SINTRU

SINTRU
SINTRU- 76



By: Tiara Sajanaka


🌼 Setelah sarapan, dia mengajakku duduk disebuah taman yang terkenal di daerah Karangasem.


Kami tidak berkeliling. Karena aku sudah sering berkunjung kesini.


Kami duduk ditempat yang sedikit jauh dari orang-orang yang berlalu-lalang.


Tempatnya teduh, dengan pepohonan yang rindang.


"Sekarang, jawab pertanyaanku tadi."


"Pertanyaan apa?"


"Duh Lira, kamu memang sengaja memprovokasiku."


"Aku lupa, selesai makan bawaannya ngantuk. Aku jadi tidak ingat, kamu bertanya apa?"


"Tadi aku bertanya.Kalau perwujudanku Seperti Arya, apa kamu akan mencintaiku?"


"Tidak!"


"Sadis!"


"Lha, tadi katanya jawabanku muter-muter. Sekarang aku jawab singkat, malah dikatakan sadis."


"Setidaknya, jawab dengan kalimat yang enak didengar."


"Baiklah. Akan kulakukan." sahutku terkekeh.


"Aku dengarkan,"


"Aku memiliki selera yang baik. Aku menyukai laki-laki dengan badan bagus dan kepribadian yang baik.Kalau pak Rasyid memiliki tubuh seperti Arya, dari awal kita bertemu, aku tidak akan memiliki perasaan apapun pada bapak."


"Kamu melihat fisik. Bukan siapa yang berada didalam tubuh itu."


"Tentu saja pak, saya tidak mengenal pemilik tubuh itu. Bagaimana saya bisa mencintai pemilik tubuh. Sedangkan yang saya lihat adalah fisiknya terlebih dulu."


"Aku tidak seperti itu. Bagaimanapun fisikmu yang terlihat olehku, tidak akan mempengaruhi perasaanku padamu."


"Sebab, kamu mencintai seseorang dari masa lalumu. Kamu bukan mencintai Lira. Cintamu hanya pada kekasihmu itu."


"Aku mencintaimu sebagai dia dan perwujudannya saat ini."


"Hal itu sangat melukai perasanku. Aku lebih suka hubungan tanpa ikatan. Daripada memiliki hubungan karena perasaanmu pada kekasihmu itu. Selama ini, aku hanyalah bayangannya saja."


"Bukan seperti itu, Lira."


"Tidak apa, aku tahu kamu dalam posisi sulit untuk menjelaskan. Tapi aku sadar. Kalau sebenarnya, cintamu hanya untuk dia." ucapku sedih.


"Sebaiknya kita tidak meneruskan obrolan ini."


"Bukankah pak Rasyid yang memulai membahas hal ini?"


"Aku tidak menyangka, manusia itu sangat rumit. Pertanyaan sederhana tadi, malah bisa menjadi satu makalah penuh." candanya.


"Mungkin wanita lain tidak akan memberikan jawaban sepertiku."


"Ya, aku lihat juga seperti itu. Mungkin karena kamu pemikir. Semua hal harus dijabarkan tuntas."


"Apa karena hal itu, aku sulit mendapatkan teman diskusi yang klik. Aku malas berbicara dengan orang dangkal dan tidak smart."


"Apa aku seperti itu?"


Pak Rasyid tersenyum. Dia menatapku lembut. Kemudian menghela nafas panjang.


Ternyata memang sulit menjadi teman bicaraku. Jangankan manusia yang berinteraksi langsung denganku.


Makhluk astral sekelas pak Rasyid saja, memilih bersikap aman saat berbicara denganku.


Menyebalkan sekali.


"Pak, bukankah saudara satu ayah banyak sekali. Kenapa hanya Manggala yang terlihat dekat?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.


"Aku dekat dengan semua adik-adik. Laki-laki dan perempuan. Mereka sering berkumpul ditempatku."


"Tapi, selama ini hanya Manggala yang bersamamu."


"Mereka menghormatimu sebagai kekasihku. Itu sebabnya, saat aku bersamamu, mereka tidak akan mengganggu kita. Sedangkan Manggala, dia memiliki tanggung jawab menjagamu."


"Oh, ternyata kalian kompak juga ya. Apa tidak ada yang ingin berada di posisimu saat ini?"


"Selama ini, tidak ada. Mereka juga tahu dimana batas kemampuan mereka. Apalagi tuan Arkana telah memberi mereka area dengan sangat adil."


"Bagaimana dengan astral lainnya? Apa mereka juga kompak dengan kerabatnya?"


"Tidak semua seperti itu. Ada juga yang seperti manusia. Haus kekuasaan, jabatan dan kedudukan tanpa melihat kemampuan dirinya."


"Kok seperti manusia? Bukankah selama ini kalian identik dengan hawa nafsu?"


"Yang diberi nafsu berlebihan itu manusia. Kami para astral tidak memiliki hawa nafsu melebihi manusia. Memangnya kami setan apa?" kekehnya.


"Ya selama ini, manusia mengatakan kalau setan menggodanya."


"Dalam kitab suci memang ada disebutkan ayat itu. Tetapi mereka tidak melakukan pendalaman pada ayat itu."


"Madsudnya bagaimana?"


"Bukankah setan itu bersemayam dihati manusia? Seharusnya disini manusia bisa mengkaji lebih dalam lagi. Siapa setan itu. Dan bagaimana rupa setan itu?"


"Apa iblis dan setan itu sama?"


"Aku tidak akan membahas hal itu. Sebagai bangsa jin, kami tidak membicarakan tentang sesepuh kami."


"Andai saja kamu bukan dari bangsa jin. Aku akan melekat padamu sepanjang waktu." ucapku serius.


Pak Rasyid menatapku dengan terkejut.


"Aku tidak menyangka kamu akan mengucapkan kata-kata menyakitkan itu."


Aku sendiri juga terkejut dengan ucapanku.


Ntah kenapa kalimat itu harus terlontar tiba-tiba.


Perasaan bersalah membuatku ingin mengatakan maaf padanya.


Tapi, nanti dia akan salah paham dengan kata maaf itu.


🍃🍃