
By: Tiara Sajanaka
🌼Setelah menikmati makan siang. Kami berempat menuju kearah bukit tempat kami akan berkemah.
Saat makan tadi, hanya aku dan pak Rasyid yang benar-benar makan. Manggala dan pemuda yang bernama Mavendra itu hanya menemani kami duduk.
Astral dunia bawah air, memiliki selera makan yang berbeda dengan astral lainnya.
Mungkin mereka membawa bekal dalam bentuk lain.
Tempat yang kami tuju tidak terlalu jauh dari pantai yang kami kunjungi tadi.
Lokasinya masih satu desa.
Dari tempat camping ini, pantai yang kami kunjungi juga terlihat. Tempat yang indah dengan pemandangan luar biasa.
Tenda telah disediakan oleh pengelola tempat wisata diatas bukit ini.
Manggala memesan tenda untuk empat orang. Selain tenda, mereka juga menyediakan kayu untuk membuat api unggun. Serta menu makan malam.
Kami tiba sebelum senja. Masih ada waktu membuat persiapan api unggun serta menyiapkan tempat memanggang makanan.
Diantara kami berempat, hanya aku yang membawa tas ransel.
Mereka bertiga Sepertinya tidak dipusingkan dengan waktu mandi dan berganti pakaian.
Bukit ini memang tempat favorit banyak orang untuk camping.
Terlihat ada beberapa tenda yang sudah terpasang disekitar kami.
Sekelompok anak muda mulai berdatangan ketempat camping.
Mereka langsung menuju ke tenda masing-masing.
Sepertinya malam ini, akan terasa lebih ramai dan penuh keceriaan.
Sewaktu Pak Rasyid menyiapkan api unggun, aku meminta ijin untuk merebahkan badan sejenak. Rasanya pinggang dan punggung kaku sekali. Apalagi mengendarai sepeda motor sampai sejauh ini.
Benar-benar membuat pinggang serasa mau lepas.
Pak Rasyid menemaniku masuk kedalam tenda. Didalam tenda telah disediakan empat matras dan empat bantal. Juga tersedia empat selimut.
"Apa kalian akan tidur malam ini?" tanyaku.
"Tentu saja kami tidak tidur, Lira. Setelah matahari terbit. Kami akan tidur sebentar."
"Lalu bagaimana denganku kalau kalian tidur, disaat aku sudah terbangun?"
"Kamu bisa mengikuti jadwal bersama kelompok yang lain. Kamu pasti akan menyukai kegiatan itu."
"Baiklah, mungkin dengan begitu, aku bisa menambah energi positif dari alam sekitar."
kataku sambil membaringkan diri diatas matras.
Rasanya nyaman sekali bisa meluruskan pinggang sejenak.
Pak Rasyid mendekat, dia mengelus kepalaku dengan lembut.
Kutepis tangannya pelan-pelan. Dia tertawa. Menatapku dengan matanya yang bulat besar itu.
Mata milik Arya memang besar. Dia sering terlihat seperti sedang melotot sewaktu melihat sesuatu.
Arya juga memiliki bentuk tubuh yang besar. Tingginya sepuluh centi lebih tinggi dariku.
Berat badannya mungkin sekitar delapan puluh tujuh kg atau lebih.
Tapi tidak bisa membuatku luluh.
Tiba-tiba dia sudah mendaratkan ciuman ke pipiku. Aku melengos menghindari ciumannya yang akan mendarat lagi dipipiku.
Dia semakin terkekeh melihat tingkahku.
"Kenapa? Bukankah aku hanya mencium pipimu?"
"Jangan membuatku semakin kesal padamu. Dengan melihatmu didekatku Seperti ini, sudah membuatku kecewa. Apalagi kalau kamu semakin membuatku kesal, sebaiknya besok aku kembali saja."
"Oh, Lira! Apa kamu benar-benar illfeel dengan bentuk tubuhnya?"
"Perasaanku tidak bisa beralih dari sahabat lalu mendadak harus mencintainya."
"Kamu tidak perlu melakukan itu. Karena yang kamu cintai tetap aku."
"Kalau begitu,jangan paksa aku untuk bisa menerima seolah-olah tubuhnya sama seperti tubuhmu."
"Kamu memang keras kepala."
"Lalu, kenapa kamu masih bersamaku?"
Dia tertawa kecil, mengambil sebuah bantal.
Dan diletakkan disebelahku.
Kemudian dia berbaring seraya meluruskan semua anggota tubuhnya.
"Nyaman sekali berbaring seperti ini." ucapnya tanpa melihat kearahku.
"Apa selama ini, kamu tidak pernah melakukan hal itu?"
"Sering, tetapi tubuh ini benar-benar bisa merasakan dengan lebih baik."
Tubuh kasar manusia memang lebih peka dalam merasakan sesuatu.
Dapat berbaring sebentar, sambil meluruskan pinggang juga merupakan suatu kenyamanan yang luar biasa. Setelah kita melakukan perjalanan jauh.
Aku melihat kearahnya sambil menopang kepalaku dengan satu tangan.
"Aku memiliki beberapa pertanyaan untukmu. Apa kamu berkenan menjawab pertanyaanku itu?"
"Tentu saja, asal kamu bersedia tidak memanggilku pak." jawabnya dingin.
"Tidak masalah. Toh aku bisa memanggilmu Arya."
"Apa nama Rasyid terlalu berat buat lidahmu?"ketusnya.
"Aku melihat sosok Arya. Bukan Rasyid."
"Terserah kamu saja. Aku akan keluar untuk melihat matahari terbenam.Sebaiknya kamu tidak melewatkan moment ini."
dia beringsut keluar dari dalam tenda. Bergabung bersama orang-orang yang mengelilingi api unggun.
Aku segera menyusulnya duduk didekat api unggun.
Suasana terasa hening dan damai.
Sebagian dari rombongan anak muda itu, terlihat begitu fokus mengabadikan matahari yang mulai tenggelam dengan indahnya.
🍃🍃