SINTRU

SINTRU
SINTRU- 99



By: Tiara Sajanaka


🌼 Manggala menaikkan kedua bahunya. Dia meminta segelas air pada seorang pekerja yang berdiri didekat meja panjang.


Aku menatap heran pada Rasyid. Kenapa sekarang ada seorang pekerja di kamarnya?


Dan juga ada dua orang penjaga di dekat pintu.


"Kenapa? Kamu heran melihat ada pekerja dan penjaga dikamarku?"


"Ada apa sebenarnya? Kenapa kamu membutuhkan bantuan orang lain di dalam kamar?"


"Aku belum bisa berjalan. Semua aktifitas masih dibantu mereka." ucapnya lembut.


Dia mengatakan hal itu dengan tenang. Tapi membuatku sangat terpukul.


Kejadian hari itu, telah membuatnya tidak dapat menggerakkan kakinya.


"Rasyid, apa semua ini terjadi karena kesalahanku?" tanyaku sedih.


"Semua terjadi karena kelemahanku.Kamu tidak bersalah."


Rasyid mengelus tanganku lembut.


Aku tertunduk pilu. Memperhatikan kakinya yang ditutup selimut tebal.


"Apa aku boleh melihatnya?" tanyaku hati-hati.


Rasyid tersenyum. Dia membuka selimut yang menutup paha dan kakinya.


Semua terlihat utuh. Tidak ada yang lebur karena hantaman ombak.


Kusentuh bagian paha sampai telapak kaki, semua normal dan tidak ada yang terluka.


"Semua terlihat baik. Lalu kenapa kamu tidak bisa berjalan?"


"Masalahnya ada pada tulang ekor. Sewaktu aku berbalik dan akan menepi, ombak besar menghantam bagian pinggang sampai panggul."


Aku teringat kejadian itu, ternyata Rasyid menahan rasa sakit dibagian pinggang dan panggul. Hal itu yang membuatnya tumbang sesampainya di tepi pantai.


Tubuh astralnya memiliki unsur manusia. Itu sebabnya dia sangat rapuh dan mudah terluka.


"Apa yang dapat kulakukan agar kamu bisa berjalan kembali?"


"Lira, kamu bisa menemaniku seperti ini..aku sudah sangat bahagia."


"Rasyid, bukankah kamu tahu kalau aku tidak dapat menemanimu?"


"Tidak apa, selama kamu bisa datang. Aku harap, kamu mau menemuiku. Jangan mengabaikanku sewaktu kamu berada di dunia Astral."


Kuraih tangannya, mencium tangannya dengan penuh perasaan. Sampai air mataku mengalir perlahan.


Rasyid memelukku lembut. Berusaha menenangkanku.


"Seharusnya, kakak menguatkan Rasyid. Bukannya malah menangis." ucap Manggala.


"Tidak apa, dengan begini aku tahu kalau dia mencintaiku dan dia merasakan kepedihan ku." sahut Rasyid.


"Kalian berdua memang pasangan aneh."


"Bagaimana pasangan di dunia kalian?" tanyaku pada Manggala.


"Kami akan saling menguatkan dengan terlihat tegar. Kami tidak menunjukkan kesedihan disaat salah satu pasangan terluka."


"Kenapa seperti itu?"


"Aku tidak bisa menjelaskan. Yang pasti kami saling menguatkan dengan cara seperti itu."


"Manusia juga begitu. Tapi aku bukan orang yang dapat menyembunyikan perasaan. Aku tidak pandai dalam hal itu." kataku pelan.


Manggala tertawa kecil. "Kakak dijuluki si hati beku. Tetapi menangis karena melihat kondisi Rasyid."


"Semua tergantung keadaan Manggala. Apa yang dialami Rasyid, membuatku juga menderita. Tidak mungkin hatiku membeku melihat kondisinya seperti ini."


"Artinya, Rasyid adalah kelemahanmu. Manusia akan sulit mengetahui tentang hal ini. Karena Rasyid tidak berada di dunia manusia."


"Benar, tapi para astral dapat membuatku lemah karena hal ini." ucapku sedih.


"Tidak ada astral yang ingin mencelakaimu. Selama ini, kakak selalu berada di pihak kami. Dan kami, bukan bangsa yang tidak tahu membalas budi." sahut Manggala.


"Aku tidak merasa seperti itu. Sebab, aku mengatakan dan menyampaikan tentang hal yang sebenarnya. Bukan ingin berpihak."


Manggala tertawa renyah, dia berdiri kemudian meninggalkan kami. Dia harus berpatroli di dua wilayah serta melihat seluruh wilayah milik Arkana.


Sebab, Rasyid tidak dapat melakukan tugasnya.


Manggala sangat bertanggung jawab pada semua tugasnya. Walaupun dia sedikit manja dan kekanak-kanakan.


Bagaimanapun juga, dia adalah seorang panglima yang sangat disiplin.


Andai saja, aku memiliki relasi sehebat Manggala, Mavendra, Rasyid dan Arkana di dunia manusia, tentu masa depanku sudah sangat terjamin.


"Kenapa melamun?" tanya Rasyid.


Aku tersenyum, "Tidak melamun. Hanya membayangkan, seandainya aku memiliki relasi seperti kalian di dunia manusia, tentu hidupku akan sangat terjamin."


"Aku bisa memberimu semua yang menjadi keinginanmu di dunia manusia. Tetapi, aku tidak ingin kamu menjadi bagian dari alam penebusan."


"Lalu, bagaimana para pekerja bisa berada di kediamanmu? Apa mereka memiliki kriteria tersendiri?"


Rasyid terkejut mendengar pertanyaanku. Dia membelalak menatapku.


"Jadi, bukan hanya driver itu saja yang kamu ketahui?" tanyanya.


"Awalnya iya. Tapi, disini aku bisa merasakan energi mereka yang sangat redup."


"Tidak seharusnya kamu bisa merasakan hal itu. Karena itu akan membuat mereka sangat menderita."


"Aku tidak pernah menghakimi siapapun. Kalaupun mereka berada disini, tentu mereka telah mengetahuinya sewaktu mereka masih menjadi manusia."


"Ya. Dan aku tidak bisa mengatakan apa penyebabnya. Biarkan hal itu menjadi rahasia semesta." tegasnya.


Cara bicaranya membuatku paham. Kalau aku tidak boleh bertanya, mempertanyakan ataupun memiliki keinginan untuk mengetahui tentang para pekerja disini.


Tentu mereka harus menjaga rahasia sebesar itu. Bukan ranahku untuk mengetahui tentang keberadaan mereka disini. Jadi, sebaiknya aku juga harus menghormati hukum di dunia mereka.


🍃🍃