
By: Tiara Sajanaka
🌼Sebuah mobil berwarna hitam berhenti didepan villa. Dimana aku sedang duduk diatas atapnya.
Mobil yang sangat mewah dan berkelas.
Mungkin pemilik villa ini. Pikirku.
Kuperhatikan dengan seksama.
Menunggu mereka turun dari mobil.
Tapi, kenapa mobil itu tidak diparkir didalam?
Apa mereka memang lebih suka turun dari mobil, sebelum mobil terparkir rapi?
Manusia memang rumit.
Seorang pria setengah baya turun dari pintu depan.
Dia melihat kearahku.
Tentu saja, aku terkejut melihat pria itu.
"Turunlah," suara pria itu terdengar seperti berbisik di telingaku.
Sedangkan jarak kami cukup jauh.
Sekarang aku bingung, bagaimana caranya untuk turun dari atap.
Apa aku harus melompat?
Melayang?
Atau terbang dengan anggun?
Duh, ternyata ribet juga saat berada di dalam kondisi seperti ini.
Sedangkan tubuh material hanya membutuhkan tangga untuk turun dari atap.
Jadi, siapa yang bilang kalau bisa terbang itu enak?
Mereka belum tahu saja, bagaimana cara mengatur buat take off dan landing.
Seperti pesawat juga.
Untuk sesaat aku memikirkan cara turun dengan anggun.
Akhirnya kubuang jauh-jauh rencana itu.
Sewaktu mbak Kun membawaku turun menggunakan sebuah selendang.
Dia menurunkanku tepat didepan pria setengah baya itu, dalam jarak tiga meter.
Ntah selendang apa yang digunakannya.
Sampai bisa melilit di pinggangku.
Setelah menarik selendang dari pinggangku, mbak Kun berdiri sedikit menjauh dari kami.
Dia tidak berani berada terlalu dekat.
"Ada apa pak?" tanyaku gemetar. Aku menjadi takut pada bapak itu.
Sudah dua kali kami bertemu dalam satu
malam.
"Beliau ingin berbicara denganmu." ucapnya sambil membuka pintu mobil.
Saat pintu terbuka lebar, kali ini aku benar-benar menjadi sangat ketakutan.
Tidak seperti biasanya, aku mengalami rasa takut sebesar ini.
Pria didalam mobil itu, memiliki kulit merah.
Badannya sangat besar.
Dia mengangguk ramah padaku.
Dengan ragu-ragu, aku masuk ke dalam mobil. Duduk disamping pria besar itu.
Pintu mobil langsung ditutup dari luar.
Pria separuh baya itu, duduk didepan.
Ada pembatas diantara bagian depan dengan tempat duduk dibelakang.
Mobil berjalan dengan lembut.
Sangat lembut. Seakan berjalan diatas awan.
Atau, mobil ini sebenarnya sedang melayang?
Aku tidak dapat memastikan hal itu.
Kaca mobil sangat gelap dibagian luar.
Membuatku tidak dapat melihat suasana diluar mobil.
"Kamu takut?" tanyanya dengan suara berat.
Aku mengangguk sopan.
"Kamu sudah sering bertemu bangsa kami. Kenapa harus takut?"
"Anda terlihat sangat merah," jawabku gemetar.
"Saya tidak perlu merubah wujud saat bertemu denganmu. Atau kamu ingin saya seperti aktor idolamu?" candanya.
Seketika aku tergelak, dan lupa dengan rasa takut yang membuatku sampai gemetar.
"Terima kasih, sudah membuat saya sedikit rileks."
"Saya mendengar tentangmu dari Rasyid."
"Siapa Rasyid?"
Pria bertubuh merah itu, menunjuk kearah bangku depan.
"Oh, bapak itu bernama Rasyid?"
"Rasyid masih muda, kenapa kamu memanggilnya bapak?"
"Itu sopan santun kami."
"Lalu,kamu akan memanggil saya apa?"
"Saya tidak tahu nama anda,"
"Panggil saya Arkana."
"Baik pak Arkana,"
"Tidak, bukan pak. Tapi Arkana."
"Saya tidak terbiasa menyebut nama saja."
Terlihat, dia menghela nafas panjang.
Mungkin sedikit kesal dengan sikap ngeyel ku.
"Di dunia kami, kamu tidak bisa memanggil orang dengan bapak atau ibu. Hal itu membuat kami jadi merasa sangat tua."
"Lalu, kenapa banyak yang memanggil dengan sebutan eyang, Mbah, dan sebutan lainnya."
"Haha..kalian memang mudah tertipu."
"Madsudnya?" tanyaku heran.
"Kamu paham madsud saya."
"Selalu tidak ada jawaban. Sama seperti mbak Kun.Tidak pernah memberikan jawaban."
"Rahasia semesta, biarkan seperti itu. Tidak perlu, semuanya dijabarkan dan dijelaskan."
"Baiklah, sekarang kenapa anda meminta saya bersama anda?"
"Arkana, bukan anda."
"Ya, pak Arkana."
"Arkana, tidak pakai pak."
Aku menjadi kesal pada pria merah ini. Kenapa dia bawel sekali.
Sebagai manusia, tentu saja aku kesulitan untuk menyebut nama saja.
🍃🍃