SINTRU

SINTRU
SINTRU-47



By : Tiara Sajanaka


🌼Saat aku sholat isya, Manggala meninggalkanku.


Dia memintaku bersiap-siap sebelum dia kembali menjemputku.


Sewaktu sedang berdzikir, terdengar suara keributan diluar.


Dengan masih memakai mukena, aku segera keluar.


Ternyata Luna sedang berlari dilorong Antara kamar-kamar kami.


Dia menjerit-jerit kesana kemari dengan raut wajah ketakutan.


Dua orang teman sekamarnya berusaha menenangkannya.


Anak-anak kost yang lainnya juga terlihat ketakutan. Mereka tidak tahu, apa yang harus dilakukan.


Bapak penjaga menaiki tangga dengan tergesa-gesa.


Dia segera memegang Luna. Dan membacakan ayat-ayat doa.


Temannya mengambil air putih segelas.


Kemudian bapak penjaga membacakan doa pada air itu.


Dan meminta Luna meminumnya.


Luna minum dengan terburu-buru, dia seperti sedang melihat sesuatu.


Setelah minum air doa, dia terlihat sedikit Tenang.


Tetapi sorot matanya nanar mencari sesuatu ke segala arah.


"Kamu kenapa?" tanya teman satu kamarnya.


"Kamu pernah melihat ikan berkepala buaya?" jawabnya ketakutan.


"Arapaima Gigas?" tanya temannya heran.


"Iya, ikan itu ada disini. Dia mau memakanku."


Anak-anak tertawa sambil menutup mulut.


Semua orang tahu kalau ikan itu hanya berada di sungai Amazon.


"Kalian pasti berfikir aku gila. Tapi aku benar-benar melihatnya."


"Ikan harus berada didalam air, Luna. Bagaimana ikan itu bisa berkeliaran tanpa adanya air." kata temannya sedih.


"Aku tidak berbohong. Dia benar-benar ada." desisnya kesal.


Luna tidak berbohong. Dia memang melihat wujud ikan Arapaima Gigas.


Manggala benar-benar membuatnya menjadi seperti orang tidak waras.


Sifat usilnya muncul saat melihat aku diperlakukan tidak baik oleh Luna.


Dalam hukum semesta, perbuatan Manggala tidak terkena hukuman.


Karena dia memiliki alasan melakukan hal itu.


"Jangan mengusik kami, maka kami tidak akan menggangu."


Kalimat itu adalah aturan yang kuat dalam dunia astral.


Aku masuk kedalam kamar. Membuka mukena dan melipatnya.


Kemudian berganti pakaian yang diberikan pak Rasyid.


Sebaiknya, dia segera kembali ke tempatnya. Sebelum semakin banyak kekacauan yang dibuatnya disini.


Jadi, sudah seharusnya dia menghentikan keusilannya itu.


Luna memang menjengkelkan. Tetapi dia tidak melakukan kejahatan.


Sebagai seorang komandan dunia bawah, Manggala memang belum bisa menahan diri.


Mungkin usianya belum ada tiga ratus tahun.


Itu sebabnya dia masih suka bermain-main.


"Manggala, aku sudah siap pergi." ucapku tenang.


Kali ini aku tidak berbaring, tetapi duduk dalam posisi seperti meditasi.


Agar pikiranku tetap terhubung dengan tubuh astral.


Setengah jam kemudian, tubuh astralku telah keluar dari tubuh material.


Manggala tidak dapat menyentuhku. Dia memintaku mengikat benang sutra di pergelangan tangan kiri.


Dengan benang itu, kami tidak akan berpencar ketika melewati portal.


πŸƒ


Suasana di luar gedung tempat persidangan terlihat sangat riuh.


Berbagai jenis astral berjalan mondar-mandir didepan gedung.


Mereka tidak diijinkan masuk kedalam gedung.


Kulihat mbak Kun berjalan kearahku.


Aku senang sekali melihatnya. Tanpa sadar, aku berlari untuk memeluknya.


Belum sempat aku memeluknya, kami berdua sama-sama terpental.


Mbak Kun terpental sampai nyangkut di sebuah pohon yang berada di halaman gedung.


Aku terpental sampai duduk dlesor ditanah.


Dan terseret beberapa meter dari tempatku tadi.


Manggala mendekatiku


"Kakak ipar baik-baik saja?" tanyanya cemas.


"Ya, aku baik-baik saja."


Segera aku berdiri dan merapikan pakaian.


Pakaian ini adalah pakaian yang sudah diberi mantra.


Dia bisa membersihkan dirinya sendiri.


Dan merubah tampilan sesuai kebutuhan.


πŸƒπŸƒ