SINTRU

SINTRU
SINTRU -I



SINTRU - 1


By : Tiara Sajanaka


Kuperhatikan setiap gerak-geriknya dari pinggir jalan.


Dia asyik menginjak-injak rerumputan yang tumbuh di carport.


Persis disebuah mobil sedan berwarna putih.


Cahaya lampu diujung jalan, membuat pakaian yang dikenakan membiaskan gradasi putih dan ungu.


Gaun putihnya terlihat berkelas.


Rambut panjang sepinggang.


Sebagian rambut menutupi wajah.


"Ngapain nginjak-nginjak rumput sambil lompat-lompat gitu?" tegurku.


Dia menatapku dingin.


"Kalau kamu tidak mau bicara, sebaiknya aku kembali." ancamku.


Dia masih terus melakukan kegiatannya.


Aku berbalik dan ingin kembali.


"Aku sengaja memintamu datang." ucapnya memelas.


"Ada apa?"


"Kamu lihat, rumah ini sudah ada yang menempati, setelah bertahun-tahun kosong."


"Ya, aku sudah tahu. Dari mobil yang terparkir itu."


"Apakah kamu bisa meminta mereka pergi?"


"Kamu terganggu dengan kehadiran mereka? Bukankah aturan didunia kalian sangat jelas. Kamu harus menyingkir kalau tempat itu dihuni manusia."


"Bukan seperti itu. Rumah ini sejak awal dibangun, energinya tidak bagus. Aku kasihan pada mereka."


"Apa mereka pernah melihatmu?"


"Tidak, untungnya mereka adalah pasangan muda yang belum memiliki keturunan."


Syukurlah..


kalau mereka memiliki anak, apalagi bayi, bisa-bisa akan menangis sepanjang malam,saat melihat perwujudan wanita itu.


"Aku tidak mengenal mereka. Mereka pasti akan salah paham denganku."


"Lalu, aku harus bagaimana?"


"Kenapa kamu peduli pada mereka? Atau kamu hanya peduli pada dirimu?"


Dia melengos kesal.


Terbang melayang perlahan menuju dinding pembatas setinggi dua meter.


Dia duduk berjuntai dengan wajah tertutup rambut.


"Nggak sopan! Aku harus mendongak melihatmu. Mana wajahmu tertutup rambut begitu."


Dia tidak menjawab. Kakinya yang menjuntai bergoyang-goyang.


Seketika tawaku pecah.


"Kenapa tertawa?" kesalnya.


"Emang kamu saja yang boleh tertawa?" ejekku.


"Gaya kalian dimana-mana sama. Duduk berjuntai, kaki bergoyang-goyang, rambut kedepan. Emang nggak ada gaya lainnya apa?" Aku terkekeh.


"Duduklah disebelahku,"


"Ogah, ntar orang pada kabur lihat aku duduk disitu."


Aku lebih memilih bersandar pada sedan putih.


Memandangnya sambil bersedekap.


Aku juga tidak tahu, kenapa bisa tiba-tiba berada ditempat ini.


Bagaimana dia bisa memiliki energi yang begitu besar. Sampai bisa membuatku datang ke tempat ini.


Padahal, aku juga tidak pernah bertemu dengannya selama ini.


Mahluk yang aneh..


Tapi dia cukup berkelas untuk golongan dimensi kedua.


🍃🍃


SINTRU - 2


By : Setya Rahayu


🌼 Tiba-tiba, lampu teras menyala terang benderang.


Aku terkejut.


Dengan gugup berusaha menunduk disamping bodi mobil.


Wanita itu tertawa melihatku.


Dia tertawa cukup keras.


Membuatku semakin gusar.


Seorang pria muda keluar dari dalam rumah.


Tentu saja, pria muda itu bisa mendengar suara tawa cekikikan seperti itu.


Karena frekuensi suara tawa mereka dapat menembus tabir diantara dua dimensi.


Pria itu mencoba mencari sosok dari sumber tawa tadi.


Kulihat, wanita itu terkejut.


Dia segera melayang ke arah atap.


"Egois!" bathinku. Dia malah meninggalkan aku sendiri yang sedang bersembunyi.


Sambil merunduk-runduk, aku berusaha mengintip dari jendela mobil.


Sebentar kemudian, pria itu masuk kedalam rumah.


Kutarik nafas lega.


"Aman.." ucapku dalam hati.


Aku segera berdiri. Menenangkan diri sebentar.


Sewaktu akan meninggalkan rumah itu.


Terasa ada yang melempar sesuatu kearahku.


Seketika aku tertegun saat melihat pria itu sedang berjalan kearahku.


Dan yang membuatku semakin terkejut, pria muda itu tidak mengenakan pakaian.


Tubuhnya polos tanpa sehelai benangpun.


Dia memegang sebuah wadah.


Tangan kanannya menyomot sesuatu dari wadah itu.


Kemudian ditebarkan kesegala penjuru.


Benda yang ditebarkan itulah yang mengenaiku tadi.


Jarak kami semakin dekat.


Dia terus melangkah sambil menebar benda berbentuk butiran kristal.


Ketika dia telah berada di dekatku, aku melangkah mundur perlahan.


Ternyata, dia melewatiku.


Tapi, aku menjadi heran. Kenapa dia tidak melihatku?


Bukankah kami sudah sangat dekat?


Tapi, syukurlah kalau dia tidak melihatku.


Perlahan-lahan kutarik nafas lega.


Pria itu berhenti sejenak.


Sepertinya dia mendengar dengus nafasku.


Ketika dia berbalik, aku menjadi sangat gugup.


Dia berusaha mencari sesuatu didekatku.


Melihat tajam-tajam disekitar tempatku berdiri.


Kutahan nafas sekuatnya.


Agar dia tidak mendengar suara nafasku.


Pria itu menyomot butiran kristal dari wadah yang dibawanya.


Kemudian dia tebar disekitarku.


Terdengar ayat-ayat pengusir makhluk astral sedang diucapkannya.


Seketika aku merasa kesal.


Dan ingin menegurnya.


Kenapa dia tidak bisa membedakan antara makhluk astral dan manusia?


Jelas-jelas kalau aku adalah manusia.


Malah dibacakan ayat-ayat pengusir makhluk astral.


Manusia aneh!


Setelah memastikan tidak ada siapa-siapa, pria itu berkeliling sambil menebar butiran kristal. Dia juga membaca ayat-ayat pengusir makhluk astral.


Sekitar sepuluh menit dia mengelilingi rumah.


Berhenti didekat carport. Melihat ke sekeliling, untuk memastikan keadaan sudah aman.


Tak lama kemudian, pria itu masuk kedalam rumah.


Sekarang aku harus membersihkan butiran kristal itu dari pakaianku.


Beberapa butiran menempel di pakaianku.


Kutebas perlahan, bagian yang terkena butiran kristal itu.


Sewaktu tanganku menyentuh butiran yang menempel dibahu, kuambil butiran itu dan memperhatikannya.


Ternyata garam krosok.


🍃🍃