
By : Setya Rahayu
🌼 Suara teriakan dari lorong kamar, membuatku terbangun.
Kuraih handphone diatas meja kecil. Melihat angka pada penunjuk waktu.
Jam tiga lewat sepuluh. Ternyata baru satu jam aku tidur.
Tapi, ada apa sebenarnya?
Kenapa suara teriakan di lorong terdengar keras sekali.
Aku segera keluar untuk memastikan darimana sumber suara teriakan itu.
Saat keluar kamar, kulihat di lorong sudah banyak anak kost yang keluar.
Kami disini perempuan semua.
Mereka terlihat bingung dan panik. Sewaktu salah seorang anak kost berteriak ketakutan didepan kamarnya.
"Ada apa Tris?" tanyaku pada Trisna, anak kost paling pendiam dan tidak pernah meminjam apapun dariku.
"Nggak tau mbak, Trisna juga baru bangun." jawabnya pelan.
Penjaga tempat kost datang terburu-buru.
Dia langsung mendekati wanita yang histeris itu.
Ternyata wanita yang tadi akan meminjam mie instan padaku.
Dia terlihat ketakutan dan terus berteriak histeris sambil menunjuk kearah kamarnya.
Teman sekamarnya memberikan segelas air putih pada penjaga kost.
Bapak penjaga membaca doa, kemudian memberikan air pada wanita itu.
Setelah wanita itu tenang, bapak penjaga memintanya agar beristirahat di kamar.
Tapi, dia menolak.
Akhirnya, dia menginap dikamar sebelahnya. Begitu juga dengan teman satu kamarnya.
Setelah semua anak kost masuk ke kamarnya masing-masing, aku mendekati bapak penjaga.
"Kenapa dia pak?" tanyaku sopan.
"Sepertinya mengalami mimpi buruk mbak."
"Oh, kirain ada apa. Sampai histeris begitu."
"Iya mbak, saya juga terkejut. Makanya buru-buru naik."
"Semoga nggak kejadian lagi nggih pak."
"Semoga mbak."
Sebelum turun, bapak penjaga bertanya. Apa memang benar, aku sempat bertengkar dengan wanita yang histeris itu.
Aku menjelaskan kalau kami hanya salah paham.
Beliau mengerti situasi di tempat kost ini.
Setiap hari, selalu ada saja yang terdengar beradu argumentasi antar sesama penghuni kost.
Walaupun tidak sampai terjadi adu fisik. Tetapi, para perempuan itu memang selalu meninggikan suara saat emosi.
Bapak penjaga kost pamit untuk kembali ke bawah.
Akupun, kembali ke kamar. Dan melanjutkan tidur.
Tidur menjelang pagi, terasa nyenyak sekali.
Rasanya aku mengalami sebuah mimpi yang membingungkan.
Anehnya, saat terbangun aku benar-benar lupa dengan mimpi itu.
Jarak tempat kost ke tempat kerja tidak terlalu jauh.
Setiap pagi, aku lebih suka berjalan kaki saat menuju ke tempat kerja.
Hari ini aku berpuasa tanpa sahur.
Sebelum tidur, masih sempat minum segelas air hangat dan madu.
Semoga hari ini, dapat menjalankan puasa Senin Kamis dengan lancar.
Sejak kecil, aku selalu diajarkan untuk berpuasa Senin Kamis.
Bersikap rendah hati, sabar dan legowo.
Tetapi, disaat-saat merasa dimanfaatkan atau diintimidasi,
aku akan bersikap sangat tegas.
Ditempat kerja, salah satu senior bersikap sangat arogan pada kami. Anak-anak training baru.
Awalnya aku diamkan saja.
Ternyata lama kelamaan, senior kami semakin semena-mena.
Sampai akhirnya, aku beradu argument dengannya.
Menanyakan SOP Yang semestinya pada senior itu.
Sebenarnya, saat beradu argument. Aku hanya ingin agar dia tidak lagi bersikap seenaknya pada kami.
Ternyata, hal itu malah membuatnya menangis. Dan bersikap seolah-olah dirinya adalah korban.
Beberapa senior menegurku.
Karena tidak merasa bersalah. Tentu saja aku bertahan dengan pendapatku.
Seorang senior melaporkan kejadian itu pada atasan kami.
Tak berapa lama, atasan memanggil kami.
Aku dan beberapa senior.
Mereka berusaha mencari-cari kesalahanku.
Tetapi, mereka tidak tahu kalau aku memiliki catatan training setiap hari.
Serta catatan kegiatan setiap jamnya.
Termasuk jam istirahat makan siang dan jam istirahat minum kopi.
Ada beberapa tugas, yang seharusnya bukan tugas kami.
Mereka limpahkan ke anak-anak training.
Atasan membaca setiap catatan dengan hati-hati.
Beliau terkejut melihat catatan yang sangat terperinci.
Selesai membaca catatan itu, beliau menyerahkannya kembali padaku sambil tersenyum.
"Lira, kamu boleh kembali." ucapnya ramah.
Kuucapkan terima kasih. Kemudian meninggalkan ruang kerja atasan kami.
Para senior masih tinggal di ruang kerja atasan kami. Tentunya mereka harus menjelaskan tentang tugas yang mereka limpahkan kepada anak-anak training.
Bersyukur memiliki atasan yang bersikap bijaksana. Tidak hanya mendengar dari satu pihak saja. Semua masalah dicari titik terangnya.
Setelah kejadian itu, atasan malah memintaku menjadi koordinator para staf baru. Dan ditempatkan di cabang perusahaan bersama anak-anak yang sudah lulus training.
Sungguh suatu keberuntungan buatku.
🍃🍃