SINTRU

SINTRU
SINTRU- 80



By: Tiara Sajanaka


๐ŸŒผTengah malam, terdengar suara ketukan pintu.


Pak Rasyid membuka pintu. Manggala dan Mavendra datang. Dia meminta kami untuk pergi bersama mereka.


Setelah berganti pakaian, kami pergi bersama Manggala dan Mavendra.


Aku telah bertanya sebanyak dua kali.


Sebenarnya, kami akan pergi kemana.


Tapi mereka tidak mau mengatakan tujuan kami saat ini.


Manggala membelokkan mobil ke sebuah jalan setapak.


Jalannya sangat sepi dan lengang. Di kiri kanan jalan, terdapat pepohonan yang membentuk pergola di sepanjang jalan yang kami lalui.


Tak berapa lama, kami sampai disebuah rumah berpagar tinggi dan tertutup rapat.


Pagar itu dapat terbuka otomatis sewaktu mobil mendekat.


Manggala membawa mobil memasuki halaman rumah yang terlihat sangat luas.


Dua orang pemuda, menunggu kami di dekat Manggala memarkir mobil.


Mereka menemani kami memasuki taman depan. Kemudian mempersilahkan kami masuk kedalam rumah.


Aku memegang tangan pak Rasyid dengan perasaan bingung.


Pak Rasyid berusaha menenangkanku dengan menggenggam tanganku erat-erat.


Sampai di bagian dalam rumah, seorang pekerja mempersilahkan kami duduk.


Ruangan di dalam rumah ini besar sekali. Dengan atap tinggi dan mengerucut dibagian atas.


Ruang tamunya didesain seperti ruang pertemuan. Atau ruangan ini sebenarnya adalah ruang pertemuan?


Aku duduk didekat pak Rasyid.


Manggala dan Mavendra duduk diseberang meja. Berhadapan dengan kami.


Mejanya cukup besar. Dengan lebar tiga meter, dan panjang sekitar tujuh meter.


Dua orang pekerja menghidangkan minuman hangat untuk kami.


Disertai beberapa kudapan yang menggugah selera.


Dua orang pekerja mempersilahkan kami untuk menikmati sajian yang telah dihidangkan diatas meja.


Manggala meraih gelas didepannya, menghabisakan hanya dengan sekali teguk.


Mavendra melihat kearahku. Tapi aku tidak paham dengan caranya menatapku.


"Ada apa sebenarnya?" tanyaku bingung.


Tapi mereka tidak menjawab pertanyaanku.


Sepuluh menit kemudian, dua orang pria datang.


Mereka seperti bapak dan anak.


Seorang masih terlihat muda dan tampan.


Dia memakai pakaian khas pria Bali untuk sembahyang.


Seorang pria bersamanya, terlihat berusia sekitar empat puluhan. Gagah dan juga tampan.


"Selamat pagi," sapanya.


"Selamat pagi," jawab kami berbarengan.


"Silahkan diminum dan dinikmati sajiannya. Sebelum saya menjelaskan. Kenapa saya mengundang Rasyid dan..." dia tidak melanjutkan kalimatnya. Tapi menatapku dengan tatapan penuh kepedihan.


Setelah menghela nafas, dia duduk dikursi paling ujung.


Pria yang bersamanya, duduk disebelah kanannya. Kemudian meletakan sebuah dokumen diatas meja.


"Kenapa tuan mengundang kami? Apa ada sesuatu yang sangat penting sampai terkesan sangat mendadak dan mengejutkan." tanya pak Rasyid.


"Jangan memanggil saya tuan, saya hanya orang biasa." jawab pria muda itu.


"Baiklah, saya tidak tahu, kenapa Manggala dan Mavendra membawa kami kemari."


"Saya akan memberitahu pada Rasyid. Kalau Rasyid tidak bisa menikahi Lira." kata bapak yang bersama pria muda itu.


Pak Rasyid melihat kearahku. Dia seperti mengetahui sesuatu. Tapi dia memilih tidak menanyakan padaku.


Bapak itu, meminta seorang pekerja memberikan dokumen kepada pak Rasyid.


Pak Rasyid menerima dokumen itu. Membuka penutupnya dan membaca dengan seksama.


Selesai membaca, dia menutup dokumen itu. Dan mengusap wajahnya berulang kali.


Suasana terasa sangat mencekam.


Semua menunggu reaksi pak Rasyid soal dokumen itu.


Dia menarik nafas, memandang kearah pria muda itu.


"Lepaskan dia. Agar dia dapat menentukan jalan hidupnya."


"Hal itu tidak ada dalam tatanan kehidupan kami. Dalam undang-undang dunia kita, dia akan tetap menjadi pasangan abadi." kata bapak itu.


"Apa sekarang dia mengetahui hal itu? Dia tidak mengenalmu. Bahkan dia tidak tahu tentang semua masalah ini." sahut pak Rasyid.


Aku menjadi bingung dengan situasi saat ini. Ntah siapa yang sedang mereka bicarakan.


Kuraih dokumen di depan pak Rasyid.


Membaca tulisan di sampul luar dengan penuh tanya.Tertulis dengan jelas.


Dokumen pernikahan.


Kubuka dokumen itu dan mencoba membaca tulisan didalamnya.


Tulisan itu menggunakan aksara Bali.


Aku harus mengejanya satu persatu.


Selesai membaca semua yang tertera didalamnya, aku malah semakin bingung.


Karena nama yang tertulis disana bukanlah namaku. Dan nama pria itu seperti sangat lekat dalam ingatanku.


Tapi aku tidak dapat mengingatnya dengan baik.


"Ini dokumen pernikahan siapa?" tanyaku pada pemuda itu.


"Pernikahan kita." jawabnya lembut.


Aku terkejut mendengar ucapannya. Hal itu membuatku sulit bernafas.


Seketika semua terasa berputar dan menjadi gelap.


Sewaktu tersadar, aku sudah berada diatas pembaringan.


Pak Rasyid memberiku segelas air hangat.


Dia menatapku sedih.


"Apa aku sedang bermimpi?"


"Tidak Lira, kita benar-benar dalam situasi sulit."


"Bagaimana dia bisa mengatakan kalau dokumen itu adalah pernikahan kami. Sedangkan disana yang tertulis bukan namaku."


"Tenangkan dirimu dulu. Setelah kamu tenang, aku akan menjelaskan masalah ini."


"Baiklah, aku siap mendengarkan."


Pak Rasyid menggenggam tanganku lembut. Dia menoleh kearah pemuda itu yang berdiri didekat pintu. Pemuda itu tersenyum. Kemudian meninggalkan kami berdua.


"Lira, sebenarnya kamu dan pemuda itu adalah pasangan suami istri yang sah dalam hukum dunia astral."


"Tapi aku tidak mengenalnya. Dan nama itu, bukan namaku."


"Kamu memiliki nama lain didunia kami. Nama itu adalah pemberian darinya. Dengan begitu, kamu sebenarnya adalah bagian dari dunia kami."


"Aku tidak mengerti. Kejadian ini membuatku sakit kepala."


"Sudah waktunya kamu ingat tentang masa lalu di dunia kami."


"Apa yang harus aku ingat? Kalau aku tidak memilikinya sedikitpun."


"Mereka memang telah membuatmu kehilangan ingatan tentang dunia kami. Karena mereka ingin, kamu menjalani kehidupan sebagai manusia normal."


Aku memeluk Pak Rasyid, dan menangis didalam pelukannya.


Semua kejadian ini membuatku sangat bingung. Siapa sebenarnya diriku?


Manusia atau bagian dari dunia mereka?


๐Ÿƒ๐Ÿƒ