mbak?" tanyaku.


"Semua baik, hanya kami belum terbiasa menetap di sana."


"Sudah satu bulan lebih,seharusnya sudah bisa beradaptasi."


"Keadaannya tidak semudah itu. Dari tempat kering, pindah ke lahan basah. Tentu saja hal itu sangat menyulitkan kami."


"Madsudnya bagaimana? Bukankah area itu tanah berbukit?"


"Kami terbiasa tinggal di pohon-pohon besar dan rindang. Kami belum pernah tinggal lagsung diatas tanah."


Aku tertawa terpingkal-pingkal mendengar penjelasannya. "Kenapa tidak menyampaikan hal itu pada Manggala?"


Mbak Kun melihatku dengan wajah kesal.


"Kenapa kamu tertawa?"


"Kalian itu, setiap ada masalah atau ada kendala, tidak pernah mau mengutarakan pada penjaga kawasan. Pak Rasyid ataupun Manggala, pasti tidak mengetahui masalah ini."


"Kami tidak mau dikatakan terlalu banyak menuntut. Sudah diberi tempat untuk menetap saja, kami sudah tenang."


"Syukurlah, nanti aku sampaikan hal ini pada Manggala. Karena dia yang memiliki tanggung jawab mengawasi area itu."


Mbak Kun mengangguk, dia terbang mendahuluiku sewaktu terlihat pak Rasyid mendekat kearah kami.


Aku berusaha menghindar dari pak Rasyid. Mengejar mbak Kun yang sudah hampir memasuki kawasan villa.


Tapi, pak Rasyid tidak berhenti mengejarku.


Dia terbang cepat sekali, sampai akhirnya dia berhasil memegang tanganku.


Aku berusaha melepaskan tangannya. Dia malah memelukku. Kudorong tubuhnya dengan kasar. Dia tetap tidak mau melepaskan. Aku meronta dan menendangnya. Karena kesal, dia membungkus tubuhku dengan jubahnya.


Tentu saja aku menjadi seperti kepompong dengan posisi kepala menyembul keluar.


"Lepaskan!" teriakku marah.


Dia hanya melirikku sekilas.Wajah angkuhnya menunjukkan kemenangan.


Dengan tenang dia membawaku masuk ke kediamannya.


Membaringkanku diatas tempat tidur.


"Kenapa harus membuatku seperti orang bodoh?"


"Jangan berteriak, canim. Kalau kamu tidak memberontak, aku akan melepaskanmu."


"Baiklah, lepaskan sekarang."


Pak Rasyid membuka jubah yang membungkusku dengan tenang. Wajahnya terlihat dingin dan angkuh.


Setelah terlepas, aku duduk bersila menatapnya.


"Bukankah kamu sudah berpamitan padaku? Saat ini, aku datang bukan untukmu." Ketusku.


"Ya, aku sudah berpamitan. Dan tidak ingin menemuimu lagi."


"Aku ingin bicara denganmu. Tapi kamu malah kabur dan menghindariku."


"Aku tidak ingin melihatmu."


"Kalau begitu, pergilah! Jangan sampai aku melihatmu di kawasan ini."


"Setelah urusanku selesai, aku tidak akan muncul lagi disini." kataku. Aku segera turun dari tempat tidur.


Lalu berjalan kearah pintu.


Tapi baru beberapa langkah, pak Rasyid menghadangku. Dia berdiri di depanku dengan wajah merah.


Sepertinya dia kehilangan kesabarannya.


Aku mundur beberapa langkah. Dia terus melangkah ke arahku.


Sampai tubuhku tertahan dinding.


Dia terus mendekat. Setelah kami sangat dekat, dia memelukku. Mengangkat tubuhku dan melingkarkan kakiku ke pinggangnya.


Serta meletakkan tanganku dilehernya.


"Bukankah seperti ini caramu membuatku tidak dapat bergerak?" ejeknya.


Aku melengos melihat kearah lain.


Dia menekan punggungku ke dinding.


"Kenapa membuang muka? Kamu jijik melihatku?"


Aku diam dan tetap tidak menoleh kearahnya.


"Aku bisa menggendongmu seperti ini selama berhari-hari, kalau kamu bersikap kasar."


Tentu saja dia tahan melakukan hal ini. Tubuhnya tinggi besar dan kekar. Sedangkan tubuh astralku kurus dan ringan.


Aku tidak peduli dengan ucapannya. Biarkan saja dia menggendongku seperti ini. Toh nantinya dia yang akan bosan.


Ternyata dugaanku salah. Dia tidak menurunkan atau mencoba melepaskan pelukanku. Sedangkan kakiku sudah terasa kram.


Dengan posisi seperti ini, pinggang juga menjadi kaku.


"Bagaimana, menyerah?"


"Sudah, turunkan aku."


"Canim.." ucapnya lembut.


Dia mencium keningku, kemudian menurunkan diatas tempat tidur.


"Sebenarnya ada apa? Kenapa bersikap seperti ini padaku?" tanyaku heran.


Dia duduk di sampingku. Mengusap wajahnya beberapa kali.


Kemudian merebahkan kepalanya di pangkuanku.


🍃🍃