
By: Tiara Sajanaka
🌼 Ditempat kerja, aku menjadi gelisah dan tidak fokus. Semua pekerjaan seperti tidak ada yang benar. Kepala terasa berat. Membuatku jadi mudah marah dan kesal.
Semua orang yang berada didekatku juga terkena imbasnya. Sampai seorang teman menegur dan kami berdebat.
Setelah reda, aku baru sadar. Kalau mereka tidak pantas mendapatkan perlakuan tidak adil dariku.
Salah satu kebiasaan di dunia Astral yang terbawa ke dunia nyata adalah, aku tidak lagi mengucapkan kata maaf.
Walaupun aku tahu, kalau yang kulakukan itu salah.
Teman itu sampai berteriak, mengatakan aku egois. Tapi aku cuek dan hatiku menjadi membeku seperti es batu.
Bukan hal yang baik, sewaktu berada di dunia manusia.
Di dunia manusia, kita harus bisa mengatakan maaf, tolong, dan terima kasih.
Sedangkan aku terbiasa mengendalikan diri agar tidak mengatakan maaf dan terima kasih.
Beberapa saat kemudian, aku mencoba mengendalikan pikiran. Sampai akhirnya, pikiran menjadi lebih tenang.
Ternyata, masalah tidak selesai sampai Disitu. Ibu Manager memanggilku. Menanyakan masalah yang terjadi.
Kujelaskan dengan detail, kenapa aku bisa sangat marah pada teman-teman.
Mendengar penjelasanku, ibu Manager memintaku buat istirahat dua hari. Serta menyarankanku untuk bertemu psikolog. Beliau tahu, kalau saat ini aku sedang mengalami tekanan.
Pulang kerja, kusiapkan diri untuk melihat Rasyid.
Tapi, sangat sulit melakukan astral projection saat hati dan fikiran tidak selaras.
Hampir dua jam, aku tidak bisa melangkah keluar dari tubuh material.
Hal itu, membuatku semakin frustasi dan marah.
Sekarang bagaimana caranya agar aku bisa segera ke tempat Rasyid?
Apa aku harus melalui proses awal dengan meditasi? Meditasi sangat baik untuk merilekskan fikiran. Tetapi tidak membuatku mencapai fase sleep paralisis.
Melakukan meditasi selama lima menit, sangat membantu menstabilkan pikiran.
Serta membuatnya selaras dengan jiwaku.
Aku berbaring sambil memusatkan pikiran ke tempat Rasyid. Perlahan-lahan, tubuh astral akhirnya dapat melangkah keluar dari tubuh material.
Setelah melewati lorong cahaya, aku sampai didepan portal.
Ntah kenapa, kali ini aku sedikit ragu melangkah ke dunia astral. Tetapi, aku harus melihat kondisi Rasyid. Cukup lama aku berdiri di depan gerbang astral.
Berfikir antara terus melangkah atau kembali ke tubuh material.
Kuputuskan untuk terus berjalan menuju ke tempat Rasyid.
Bangunan villa yang sudah hampir selesai, terlihat cukup indah. Tidak terkesan Sintru lagi. Lampu-lampu menyala dengan baik.
Secara keseluruhan, villa ini telah berubah total.
Dari villa yang suram dan Sintru, menjadi villa yang terang.
Aku berkeliling disekitar bangunan villa milik mas Jantaka.
Suasananya sepi. Hanya terlihat beberapa orang sedang membakar sisa-sisa bahan bangunan. Tidak terlihat sosok mas Jantaka di sini. Mungkin dia sedang menemani istrinya di rumah mertuanya.
Selesai berkeliling, aku kembali menuju ke kawasan hutan tempat tinggal para astral.
Menyusuri jalan setapak yang hampir tidak pernah diinjak manusia.
Jalan setapak ini, lebih terlihat sebagai jalan hewan-hewan disekitar hutan yang akan menuju ke sungai.
Berada didunia mereka memang terasa menenangkan. Hanya saja, aku tidak akan berani berada di tempat ini saat berada didalam tubuh material.
Di jaman modern seperti sekarang ini, masih ada tempat yang tidak terjamah manusia, rasanya memang mustahil.
Tetapi, kawasan ini memang sulit untuk dijangkau manusia. Walaupun tempatnya berbatasan dengan villa di sebrang perbukitan.
Ada hutan kecil dengan lembah yang sangat curam serta bebatuan sebagai pagar pelindung yang tersamarkan.
Seandainya ada manusia yang mencapai tempat ini, dia hanya sampai pada batas tepian lembah.
Lembah ini tidak dapat di lewati. Lerengnya sangat curam dan terjal.
Bagian atas, juga sulit untuk dibuat jembatan.
Bebatuan besar, tidak beraturan berjajar seperti pagar batu.
Itu sebabnya, kawasan milik Arkana tidak dapat di jangkau manusia.
Sungai yang mengelilingi seluruh kawasan, juga bukan sungai biasa.
Lebar sungai terlihat tidak luas. Tetapi, sungai ini berada di dalam kawasan dunia astral.
Artinya, luas sungai adalah sepuluh kali lipat dari yang terlihat. Manusia yang mencoba menyebrangi sungai ini, sudah dipastikan akan terkejut dan terbawa arus bawah sungai.
Sungguh menakjubkan dunia mereka.
Kita hanya dapat mengukur sesuatu dari apa yang terlihat.
Sedangkan isi dunia ini sangatlah luas dan tidak terukur oleh penglihatan kita.
Semoga kawasan milik Arkana tetap tidak terjamah manusia. Agar para astral di kawasan ini tidak terusik. Dan mereka juga tidak perlu sampai memberi pelajaran pada manusia.
🍃🍃