SINTRU

SINTRU
SINTRU-60



By: Tiara Sajanaka


🌼"Baiklah, saya tidak akan membuat posisimu sulit. Kita lanjutkan perjalanan." kataku sopan.


Kami kembali melanjutkan perjalanan dengan suasana hening.


Sampai di gerbang astral, aku memintanya segera kembali.


Tapi dia memandang gerbang dengan sorot mata sedih.


Sebesar apapun keinginannya untuk dapat melewati gerbang itu, dia tidak akan berhasil.


Sebab, di dunia manusia, dia sudah tidak memiliki tubuh material.


Aku hanya bisa menatapnya dengan perasaan tidak karuan.


Betapa singkatnya perjalanan hidup manusia didunia manusia.


Tetapi perjalanan di dunia lain akan sangat panjang dan penuh ketidak pastian.


Setelah unsur kehidupan meninggalkan wadahnya, maka tidak ada lagi harapan untuk berbalik.


Semua berakhir untuk raga manusia dan menjadi awal perjalanan bagi sang Sukma.


"Apa aku boleh tahu namamu?"


Dia mengangguk. Kemudian menyebutkan sepenggal nama yang diingatnya.


Mereka memang sering tidak bisa mengingat nama dengan baik.


Hanya nama panggilan atau nama pendek saja yang mereka ingat.


"Namamu akan kusebut dalam doaku. Jangan bersedih lagi. Ada masanya nanti, kamu akan melanjutkan perjalanan menuju ke tempat yang seharusnya."


Dia mengangguk. Wajahnya seketika terlihat lebih sumringah. Syukurlah, dia mulai memiliki semangat lagi.


Aku melangkah memasuki portal. Dan dalam hitungan detik, tubuh astral telah kembali masuk kedalam tubuh material.


Walaupun sudah membuka mata, aku belum ingin beranjak dari tempatku berbaring.


Ingatan saat di kediaman pak Rasyid, membuatku sangat sedih dan terluka cukup dalam.


Aku mulai menangis tanpa bersuara.


Air mata semakin deras mengalir, hatiku juga bertambah-tambah sakitnya.


Ternyata aku tidak siap dengan semua kejadian yang kualami.


Aku terlalu menghormati dan mengagumi pak Rasyid. Dan hanya dalam waktu begitu singkat, dia telah menghancurkan keagungan yang kubangun untuknya di dalam hatiku.


Selama ini, aku selalu berusaha untuk tidak memiliki hubungan apapun dengan para astral. Karena konsekuensinya sangat berat.


Dan disaat hatiku goyah, aku jatuh cinta padanya.Caranya memperlakukanku, caranya mencintai. Semua itu meluluhkan hatiku.


Kalau memang itu benar, kenapa dia tidak belajar dari pengalaman?


Dimana dia pernah merenggut nyawa kekasihnya karena sifat posesifnya itu.


Lalu sekarang dia juga melakukan hal yang sama hanya karena aku ingin mengembalikan pakaian pemberiannya.


Ketika mengingat pakaian pemberiannya, aku sadar kalau masih memakainya.


Perlahan-lahan, aku melepas pakaian yang kukenakan.


Kemudian segera mandi dan berganti pakaian.


Sambil menunggu air panas untuk membuat teh. Aku membentang pakaian pemberian pak Rasyid diatas kasur.


Memperhatikan setiap detail dan hiasan batu permata yang dirangkai dengan begitu indah.


Tidak pernah terpikirkan olehku, kalau batu-batu permata itu dibuat dari tanduk miliknya.


Bagaimana caranya memotong tanduknya sendiri? Serta melebur dan mengasahnya untuk menjadi perhiasan yang berkilauan.


Betapa besar cintanya pada kekasihnya itu.Sampai dia rela mengorbankan tanduknya untuk membuat busana seindah ini.


Atau dia merasa bersalah? Dan dengan cara itu dia ingin menebus kesalahannya.


Tetapi, aku bukanlah kekasihnya itu. Seandainya memang benar, aku adalah samsara, hal itu menjelaskan kalau dia tidak mencintaiku.


Dia hanya mencintai sang samsara.


Baginya aku hanyalah reinkarnasi dari kekasihnya itu.


Menerima kenyataan itu, hatiku semakin sakit. Kulipat pakaian pemberiannya dengan rapi, kemudian menyimpan ke dalam sebuah kotak.


Kotak itu, sebenarnya adalah tempatku menyimpan benda-benda kenangan.


Kotaknya tidak besar.


Hanya 30x30 cm dengan tinggi 15 cm.


Bahan pakaian ini memang menakjubkan, serta kekuatan sihir milik pak Rasyid benar-benar menguasainya.


Tapi tetap patuh masuk kedalam kotak.


Sekarang, aku memiliki dua benda yang seharusnya tidak berada di dunia manusia.


Tabung itu, dan pakaian. Semua harus aku simpan di tempat penyimpanan yang aman.


Sampai aku bisa menitipkan pada seseorang yang dapat kupercaya di dunia Astral.


🍃🍃