
By: Tiara Sajanaka
🌼"Kamu pulangnya besok saja ya. Aku kangen masakanmu." ucapnya tiba-tiba.
"Apa? Memasak?" aku benar-benar terkejut mendengar dia memintaku memasak.
"Iya, setahun yang lalu, aku pernah datang ke tempat kostmu. Waktu itu, kamu memasak ikan bakar dibumbu santan pedas. Enak sekali rasanya."
"Aku tidak ingat Soal itu."
"Sudah, nanti pasti ingat." ucapnya sambil menarik tanganku. Aku buru-buru mengambil tas ransel yang kuletakkan di samping tiang gazebo.
"Kita mau kemana?" teriakku kesal.
Dia tidak menjawab pertanyaanku. Tapi memintaku segera naik keatas sepeda motor.
Aku tidak mengerti, ntah apa yang ada didalam pikirannya saat ini. Kenapa tiba-tiba memintaku memasak.
Dia membelokkan sepeda motor ke sebuah villa. Sesampainya di parkiran, dia juga tidak berbicara. Tapi langsung menarik tanganku sampai meja resepsionis.
"Kami ingin memesan kamar yang memiliki pantry dan alat masak." katanya pada resepsionis.
Mbak resepsionis memberi salam dan menanyakan kembali pesanannya.
Pak Rasyid terlihat diam dan tidak mau mengulang pesanannya.
Dia terbiasa berbicara sekali pada para pekerjanya. Pertanyaan resepsionis itu, tentu membuatnya kesal.
Aku mengulang permintaan pak Rasyid.
Resepsionis mencatat dan menanyakan alat bantu memasak apa saja yang kami butuhkan.
Setelah mengatakan pada mereka alat-alat yang kami butuhkan, mereka memberi kami sebuah kunci.
Seorang karyawan hotel, datang untuk mengantar ke kamar yang kami pesan.
Tempatnya Asri sekali. Banyak pohon dan tanaman hias diseluruh area villa ini.
Membuat udara terasa sejuk dengan angin sepoi-sepoi..
Jalan setapak dibuat begitu artistik. Batu kali berbentuk bulat pipih, ditabur disepanjang jalan setapak. Menimbulkan suara khas saat kita menginjaknya
Karyawan villa menunjukkan kamar yang kami pesan. Kemudian menunjukkan pantri yang dapat kami gunakan untuk memasak.
Pantrynya berada didekat ruang terbuka untuk barbeque. Bersebrangan dengan sebuah kolam renang yang terlihat seperti sebuah Laguna.
Cantik sekali.
"Bapak dan ibu bisa menggunakan pantry ini. Semua peralatan akan diantar nanti, saat bapak dan ibu akan menggunakannya." kata pegawai itu dengan sopan.
"Terima kasih pak, sepertinya kami harus berbelanja dulu. Baru akan memasak." kataku pada pegawai itu.
"Baik ibu, nanti ibu bisa langsung menghubungi nomer yang terdapat di pantry."
Setelah itu dia berpamitan.
"Kenapa diam saja?" tanyaku sewaktu pegawai itu tidak terlihat lagi.
"Tidak kenapa. Hanya aku malas dengan cara manusia merespon perintah." sungutnya.
Aku tertawa, mengajaknya masuk ke dalam kamar. Di dalam kamar, dia langsung duduk dengan kesal. Suasana hatinya begitu cepat berubah.
Mengalahkan seseorang yang mengidap bipolar.
"Sebaiknya kita tidak usah memasak, kalau suasana hatimu seperti ini."
"Tidak bisa seperti itu. Aku sudah kangen sekali dengan masakanmu."
Dia menelpon ke bagian laundry, serta meminta orang yang dapat berbelanja untuk kami.
Bagaimana dia bisa mengetahui kalau di villa ini, kita bisa meminta orang buat berbelanja.
Sepertinya dia sering menginap disini.
"Kamu sangat tahu soal itu? Apa kamu sering menginap disini?"
"Kamu mencurigaiku?"
"Tidak, untuk apa?"
"Pertanyaanmu tendensius."
"Aku bertanya, karena aku melihat kamu sangat luwes saat berbicara di telpon."
"Arya sering membawa wanita kesini. Dan aku harus pergi dari tubuhnya setiap kali dia bersama wanita. Biasanya, aku akan berjalan-jalan disekitar tempat ini. Sebelum kembali ke kediamanku.
"Bukankah kamu bisa tetap berada didalam dirinya, sewaktu dia bersama wanita."
"Lira, tidak semua bangsa astral celamitan.Apalagi, kami harus patuh pada hukum semesta. Tidak bisa sesembrono itu."
"Kamu tidak tergoda dengan wanita-wanita yang dibawa Arya?"
"Mentang-mentang kami bangsa astral, trus kami nggak punya selera bagus? Kamu sering bertemu wanita di dunia kami. Seperti apa tampilan mereka? Jauh lebih cantik dan menawan daripada manusia."
"Trus, kenapa kamu mencintai manusia yang tidak menarik ini?"
"Hmm, sepertinya kita akan mulai berdebat soal itu." dia tertawa kecil.
Suara ketukan pintu, menghentikan perdebatan kami.
Karyawan bagian laundry datang untuk mengambil cucian.
Dia bersama seorang pria yang menanyakan daftar belanjaan kami.
🍃🍃