SINTRU

SINTRU
SINTRU-108



By : Tiara Sajanaka


🌼"Apa selama ini kamu pernah mengkhawatirkanku?"


"Tentu saja! Sewaktu kamu akan menghadapi para tetua di meja pengadilan."


"Kamu memikirkan apa?"


"Aku khawatir, kamu akan berada disuatu tempat yang tidak dapat kukunjungi."


Rasyid menggenggam tanganku. "Andai kita dapat selalu bersama. Kita akan menjalani hari-hari yang menyenangkan. Melakukan hal-hal yang menakjubkan bersama-sama."


"Apa kamu akan memiliki kesempatan untuk menjadi manusia?"


"Kamu kebanyakan nonton filem." kekehnya.


"Rasyid, bagaimana dengan akar laut yang kamu madsudkan itu?"


"Aku akan meminta Manggala mengambilnya. Agar kamu bisa melihat fungsinya."


"Apa akar laut itu tidak berbahaya?"


"Tidak, malah sangat baik untuk menaikkan energi manusia."


"Kalau begitu, sebaiknya aku segera kembali. Besok aku akan datang untuk melihat Akar laut itu."


"Aku akan mengantarmu sampai gerbang astral." dia meraih tanganku dan membawaku keluar dari kamarnya.


"Sebaiknya kita berjalan-jalan sampai gerbang astral." ucapnya.


"Kenapa? Kamu belum benar-benar pulih. Sebaiknya kita pakai kendaraan saja." tunjukku pada sepeda motor yang terlihat berada di deretan mobil.


"Kamu mau naik motor trail?"


"Ya, tentu saja. Aku sangat menyukai motor belalang itu."


"Tapi, aku belum boleh mengendarainya. Setelah aku pulih, aku janji akan membawamu berkeliling menggunakan motor itu."


"Lalu, kenapa kita tidak pakai mobil saja?"


"Aku ingin kita berjalan-jalan berdua sambil bergandengan tangan. Apa kamu keberatan?"


Aku tersenyum bahagia. Dia sungguh romantis.


Dibawah cahaya bulan purnama, dia membawaku berjalan-jalan. Tentu saja aku tidak keberatan.


Rasyid tidak melepaskan tangannya saat kami menyusuri jalan menuju gerbang astral.


Gerbang yang selalu berpindah setiap menit.


Hal itu memudahkan untuk menemukan gerbang astral.


Rasyid juga bisa merasakan jalur silver milikku. Dia tahu, harus kemana arah kita saat berada di dunia Astral.


Dua orang pengawal mengikuti kami dari jarak cukup jauh. Mereka selalu berada didekat Rasyid, sejak kejadian itu.


Tuan Arkana sangat menyayangi putra pertamanya itu. Walaupun sering dengan cara yang tidak terduga.


Bangsa astral memiliki kasih sayang yang besar pada keluarganya. Serta menjaga hubungan kekerabatan dengan sangat baik.


"Apa aku akan bisa mengingat semua kejadian disini? Kalau nantinya kalian akan menghapus ingatanku."


"Ada beberapa bagian yang dapat terhapus sempurna. Tapi ada bagian yang sulit untuk dilepaskan. Semua ada kaitannya dengan perasaan yang kamu miliki."


"Kalau saat itu tiba, bagaimana caramu menemuiku? Aku pasti tidak ingat wajahmu sama sekali."


Rasyid berjalan sambil melihat kearah langit.


Dia menatap bulan purnama dengan wajah sedih.


"Saat bulan penuh, aku akan berjuang untuk menemuimu." kataku spontan.


"Kamu yakin?"


"Yakin! Asal kamu menunjukkan padaku suar itu."


"Kamu tahu tidak, kalau efek suar itu sangat berat pada tubuh material?"


"Madsudnya bagaimana?"


"Suar itu memiliki energi cahaya yang besar. Tubuh manusia tidak dapat terus menerus menerima paparan cahaya sebesar itu. Seperti radiasi yang ditimbulkan dari gelombang listrik yang besar."


"Lalu, apa efeknya pada tubuhku?"


"Kamu akan mengalami kelelahan dan dehidrasi. Tubuhmu akan terasa seperti remuk redam.Kamu juga akan mengalami amnesia ringan. Rambut rontok, kulit kering serta emosi yang tidak stabil."


Aku terkejut mendengar penjelasannya. Hal itu tidak pernah terlintas didalam pikiran.


Ternyata sedahsyat itu efek negatif yang ditimbulkan oleh suar Astral.


Waktu Rasyid memberiku suar pada hari itu.Tidak terjadi hal-hal yang membuatku mengalami kejadian buruk.


Tetapi, dua hari kemudian, aku benar-benar tumbang.


🍃🍃