
By: Tiara Sajanaka
🌼Dua hari kemudian, setelah kondisi tubuh lebih baik.
Aku mulai melakukan persiapan untuk menyelesaikan tugas di tempat mas Jantaka.
Melakukan bersih diri, mandi besar dan sholat memohon petunjuk.
Setelah itu berpuasa mutih selama tiga hari.
Hal ini penting dilakukan agar tubuh astral memiliki kekuatan cahayanya sendiri.
Setelah semua persiapan selesai. Aku berpesan pada Trisna, kalau selama dua hari aku tidak berada di kamar kost.
Dan mengatakan padanya kalau akan menginap dirumah seorang teman.
Dengan begitu, Trisna tidak akan mengetuk pintu kamarku sewaktu aku berada di dunia Astral.
Selesai melaksanakan sholat Isya, aku memakai pakaian sedikit tebal. Celana panjang, kaus kaki, sarung tangan. Memakai pashmina tebal sebagai penutup kepala, telinga juga melilitkannya dileher.
Ini adalah pakaian untuk dua hari disana.
Kecuali, Rasyid memintaku berganti pakaian.
Aku akan memakai pakaian yang disiapkannya.
Kali ini, ada sebuah mantra doa yang harus dibaca. Agar jalur silver tidak menarikku dengan ekstrim sewaktu aku terhentak atau terlempar karena penolakan dari energi lain.
Semua dipersiapkan dengan matang.
Agar aku tidak harus bolak-balik antara dunia astral dan dunia manusia.
Ada sebuah perasaan sedih yang melintas. Sewaktu aku teringat, bisa saja setelah semua tugas ini selesai, aku tidak akan bertemu dengan Rasyid lagi.
Tapi, tugas dan tanggung jawab harus tetap diselesaikan. Walaupun aku tahu konsekuensinya seperti apa.
Tubuhku melayang dengan lembut, keluar dari wadahnya.
Aku melangkah perlahan-lahan menuju sebuah lorong yang terlihat. Melewati beberapa kumparan kecil seperti anak tornado.
Mereka tidak berbahaya selama masih seukuran bola basket. Tetapi akan menjadi berbahaya ketika mereka membentuk formasi seperti jaring laba-laba yang memiliki lorong menyilaukan.
Ukurannya bisa sekitar satu meter persegi.
Kumparan seperti itu bisa menyeret kita kedalam ruang hampa dalam jangka waktu panjang. Kita juga bisa terjebak di sebuah tempat yang paling kita inginkan. Atau sebuah tempat yang paling kita takuti.
Semua tergantung pikiran bawah sadar kita.
Sewaktu aku sudah sampai, sesosok bayangan melintas dengan cepat didepanku.
Wujudnya tidak terlihat jelas, tapi dia meninggalkan aroma yang cukup menyengat.
Makhluk jenis ini, biasanya jarang berinteraksi dengan makhluk lainnya.
Mereka suka menyendiri dan tidak suka diusik. Bukan makhluk yang ramah.
Tapi juga tidak jahat. Jenis mereka lebih memilih tidak peduli dengan lingkungan sekitar.
Jadi, aku merasa aneh kalau ada yang mencoba berkomunikasi denganku.
Nanti akan aku tanyakan pada mbak Kun.
Kenapa jenis mereka melintas didepanku.
Aku menuju ke kediaman Rasyid terlebih dulu. Untuk mengambil akar laut yang dikatakannya tempo hari.
Dari kejauhan, aku melihat Rasyid sedang mondar-mandir didekat air terjun buatan yang berada di taman utama.
Dia terlihat gelisah dan sesekali melihat kearah pintu masuk taman.
Aku tersenyum geli melihatnya. Kali ini aku sengaja tidak masuk melalui pintu utama.
Tapi meminta penjaga membawaku naik ke menara timur. Dari menara ini, aku bisa melihat seluruh area taman utama.
Sebenarnya aku ingin mengerjai Rasyid. Sayangnya, waktuku tidak bisa untuk bermain.
Tiba-tiba aku merasakan sebuah tarikan ditelinga. Aku segera melihat kearah penjaga yang berada di menara.
Kulihat penjaga itu, sedang membalikkan badan. Terlihat punggungnya bergerak-gerak.
Dia sedang tertawa melihat kejadian ini.
"Kenapa harus menjewer telinga?" geramku.
"Kamu sudah membuat aku khawatir. Tapi kamu malah cengengesan lihat aku gelisah." ucapnya sambil melotot menatapku.
Kulepas tangannya dari telingaku. Tidak sakit, tapi cukup pedas juga.
Rupanya dia benar-benar kesal padaku.
🍃🍃