SINTRU

SINTRU
SINTRU- 84



By: Tiara Sajanaka


🌼Dua belas hari waktu cuti telah berakhir.


Aku harus kembali ketempat kerja. Dan menyelesaikan tanggung jawabku pada istri mas Jantaka.


Selama berada di Bali, banyak sekali hal-hal yang membuatku menjadi lebih bersyukur karena terlahir sebagai manusia.


Walaupun aku tidak bisa melihat pak Rasyid, tetapi dia selalu menemaniku didalam sosok Arya.


Kembali ke kota, dimana aku menghabiskan waktu untuk bekerja. Menjalani rutinitas sehari-hari dengan hati dan fikiran yang tidak lagi sama seperti dulu.


Aku jadi sering melamun dan melupakan waktu-waktu bersama teman-teman.


Setiap kali mereka mengajak jalan-jalan atau shoping, aku sering menolak dengan alasan ingin beristirahat di kost.


Sudah satu Minggu aku seperti itu. Sampai Trisna menegurku dan mengatakan aku seperti zombie.


Berjalan tanpa ekspresi dan terlihat dingin.


Aku meminta maaf padanya. Dan mengatakan kalau aku masih kangen kampung di Bali.


Akhirnya, dia memaklumi dan tidak menanyakan keadaanku yang terlihat aneh.


Pak Rasyid juga belum mengunjungiku.


Sedangkan mbak Kun, seperti masih segan memanggilku ke tempatnya.


Malam ini, aku menangis lagi. Ntah kenapa akhir-akhir ini, aku jadi begitu cengeng dan selalu menumpahkan kesedihan dengan menangis.


Aku juga selalu bermimpi tentang hal yang sama. Anehnya, saat terbangun, aku tidak bisa mengingat mimpi itu.


Aku tertidur karena kelelahan menangis. Aku bermimpi hal yang sama lagi.


Di dalam mimpi, aku seperti berada di sebuah hutan lebat. Di hadapanku terlihat dua pohon beringin yang sangat besar. Pohon itu tingginya sekitar dua puluh meter.


Ditengah-tengah pohon beringin, terdapat rangkaian akar yang terjalin dan saling melilit. Tanaman sulur-sulur berjuntai membentuk tirai tebal berwarna hijau.


Kabut tipis mengambang diantara pohon beringin. Membuat pandanganku menjadi samar-samar.


Aku melangkah mendekat kearah tirai tebal itu. Sewaktu akan membuka tirai itu, aku selalu terbangun.


Kali ini, aku dapat mengingat mimpi itu.


Mimpi yang sangat menakutkan buatku. Setiap malam, aku selalu bermimpi berada di dalam hutan itu.


Tubuhku menggigil menahan rasa takut. Aku menjadi takut tidur lagi. Dan memilih duduk bersandar sambil bermain handphone.


Tak berapa lama, aku tersentak sewaktu handphone terjatuh.


Tapi aku masih malas untuk mengambilnya.


"Kamu lelah, tidurlah." suara itu, membuatku tersenyum.


Aku menoleh kearahnya. Melihatnya sedang menatapku dengan mata birunya.


Aku segera bangkit, dan melompat kearahnya. Melingkarkan kedua kakiku di pinggangnya.Memeluknya erat sambil menghujaninya dengan ciuman.


Dia reflek menangkap tubuhku. Dan membalas ciumanku dengan penuh perasaan.


Semua kesedihan itu seakan menguap seketika. Kami tidak lagi memikirkan batas antara manusia dan astral.


Yang ada hanya kerinduan yang begitu membuncah.


Sampai dia berusaha menurunkanku. Tapi aku semakin mengencangkan kakiku.


Membuatnya harus membaringkan tubuhku di atas kasur.


Aku tetap tidak mau melepaskannya. Dia tersenyum lebar.


"Lepaskan dulu, agar kita bisa bicara."


Terlihat wajahnya yang mulai menunjukkan rasa khawatir.


Tetapi aku tetap bergelayut dilehernya.


"Lira, ini sudah berlebihan."


"Tidak ada yang berlebihan," ucapku manja.


"Cukup Lira, kamu sudah kehilangan kendali."


"Belum cukup. Aku merindukanmu sayang.." bisikku.


Dia menatapku heran. Tertegun sejenak, sampai akhirnya dia berhasil melepaskan tanganku. Dan segera menjauh dariku.


Aku tertawa geli, melihatnya seperti itu.


Namun, aku teringat tentang kondisinya yang selalu merasa bersalah setiap kali memiliki hasrat itu


Kudekati dia pelan-pelan.


"Kemarilah, kita bicara." ajakku sambil meraih tangannya.


Dia berusaha menepis tanganku. Tapi aku cepat memegangnya.


"Kamu takut?"


Dia menggeleng.


"Ya sudah, kalau begitu kita bicara."


Dia duduk bersandar didekat jendela. Aku duduk bersila didepannya.


"Kenapa baru datang?" tanyaku lembut.


"Selama satu Minggu ini, aku tidak tahu harus bagaimana bersikap padamu."


"Kenapa?"


"Kamu adalah wanita yang telah menikah. Aku tidak berani menggangu hubungan kalian."


"Lalu, kenapa sekarang datang?"


"Aku ingin melihatmu terakhir kalinya. Dan berpamitan padamu."


"Oh, untuk itu. Aku pikir, kamu merindukanku. Ternyata aku salah."


"Sebenarnya, aku juga sangat merindukanmu."


"Trus, sekarang mau berpamitan? Baiklah, kita berpisah mulai malam ini. Semoga kamu bahagia di duniamu."


ucapku dingin.


Pak Rasyid menatapku teduh. Dia menghela nafas berat.


"Aku pikir, tidak akan terasa sakit. Ternyata rasanya sungguh tidak enak."


"Sakit dibagian mana? Nggak enaknya kenapa?" ketusku.


"Lira, mengertilah dengan kondisiku." ucapnya sedih.


Aku tersenyum, kemudian berbaring diatas kasur. Menarik selimut sampai batas leher.


"Kalau kamu sudah selesai, pergilah. Aku mau tidur. Semoga kita tidak perlu bertemu lagi."


Pak Rasyid tertegun melihat reaksiku. Dia seperti terpukul dengan sikapku.


Tapi dia juga harus tahu. Kalau aku lebih terluka dengan keputusannya.


🍃🍃