SINTRU

SINTRU
SINTRU- 37



By: Setya Rahayu


🌼Aroma lembut dan manis tertangkap Indra penciumanku.


Sayangnya aku begitu lelah untuk sekedar membuka mata.


Dalam hati aku bertanya-tanya, bukankah aroma green tea yang tadi kuteteskan kedalam wadah elektrik?


Kenapa sekarang tercium aroma coklat, madu dan buah-buahan.


Mungkin pak Rasyid sedang minum coklat panas. Pikirku.


Kembali kulanjutkan tidur tanpa rasa curiga.


Dengan mata terpejam, aku berusaha mencari bantal guling herbal disekitar tempatku berbaring.


Tanganku menyentuh sebuah bantal berbentuk lingkaran dengan penutup terbuat dari beludru halus dan dingin.


Seketika kubuka mata dan melihat ke sekeliling.


Aku terkejut ketika menyadari tidak berada didalam kamarku.


Pak Rasyid telah membawaku ke tempatnya.


Kamar ini sangat luas, dengan ranjang megah dan klasik. Bantal-bantal berbalut beludru dan satin, berada di sekelilingku.


Kamar ini memiliki ornamen bernuansa keemasan disetiap bagiannya. Sangat mewah juga klasik.


Ditengah ruangan, sebuah meja makan besar membuatku terpana.


Diatas meja itu terdapat berbagai macam jenis buah-buahan.


Sebuah air mancur kecil, terus menerus mengalirkan coklat panas yang terlihat sangat lezat.


Disamping coklat itu, terdapat sebuah wadah transparan yang penuh dengan madu berwarna kuning cerah.


Aroma coklat panas membuatku tidak dapat menahan diri. Segera aku turun dari atas ranjang.


Karena terburu-buru, hampir saja kakiku terserimpet pakaian yang kukenakan.


Pakaian dengan rok panjang yang penuh detail dan pernak-pernik batu permata.


Sangat merepotkan.


Tidak kupedulikan pakaian yang kukenakan sekarang. Saat ini perhatianku hanya tertuju pada coklat diatas meja itu.


Kupandang semua buah-buahan yang terhidang dengan rasa takjub.


Begitu juga dengan air mancur coklatnya.


Semua yang terlihat di atas meja membuatku meneguk air liur.


Tapi, aku tetap berusaha menahan diri.


Karena pikiranku sangat sadar. Kalau aku bukan berada di dunia manusia.


"Kamu boleh memakannya, Lira." tiba-tiba pak Rasyid sudah berdiri di sampingku.


Kugelengkan kepala dengan sedih.


"Semua ini, aku bawa dari dunia manusia. Buah, coklat dan madu. Semua aman untuk kamu makan."


Aku masih belum yakin dengan kata aman itu. Karena guru selalu berpesan, kalau aku tidak boleh memakan makanan para astral.


Sebab jenis mereka sama seperti manusia.


Mengolah lahan, berkebun, beternak juga bekerja seperti halnya manusia.


"Saya tidak lapar, pak."


"Kamu belum makan malam sejak tadi. Bagaimana bisa kamu mengatakan tidak lapar?"


"Saya jarang makan malam."


Memang aku jarang sekali makan malam. Karena biasanya saat berpuasa Senin Kamis, aku makan saat berbuka saja. Setelahnya tidak makan lagi.


Pak Rasyid mengajakku duduk di kursi yang berada di sekeliling meja makan.


"Duduklah," dia menarik sebuah kursi untukku.


"Biasanya, aku tidak pernah melayani siapapun. Tapi untukmu, apapun akan kulakukan. Termasuk melayanimu."


"Saya tidak ingin apa-apa pak." perasaanku menjadi semakin takut padanya.


Dia terlihat sangat berkuasa dan sering memaksakan kehendaknya.


Pak Rasyid mengambil sebuah stroberi menggunakan garpu kecil.


Kemudian meletakkan stroberi itu di dalam aliran coklat panas.


Sebentar kemudian, dia mengambilnya.


"Apa kamu bisa menolak makanan favoritmu?" tanyanya sambil mengangsurkan stroberi itu tepat di depan wajahku.


Aroma coklat itu membuatku meleleh. Tapi aku tidak mau menerimanya.


Pak Rasyid mengambil piring kecil untuk meletakkan buah itu.


Dia menghela nafas panjang.


Kemudian duduk disebelahku.


"Kamu tidak mempercayaiku?"


"Saya tidak pernah percaya pada makhluk astral pak."


"Termasuk padaku dan pada wanita itu?"


"Tanpa terkecuali."


"Hahaha.. sekarang aku tahu. Kenapa mereka memberimu julukan si hati beku."


"Kenapa memangnya pak?"


"Kamu tanyakan saja pada mereka. Aku hanya menebak saja." kekehnya.


"Menyebalkan,"


"Kenapa kamu jadi berubah Lira? Tempo hari, kamu sangat ceria dan mudah sekali tertawa. Sekarang kamu terlihat selalu cemberut."


Benar kata pak Rasyid. Tempo hari aku merasa tanpa beban saat berada di dunia astral.


Tapi, sejak aku mulai menyadari perasaanku pada pak Rasyid, aku merasa mendung tebal sedang menaungiku.


🍃🍃