
By: Tiara Sajanaka
🌼Arya adalah nama sahabatku. Kami bertetangga sewaktu masih sama-sama sekolah.
Setelah kedua orangtuaku pindah ke perumahan yang ditempati sekarang ini, kami tidak pernah bertemu lagi.
Bahkan, aku hampir lupa kalau memiliki sahabat sebaik dia.
Sampai kami dipertemukan kembali di sebuah media sosial.
Dia tidak terlalu aktif di media sosial.
Karena kesibukannya mengurus beberapa usaha miliknya.
Dia sering dianggap aneh dan sedikit gila.
Dia sering terlihat seperti orang yang sedang berhalusinasi.
Tapi aku senang berteman dengannya.
Dia cerdas, lucu, berwawasan luas dan tidak pelit. Selama kami berteman, dia sangat perhatian dan pengertian.
Hal yang membuatku terkejut adalah, selama ini aku tidak pernah berfikir kalau didalam dirinya ada sosok lain yang membuatnya menjadi sangat dekat denganku.
Aku bisa merasakan kehadiran makhluk lain disekelilingku.
Tapi kenapa dengan Arya, aku tidak bisa merasakan sama sekali.
Aku kecewa pada diriku sendiri. Kenapa tidak bisa merasakan vibrasi makhluk lain didalam diri Arya.
"Kamu kesal?" tanyanya lembut.
"Aku marah pada diriku sendiri. Kenapa selama ini tidak bisa merasakan kehadiran makhluk lain dalam diri Arya?"
"Sebab, aku telah membuatmu nyaman dan percaya pada sosok Arya ini."
"Apa itu yang membuat intuisiku tidak bekerja?"
"Sudah, jangan terlalu keras pada dirimu sendiri. Toh sekarang kamu sudah tahu kalau aku yang berada disini."
"Artinya, alarm dalam diriku tidak bekerja saat berada didekatmu."
"Tidak begitu canim.." dia menatapku lembut.
"Jangan memanggilku canim, saat kamu berada didalam tubuh itu." ketusku.
"Lira, kasar sekali kamu." dia terkejut mendengar aku bicara sangat ketus.
Aku jadi merasa bersalah telah bersikap kasar padanya.
Tapi, kata maaf dan terima kasih sangat sulit kuucapkan pada bangsa mereka.
"Sangat aneh rasanya mendengar kata itu dari tubuh Arya." sesalku.
"Canim, canim, canim, akan terus kuucapkan untukmu." tegasnya.
Dia memang keras kepala dan kepala batu. Sifatnya juga bisa berubah dengan cepat.
Menghadapi makhluk seperti dia ini, membuatku tidak sabar.
"Baiklah Ar, sepertinya kamu juga tidak bisa memahami perasaanku. Sebaiknya, kita tidak usah meneruskan rencana kita."
jawabku kesal. Kuambil tas ransel dari dalam mobil. Kemudian berjalan meninggalkan dia.
Aku kecewa dengan sikapnya yang selalu memaksakan kehendak. Tidak pernah mau memahami perasaanku.
Tiba-tiba sebuah sepeda motor menghalangi langkahku.
Salah satu dari mereka membuka helm yang dikenakannya.
"Hai kakak ipar, mau kemana?" tanyanya serius.
"Pulang."
"Hmm, Sepertinya kalian sedang berselisih paham." katanya sambil turun dari sepeda motor.
Pemuda yang bersamanya juga turun dari sepeda motor. Tetapi dia tidak membuka helmnya.
"Tunggu disini, aku akan memintanya untuk mengantar kakak ipar pulang."
Manggala berjalan melewatiku.
Pemuda itu juga mengikutinya.
Sewaktu pemuda itu melewatiku, aku merasakan energi yang berbeda darinya.
"Tunggu," kataku cepat.
"Ada apa kakak ipar?"
"Siapa temanmu ini?" tunjukku pada pemuda itu.
Manggala memberikan kunci sepeda motor pada Pak Rasyid. Atau saat ini dia bernama Arya?
Kemudian Manggala mendekatiku. "Kakak ipar mengenalnya?"
"Aku merasakan sebuah energi yang berbeda darinya."
"Kakak ipar sungguh menakutkan. Sebaiknya, kami tidak berada dekat-dekat dengan kakak ipar." dia menatapku serius.
"Cepat antar kakak ipar," teriaknya pada pak Rasyid.
Pak Rasyid menarik tanganku, memintaku naik sepeda motor dengan tenang.
"Lihat, Manggala berani berteriak padaku. Seolah-olah aku adalah bawahannya." sungutnya.
Dalam hati aku tertawa melihatnya bersungut-sungut.
Berada dalam tubuh Arya, dia memang menjadi seperti Arya. Kesan cool dan bersahaja itu tidak terlihat sama sekali.
Aku memakai helm yang diberikannya. Dia juga memakai helm yang tadinya dikenakan pemuda itu.
"Kalian yakin, tidak membutuhkan bantuan?" tanya pak Rasyid pada Manggala.
"Tidak, pergilah. Kami bisa menangani masalah kecil seperti ini." sahut Manggala.
"Kalau kalian sempat, datanglah ketempat tujuan kami."
"Ya, nanti malam kami menyusul. Nikmati saja perjalanan kalian."
Pak Rasyid mengacungkan jempolnya pada Manggala. Kemudian menstater motor tua yang kami pakai sekarang ini.
Sepeda motor Kawasaki Binter mercy C200.
Memang sepeda motor impianku.
Dan sekarang, kami berada diatas sepeda motor impianku.
Walaupun hanya motor sewaan, setidaknya aku bisa menikmati keindahan perjalanan bersama motor impian.
🍃🍃