SINTRU

SINTRU
SINTRU- 51



BY: Tiara Sajanaka


🌼 Setelah selesai membahas masalah area untuk para astral penghuni Villa, Arkana membawaku berkeliling istananya.


Saat kami berkeliling, dia mengijinkan mbak Kun mengikuti kami dalam jarak sepuluh meter. Dengan pengawalan para penjaga istana.


Dia menunjukkan setiap area di dalam istana.


Balai kesenian, balai perpustakaan, aula pertemuan, serta semua ruangan yang cukup luas untuk setiap kegiatan.


Istana milik Arkana, lebih mirip bangunan tempat ibadah di Thailand. Dengan bagian puncaknya tinggi dan meruncing.


Aku ingin menanyakan hal itu, tapi Arkana sedang menjelaskan fungsi setiap bangunan dan untuk apa dia membangunnya dengan megah.


Kehidupan para astral di wilayahnya, semua sama seperti kehidupan di dunia manusia.


Itu sebabnya, dia menunjukkannya.


Agar aku tahu, kalau mereka juga sama dengan makhluk yang dikatakan paling sempurna. Yaitu manusia.


Hanya saja, mereka tidak memiliki tubuh material seperti halnya manusia.


"Kamu perhatikan, Lira. Disini tidak ada bedanya dengan kehidupan di dunia manusia. Kalau kamu menginginkan sesuatu yang belum ada disini. Katakan saja. Nanti akan aku buat seperti keinginanmu."


"Saat ini, saya tidak memiliki keinginan apapun pak. Kehidupan saya di dunia manusia sudah cukup baik."


Arkana menoleh kearahku. Dia menatapku dengan pandangan heran.


"Bagaimana bisa dikatakan cukup baik? Kamu tinggal di kamar kecil. Bekerja dari pagi sampai sore. Harus memikirkan kebutuhan hidup setiap harinya. Sedangkan disini kamu tidak perlu melakukan itu. Aku akan memberikan apapun yang kamu inginkan."


Aku tersenyum tipis, bagaimana aku bisa tahan dengan kehidupan yang membosankan itu?


Aku menikmati setiap tantangan dan perjuangan dalam perjalananku sebagai manusia. Karena itulah sebenarnya kehidupan.


Kalau aku memutuskan untuk menjadi penghuni dunia astral, hal itu pastilah akan sangat membosankan buatku.


Karena menjadi manusia,banyak sekali anugrah yang diberikan kepada kita.


Anugrah tubuh material, anugrah Budi pekerti agar kita dapat membuat pilihan, anugrah banyak pengampunan, dan anugrah kematian yang membuat hidup singkat itu menjadi lebih bermakna.


"Apa bapak pernah menikmati mie instan?" tanyaku iseng.


"Mie instan? Itu tidak baik untuk kesehatan."


"Hahha..itu benar kalau kita memakannya setiap hari. Tapi saat hujan dan udara dingin, dapat menikmati semangkuk mie instan itu sungguh menakjubkan pak." kataku sambil membayangkan semangkuk mie instan rebus.


"Kamu itu..suatu saat, ajak saya menikmati mie instan itu."


"Apa bapak bisa makan, makanan manusia?"


"Makhluk yang sudah berusia ribuan tahun sepertiku, tentu saja bisa melakukan apapun di dunia manusia.Kecuali mencabut nyawa manusia. Aku tidak berhak melakukan itu."


"Lalu, kenapa bapak memerlukan seorang istri dari dunia manusia?"


"Selama ini, saya mempelajari tentang kehidupan setelah kematian. Manusia yang bersekutu dengan makhluk astral, akan menjadi hamba bangsa astral setelah ajal menjemput."


"Itu benar Lira. Tapi untuk beberapa ketentuan dan beberapa hal yang telah mereka sepakati selama menjadi manusia. Mereka membuat kontrak kematian saat mereka masih hidup."


"Menjadi istri bapak, apa tidak termasuk membuat kontrak kematian?"


"Hahaha..kamu selalu ingin tahu tentang kehidupan dunia astral. Sebaiknya, jangan mencari tahu secara berlebihan. Kapasitas memorimu tidak sebesar isi semesta ini."


"Banyak hal di dunia manusia yang tidak sesuai dengan kebenaran tentang para astral.Kebanyakan manusia mengetahui hanya dari katanya.. tanpa mencari tahu tentang kebenarannya."


"Manusia diberi akal Budi pekerti. Seharusnya mereka tidak asal menelan bulat-bulat semua hal tanpa di cerna dulu."


"Kami takut kualat, takut berdosa dan takut masuk neraka, pak."


"Apa sudah ada yang pernah masuk neraka lalu kembali ke dunia manusia untuk menceritakan tentang neraka itu?"


"Setahu saya, mereka hanya sebatas pemikiran dari cerita-cerita dalam ajaran agama."


"Di dalam dunia astral, makhluk seperti kami juga memiliki keyakinan. Tetapi keyakinan itu untuk memperbaiki dan membangun karakter diri menjadi lebih baik."


"Bukankah para astral telah hidup ribuan tahun? Apakah mereka membutuhkan keyakinan juga?"


"Lira, berbicara denganmu membuatku sangat bersemangat. Aku suka kamu selalu memiliki banyak pertanyaan. Walaupun tidak semua pertanyaanmu akan mendapatkan jawaban."


"Saya tidak ingin, waktu yang saya jalani menjadi sia-sia pak."


Dia tersenyum. Saat tersenyum, aku dapat melihat pantulan pak Rasyid disana.


Kira-kira sedang apa pak Rasyid sekarang?


Aku menoleh ke arah mbak Kun. Dia mengatakan kalau sudah waktunya aku pergi.


Sebentar lagi waktu subuh akan tiba.


Dia juga harus segera kembali sebelum fajar.


"Pergilah Lira, temanmu sudah terlihat gelisah." ucapnya lembut.


"Baik pak, saya harus kembali sebelum fajar."


Dia tersenyum dan mengangguk.


Kemudian mengantarku sampai gerbang dalam istananya.


Sebelum aku pergi, dia berpesan agar aku kembali untuk menandatangani surat kepemilikan area itu.


Aku berjanji akan kembali serta menyelesaikan tugas yang telah ku sepakati.


🍃🍃