
By: Tiara Sajanaka
🌼Kulihat kelebatan pasukan udara mengawasiku dari jauh. Aku tidak khawatir pada mereka seperti dulu.
Sekarang, mereka mengawasi untuk keamananku selama melintasi wilayah udara.
Dengan tenang, aku turun mendekati batas area milik Manggala. Kemudian berjalan menyusuri tepian sungai sampai ke ujung batas area tanah pemberian Arkana.
Batu besar yang berada di tepi sungai, mengingatkanku pada pertemuan saat menjelang magrib.
Dia memang dingin sejak awal.
Bukan karena wajah tampannya dan postur tubuhnya yang membuatku menyukainya. Tapi, sikapnya yang dingin dan tenang itulah, yang telah membuatku begitu tertarik padanya.
Sayangnya, sekarang dia terlihat seperti seorang bocah dengan tingkah laku menyebalkan. Beberapa kali, aku melihatnya menjadi tidak terkendali.
Tentunya hal seperti itu, menunjukkan sifat ketidak dewasaannya.
Bagaimana dia akan memimpin begitu banyak makhluk di wilayah ini?
Kalau dia belum mampu mengendalikan emosi.
"Dia sangat bijaksana Lira." tiba-tiba Mbak Kun sudah berada di sampingku.
"Kenapa kamu suka sekali membuatku terkejut?"
"Aku sudah memanggilmu dari tadi. Tapi kamu malah ngeloyor terus sampai ke ujung sini." sungutnya.
"Aku tidak mendengar suara panggilanmu."
"Kamu sedang melamun, Lira. Apa hatimu terlalu pedih dengan situasi saat ini?"
"Tidak, aku sedang kesal padanya. Dia telah menghantam dinding istana kosong sampai berlobang besar."
"Tenaga mereka memang besar. Untung saja, dinding itu tidak roboh." kekehnya.
"Kenapa begitu?" tanyaku bingung.
"Dinding istanamu itu memiliki tujuh lapis material dari dasar gunung. Kekuatannya setara dengan benteng terkuat di seluruh wilayah ini." jelasnya.
"Kenapa pak Arkana membangun sekokoh itu?"
"Ya kamu lihat sendiri, bagaimana kekuatan Rasyid? Ternyata antisipasi yang dilakukan tuan Arkana sudah benar." mbak Kun tertawa nyaring. Suaranya terdengar membahana ke seluruh kawasan.
"Aku sedikit paham. Walaupun tidak mengerti. Kenapa Rasyid harus melakukan hal itu?"
"Dia masih sangat muda. Ditambah dengan perasaannya padamu, membuat dia menjadi sensitif dan menunjukkan pemberontakannya."
"Ya dia menjadi kekanakan-kanakan. Membuatku hilang rasa padanya." sahutku kesal.
"Kamu harus bisa memahami sikapnya saat ini. Dia sedang tidak baik. Dia butuh kamu sebagai pendukungnya. Seharusnya, kamu tidak meninggalkan dia disaat dia rapuh."
"Aku tahu, tapi dia sedang melampiaskan amarahnya pada dinding. Aku tidak mau menjadi sasaran berikutnya."
Mbak Kun menatapku tajam, "Kembalilah, temui dia. Jangan pernah meninggalkannya dengan cara seperti itu."
"Tidak. Setelah melihat area ini, aku akan kembali ke dunia manusia. Dia harus bisa mengatasi masalahnya sendiri. Sebab, aku tidak bisa selalu bersamanya."
"Kamu memang berhati beku. Dibalik sikapmu yang hangat, kamu memiliki hati yang dingin dan kejam."
"Semua tergantung orang bersikap padaku."
"Tapi kamu harus mengerti, kalau dia terlalu mencintaimu."
"Lalu, apa selama ini dia memperlakukanmu dengan tidak baik?"
"Dia terlalu baik. Bahkan sangat baik."
"Semua wanita, berharap mendapatkan pria seperti itu. Kamu malah menyia-nyiakan pria sebaik Rasyid."
Aku terdiam. Sulit menjelaskan pada mbak Kun. Kalau kami tidak akan pernah dapat bersama sampai kapanpun. Sampai akhir dunia juga tidak akan bisa.
Meskipun aku menjalani ribuan Reinkarnasi, kami tidak akan pernah menjadi pasangan.
Hanya perasaan saling memiliki saja yang dapat kami pertahankan.
"Bagaimana? Apa kamu akan menemuinya?"
Kugelengkan kepala dengan yakin.
Kemudian, berjalan melihat area hunian mereka. Beberapa batang pohon besar dan rimbun, telah tertancap di tempat ini.
Manggala melakukan tugasnya dengan sungguh-sungguh. Dalam waktu tiga hari, dia telah menata tempat ini menjadi sebuah taman yang menakjubkan.
Taman dengan pohon-pohon besar dan penuh sentuhan artistik.
Dia juga membangun beberapa menara yang dapat digunakan sebagai menara pengawas dan ruang pertemuan.
Aku benar-benar puas dengan hasil kerja Manggala.
Aku yakin, kalau Rasyid yang mendesain tata ruang area ini.
Sebab, aku sangat hafal dengan arsitektur bangunan yang di desainnya.
Pilar-pilar menara penuh dengan ornamen dan mozaik indah. Ciri khas bangunan peradaban Turki Usmani.
Dia membuat tempat ini menjadi indah dan penuh sentuhan.
Sepertinya dia sedang menyampaikan sebuah pesan padaku melalui desain serta tata ruang di area ini.
"Kamu lihat, Lira. Dia memberikan sentuhan yang indah untuk area milikmu." Mbak Kun menunjukkan tiang-tiang menara yang indah.
"Aku merasa bersalah dengan semua masalah ini. Seharusnya, aku tidak membiarkan perasaan itu menguasaiku."
"Kalian ditakdirkan bertemu. Walaupun tidak bersama. Tetapi kalian memiliki kekuatan yang tidak dapat di patahkan oleh siapapun."
"Kekuatan apa?" tanyaku heran.
"Kalian saling mendukung dan saling memberi semangat setiap kali, salah satu dari kalian rapuh. Saling menguatkan serta saling mendoakan."
"Darimana kamu tahu?"
"Tentu saja aku bisa merasakan hal itu. Kalian saling menyayangi."
Aku tersadar, selama ini Rasyid selalu ada disaat aku terpuruk dan merasa lemah.
Tetapi saat dia merasa patah, kenapa aku malah meninggalkannya?
Aku segera berjalan menuju kearah gerbang timur milik Rasyid.
Mbak Kun menyusulku.
Dia menghadangku. Dan memintaku agar mengikutinya.
🍃🍃