SINTRU

SINTRU
SINTRU- 21



SINTRU- 21


By : Tiara Sajanaka


🌼 Selesai menulis daftar harga, karton aku tempel di pintu bagian luar dengan lakban.


Kemudian kembali menutup dan mengunci pintu.


Air sudah mendidih. Kuseduh susu coklat yang sudah kutuang kedalam mug keramik.


Menikmatinya sedikit demi sedikit menggunakan sendok.


Sedang asyik menikmati susu coklat panas, terdengar seseorang mengedor pintu kamar.


Sudah dapat dipastikan, dia mencari mie instan.


Kubuka pintu sedikit saja, dan menanyakan keperluannya.


"Lira, aku laper banget. Bisa pinjam mie instan satu?" tanyanya.


Kutunjukkan tulisan yang terpasang didepan pintu.


"Nanti gajian aku bayar,"


"Sekarang, sudah tidak ada lagi stokku mbak. Aku belum belanja." kataku sopan.


"Ih, pelit banget kamu." ketusnya.


"Tuh lihat boxnya. Tinggal beras, migor sama ikan asin."


"Kalau gitu, aku pinjam duitlah buat beli mie instan di sebrang."


"Aku belum gajian mbak. Yang mbak pinjam bulan lalu juga belum dikembalikan."


"Nanti gajian aku lunasi semuanya."


"Maaf mbak, aku memang belum gajian. Coba mbak pinjam sama yang lainnya dulu."


"Ah sudahlah. Memang nggak mau kasih pinjam kamu." ucapnya kasar.


"Trus kenapa? Memang ada hutangku samamu? Selama ini, berapa kamu pinjam duitku? Berapa kamu pinjam stok makananku? Ada balik semua?" desisku marah.


Kesabaranku benar-benar hilang sama wanita satu ini.


Dibaikin malah nglejunjak.


Dia marah dan berteriak padaku.


Aku segera keluar kamar, lalu menutup pintu dari luar.


Memandang dia tajam sambil bersedekap.


Para anak kost lainnya juga keluar kamar, melihat kearah kami.


Aku tidak peduli dengan tatapan heran mereka.


"Sekarang mbak mau apa? Bilang! Aku dengarkan. Nggak usah berteriak." desisku.


Dia terkejut melihat caraku menatapnya.


Selama ini, semua anak kost disini selalu melihatku sangat sopan, lembut, ramah, dan tidak pernah menolak saat mereka meminta bantuan.


Hal itu, membuatku terlihat lemah.


Seharusnya mereka menjadi segan saat orang bersikap baik.


Tapi disini, mereka menganggap aku bisa di akal-akalin. Dan bersikap sepele padaku.


Sekarang mereka bisa melihat, bagaimana sikapku saat aku mulai kesal.


Tetangga kostku itu langsung pergi meninggalkanku.


Saat aku masuk kedalam kamar, terdengar suara hempasan pintu dari kamarnya.


Mungkin mereka akan menganggap aku keterlaluan. Tapi biarlah.


Kita semua di kota ini, sama-sama perantau.


Sama-sama mencari nafkah.


Saat aku nggak punya apa-apa, mereka juga tidak bersedia memberikan stok miliknya.


Walaupun aku mengatakan besok akan dikembalikan.


Sedangkan mereka seperti mendadak amnesia. Kalau selama ini sering meminjam dariku.


Aku tidak peduli tentang gosip besok pagi.


Toh aku jarang berada di kost-an saat siang hari.


Mungkin sudah waktunya aku harus mencari tempat kost lain.


Disini sungguh tidak sehat cara mereka berteman.


Saat butuh, mereka seperti penjilat.


Saat tidak butuh, punggungnya saja yang terlihat.


Teman-teman kost yang tidak bisa diajak berteman.


Aku mendengar suara orang berbisik-bisik di depan pintu.


Segera kubuka pintu untuk melihat, sedang apa mereka.


Mereka terkejut saat melihatku membuka pintu.


"Ada apa?" tanyaku dingin.


Ada lima orang sedang berdiri didepan pintu kamar.


Mereka tersenyum malu, sambil menunjuk kearah karton.


"Ya, apa kalian membutuhkan mie instan? Sekarang stokku sudah habis. kalian boleh lihat sendiri kalau tidak percaya." kutunjukkan kotak tempat penyimpananku.


"Kamu nggak ikhlas selama ini, orang meminjam makanan?" tanya seseorang yang kamarnya tepat berada didepan kamarku.


"Yang sudah lewat. Aku ikhlas. Tapi untuk selanjutnya, kalian boleh membelinya."


Mereka terlihat saling berpandangan.


"Begini ya, mbak-mbak cantik. Selama ini, kalian meminjam mie instan, cemilan, kopi sachet, susu sachet, sampai pembalut, aku tidak persoalkan." aku sengaja menggantung kalimat. Untuk melihat respon mereka.


"Trus, kenapa sekarang kamu malah berbisnis disini?" celetuk orang disebelah kamarku.


"Aku tidak berbisnis. Kalian lihat saja harganya. Lebih murah dari warung di sebrang jalan."


Mereka melihatku dengan kesal.


Tapi aku sudah tidak peduli. Apa mereka berani mengeroyokku karena masalah mie instan?


"Malam ini, aku kehabisan stok mie. Apa kalian ada yang bersedia memberiku pinjaman mie ataupun cemilan?" tanyaku sinis.


Aku yakin, mereka akan mengatakan tidak memiliki stok makanan.


Mereka saling pandang satu sama lainya.


Aku tersenyum tipis melihat kelakuan mereka.


Tanpa pamit pada mereka, aku segera masuk kamar dan menutup pintu.


Malas meladeni orang-orang seperti mereka.


Rata-rata mereka memang tidak pernah memiliki stok makanan.


Karena mereka tahu, saat salah satu dari anak kost ada yang meminjam stok makanan, maka sudah dapat dipastikan tidak akan dikembalikan.


Berapa sih harga sebungkus mie instan?


Selalu terdengar kata-kata seperti itu.


Itu sebabnya, ada yang lebih suka membeli satu bungkus mie instan saat diperlukan.


Agar tidak ada kejadian pinjam meminjam.


🍃🍃