
By: Setya Rahayu
🌼"Memangnya, kita mau kemana?" teriakku diantara deru angin.
Mbak Kun tidak menjawab pertanyaanku. Dia terus terbang menuju ke perbatasan.
Perbatasan antara pegunungan dengan lautan. Tempat ini penuh dengan batu karang .
Mbak Kun berhenti disebuah bukit karang. Letaknya sedikit menjorok ke laut.
Dia menunjukkan sosok yang sedang berada diatas sebuah karang di tengah deburan ombak besar.
"Apa itu Rasyid?" tanyaku sedih.
Mbak Kun mengangguk. "Terakhir aku melihatnya seperti itu, sewaktu kekasihnya lebur."
"Dia hancur, Lira. Apa kamu tahu, kalau dia benar-benar tidak memiliki kekuatan untuk terus menjalani kehidupan sebagai bangsa astral."
"Lalu, apa yang harus aku lakukan? Aku tidak bisa bersamanya. Sampai kapanpun."
"Tapi, setidaknya..kamu harus menunggu sampai dia bisa menerima keadaan yang sebenarnya."
"Sebenarnya untuk apa dia melakukan itu? Tubuhnya bisa hancur dihantam ombak seperti itu."
"Benar, karena hal itu, dia tidak lagi memiliki ekor dan beberapa bagian tubuh asli."
"Madsudmu? Dia telah kehilangan miliknya?"
"Bukan seperti itu, beberapa bagian tubuh astralnya memang lebur. Tetapi dia masih memiliki bagian-bagian penting dalam tubuhnya."
Perasaanku terasa sakit sekali sewaktu mendengar penjelasan mbak Kun.
"Hentikan dia sekarang. Aku tidak bisa mendekat ke tempatnya berdiri. Tapi kamu bisa." teriakku panik.
"Aku juga tidak bisa mendekat. Itu sudah di luar wilayah Arkana."
"Tapi dia bisa berada disana tanpa mengalami kendala?"
"Penjaga perbatasan disana, mengenal dia. Mereka sering berdiskusi bersama Manggala."
"Bagaimana cara menghentikan dia?" tanyaku kebingungan.
"Lakukan dengan pikiranmu. Dia bisa mendengar frekuensi dari pikiranmu."
Mbak Kun menunjukkan caranya agar aku dapat berkomunikasi dengan Rasyid.
Aku segera melakukan apa yang di lakukannya. Berdiri tenang, menutup mata dan memusatkan pikiran pada Rasyid.
Setelah aku merasakan dia dapat mendengarku. Aku berbicara padanya dengan lembut.
Serta memintanya segera pergi dari karang itu.
Dia tidak bereaksi dengan frekuensi yang kukirimkan. Sepertinya dia sungguh-sungguh sudah tidak peduli apapun. Dia tetap berdiri tegak diatas karang.
Sedangkan ombak besar berkali-kali menghantamnya.
"Dia tidak mendengarkan frekuensiku." ucapku sedih.
Mbak Kun menatapku putus asa.
"Kenapa Manggala dan pak Arkana tidak membawanya pergi dari sana?" tanyaku gusar.
Aku tersentak. Sebesar itukah kekuatan para astral? Sampai dapat menimbulkan gelombang besar?
Atau hanya bangsa mereka saja yang dapat melakukan hal itu?
Sekuat tenaga kukerahkan pikiranku pada Rasyid. Memintanya agar keluar dari tempat itu. Setelah berkali-kali mencoba, Akhirnya dia keluar dari karang itu.
Terlihat dikejauhan, Manggala berusaha menariknya dari air setelah dia sampai di dekat pantai.
Mbak Kun mengajakku menuju ke kediaman Rasyid.
Manggala telah membawa Rasyid ke sana.
Sewaktu kami tiba di kediaman Rasyid, Manggala melarangku masuk. Dia memintaku menunggu sampai Dokter selesai memberikan pertolongan.
"Bagaimana kondisinya?" tanyaku gusar.
"Tidak baik, dia harus menjalani perawatan selama sepekan." jawab Manggala sedih.
"Kenapa dia melakukan hal itu? Apa pak Arkana tidak tahu masalah ini?"
"Tuan yang memintaku membawanya pergi dari sana. Serta memanggil Dokter untuknya."
"Kenapa pak Arkana tidak melihat kondisinya?" tanyaku kesal.
"Lira, tuan tidak bisa melihat kondisi Rasyid seperti itu. Tuan bisa sangat emosional kalau melihat kondisi Rasyid." jelas Manggala.
Sekarang aku semakin mengerti dan memahami Arkana.
Dia sangat mencintai putra sulungnya itu.
Sampai tidak sanggup melihatnya terluka oleh apapun. Termasuk cinta Rasyid padaku.
Cinta itu telah membuatnya terluka parah.
Sejak dia mengetahui kalau aku terikat pada seseorang dari dunia astral.
"Sebaiknya aku segera kembali. Tidak ada yang bisa kulakukan disini." kataku pada Manggala.
"Kembalilah besok. Dia sudah bisa kamu temui." jawabnya.
"Baiklah, semoga dia dapat pulih dengan cepat." sahutku pelan.
Mbak Kun menemaniku sampai portal.
Dia berjanji akan mengawasi dan menunggu kabar perkembangan Rasyid.
Para Astral itu, ternyata memiliki kepedulian yang tinggi.
Mereka terlihat dingin dan masa bodoh.
Tetapi mereka sangat peduli satu sama lainnya.
Itu sebabnya, kehidupan mereka terasa tenang dan damai.
Mereka bukan makhluk yang suka mencari-cari masalah.
Selama mereka tidak di usik.
🍃🍃