SINTRU

SINTRU
SINTRU- 54



By: Tiara Sajanaka


๐ŸŒผSore hari,badan sudah mulai terasa lebih baik.


Hatiku juga sudah berdamai dengan keadaan yang kualami.


Aku tidak mau berada dalam kondisi terpuruk selama berhari-hari.


Semua kejadian yang kualami, akan terlupakan bersama berjalannya waktu.


Driver ibu manager dua kali mengantarkan makan siang ke kamarku.


Sewaktu melihat Trisna menemaniku, beliau meminta bapak driver untuk mengantar lagi makan siang buat Trisna.


Rasanya sulit sekali mendapatkan atasan yang begitu perhatian.


Tentu saja, aku menjadi semakin segan pada beliau.


Malam ini, aku harus menyelesaikan urusanku dengan mas Jantaka.


Serta menuntun para astral untuk tinggal ditempat yang telah diberikan Arkana.


Semua akan berakhir malam ini.


Semoga aku bisa kembali dengan tubuh utuh.


Namun aku bersyukur, besok adalah hari off ku.


Jadi aku bisa tidur sepanjang hari untuk memulihkan stamina.


Sebelum magrib, aku sudah menyiapkan diri dengan berbagai bacaan doa dan dzikir.


Karena semua itu adalah benteng buat tubuh astral.


Aku juga mengirim pesan lewat chat pada Trisna. Kalau habis magrib, aku akan tidur.


Dan memintanya untuk istirahat setelah pulang kerja.


Namun, perasaanku terasa semakin kosong dan rapuh.


Aku seperti tidak siap bertemu pak Rasyid malam ini.


๐ŸŒผ


Sesampainya di depan villa milik mas Jantaka, aku sangat terkejut.


Baru beberapa hari tidak datang, villa itu semakin terlihat Sintru.


Cat mulai mengelupas.


Rembesan air yang berwarna coklat mengalir di beberapa bagian dinding. Atap juga terlihat akan runtuh.


Ternyata, sewaktu keempat tiang di ruang jemuran itu di potong, rumah langsung mengalami perubahan drastis.


Seperti kehilangan kekuatannya.


Secara keseluruhan, villa itu menjadi sangat memprihatikan. Suasana suram juga semakin menggelayut.


Seakan-akan bangunan villa itu akan runtuh kapan saja.


"Mbak, masuklah." suara mas Jantaka terdengar dari arah dalam.


Dengan hati-hati kubuka pintu villa agar tidak mengeluarkan suara berderit.


Ternyata suara berderit itu masih tetap terdengar.


"Apa kabar mas?" tanyaku sambil duduk di sofa.


"Baru kemarin kita bertemu, mbak sudah nanya apa kabar." ucapnya datar.


"Kabar hari ini bagaimana?" tanyaku kikuk.


"Istri saya minta kembali ke sini mbak. Menurut mbak bagaimana?"


"Sekarang istri mas dimana?"


"Mbak ini, dari tadi kok kelihatan aneh ya? Kan tiga hari yang lalu, mbak meminta saya untuk mengantarkan istri ke rumah mertua."


"Masih di rumah mertua ternyata."


ucapku pelan.


Dia benar, aku memang terlihat aneh. Karena sebenarnya, baru hari ini kami bertemu lagi.


Sedangkan beberapa hari yang lalu, pak Rasyid telah meminta seseorang untuk menggantikanku menemui mas Jantaka.


Tentu saja mas Jantaka tidak menyadari kalau beberapa hari ini yang menemuinya bukanlah diriku yang asli.


"Mas, besok rumah sudah bisa dibongkar dan dibangun kembali. Malam ini, saya akan membawa empat tiang dari ruang jemuran ke tempat lain. Setelah itu, rumah mas ini tidak akan mengalami gangguan lagi."


"Lalu bagaimana dengan istri saya mbak?"


"Sebaiknya, menunggu sampai rumah sudah selesai dibangun. Nanti, teman saya akan mengembalikan energi istri mas."


"Begitu ya mbak? Jadi, malam ini kita akan meminta para astral pulang dulu?"


"Benar mas, apa paman mas akan menemani kita?"


"Paman sudah ada di ruang belakang, sedang menyiapkan segala keperluan untuk membawa tiang-tiang itu."


"Baiklah mas, mas bisa kembali ke tubuh material. Saya akan mendampingi untuk membawa kayu-kayu itu."


"Apa kita tidak akan bertemu lagi setelah ini, mbak?"


"Mas bisa memberikan nomer telpon. Agar kita bisa berkomunikasi di dunia manusia."


"Nanti akan saya tuliskan di secarik kertas. Dan memberikannya pada mbak."


Aku berfikir sejenak, kalau mas Jantaka memberiku nomer telpon, aku hanya bisa menghafalkan nomer-nomer itu. Karena aku pasti tidak bisa membawa kertas itu melewati gerbang astral.


"Mas tulis saja. Nanti akan saya hafalkan nomer telponnya."


Mas Jantaka setuju. Setelah itu dia kembali kedalam tubuh material untuk membantu pamannya melakukan doa dengan tata cara yang sudah dijelaskan oleh orang suruhan pak Rasyid.


Aku segera menuju ke ruang jemuran.


Ruangan itu sudah tidak memiliki atap. Keempat tiang penyangga atap sudah di potong dan dikumpulkan diatas sebuah alas daun jati yang telah dirangkai sedemikian rupa.


Daun jati itu, fungsinya sebagai pembungkus kayu-kayu saat akan di bawa ke area yang telah diberikan Arkana.


Ntah bagaimana caraku nanti akan membawa kayu besar-besar dan berat itu?


Empat kayu bekas tiang di ruang jemuran itu, lingkarnya saja sekitar satu setengah meter.


Belum berat dan panjangnya.


Semoga saja, aku tidak harus memanggul kayu-kayu itu.


Benar-benar proses yang panjang dan berat.


๐Ÿƒ๐Ÿƒ