
By: Setya Rahayu
🌼 Setelah pak Rasyid selesai membaca pembelaannya.
Giliranku yang akan berbicara.
Sebelumnya, seorang petuga pengadilan membacakan riwayat hidupku.
Tanggal lahir, bulan dan tahun. Serta alamat tempat tinggalku . Alamat kerja. Juga daerah asal. Mereka mengetahui semua dengan sangat detail.
Mereka tidak memintaku turun ke lantai.
Tetapi, memintaku duduk didekat pak Rasyid.
Dua orang petugas menjemputku dari bangku saksi.
Mereka terbang melayang dengan tenang.
Dua helai kain sutra digunakan untuk membawaku dari bangku saksi menuju ke tempat pak Rasyid.
Kuanggukkan kepala pada pak Rasyid, setelah aku sampai di dekatnya.
Jarak kami sekitar lima meter.
Aku berdiri untuk memberikan kesaksian.
Menjelaskan tentang pertemuanku dengan pak Rasyid. Kemudian menceritakan tentang lamaran Arkana yang memanfaatkan situasi para Astral penghuni villa.
Aku juga menjelaskan dengan tegas, kalau aku bukan penyusup.
Tetapi sedang mendapat tugas untuk membantu para astral penghuni Villa.
Seorang sesepuh bertanya padaku.
Bagaimana aku bisa memasuki wilayah mereka tanpa kendala.
Awalnya aku ragu untuk menjelaskan. Karena khawatir akan melibatkan mbak Kun.
Tetapi aku ingat, kalau mbak Kun memanggilku hanya untuk berada di area mereka.
Sedangkan saat memasuki area diluar tempat mbak Kun, Arkana dan pak Rasyid lah yang menjemputku.
Para sesepuh bergantian memberikan pertanyaan. Semua pertanyaan aku jawab dengan sejujur-jujurnya. Karena mereka bisa mengetahui kebohongan sekecil apapun.
Suasana sidang menjadi panas, sewaktu Arkana mengatakan aku telah mencoba membohongi para sesepuh.
Sewaktu menjawab pertanyaan. Apakah aku mencintai Rasyid?
Saat itu dengan tegas kukatakan kalau aku sangat mengagumi dan menghormati pak Rasyid.
Tetapi mereka memintaku menjawab dengan iya atau tidak.
Tentu saja aku menjawab tidak.
Arkana menjadi kesal, dengan jawabanku.
Dia yakin, kalau aku dan pak Rasyid telah bersekongkol agar kami bisa terbebas dari hukuman.
Setelah persidangan yang alot, panas dan menguras energi.
Akhirnya, aku membuat kesepakatan dengan Arkana.
Pak Rasyid menolak kesepakatan itu.
Karena hal itu akan membuatnya semakin jauh dariku.
Namun, perseteruan bapak dan anak harus diakhiri.
Pak Rasyid terbebas dari segala tuduhan.
Arkana lega, karena dia yakin aku akan memegang kesepakatan itu.
Meja persidangan ditutup dengan doa dan ucapan terima kasih kepada para sesepuh serta semua yang telah hadir.
Manggala dan mbak Kun tersenyum lebar, sewaktu melihatku mendekat kearah mereka.
Sedangkan pak Rasyid masih berbicara dengan para saksi-saksi.
Aku duduk untuk menenangkan diri.
Mbak Kun juga duduk bersamaku.
Dia sedang memperhatikan Arkana yang sedang berbicara dengan para sesepuh.
"Ada apa?" tanya mbak Kun pada Manggala.
"Sepertinya ada sesuatu yang mereka sedang diskusikan. Aku tidak bisa mendengar pembicaraan mereka. Tuan Arkana telah membuat tabir kedap suara."
"Apapun itu, tidak akan merubah kesepakatan tadi. Manggala." kata mbak Kun.
"Benar, kakak ipar memang cerdik." pujinya.
"Jangan panggil aku kakak ipar. Nanti pak Arkana ngamuk." bisikku.
Manggala tertawa kecil. Dia mengayun-ngayunkan jari telunjuknya di depanku.
"Hal itu akan membuatnya menjadi sesuatu yang terbakar." Ucapnya spontan.
Hampir saja aku tertawa. Cepat-cepat kututup mulutku dengan kedua tanganku.
Tapi, tetap saja masih terdengar suara tawa yang tertahan.
Tiba-tiba mbak Kun berdiri dengan sikap santun. Sambil melihat ke depan.
Aku dan Manggala berbarengan melihat kearah pandangan mbak Kun.
Manggal seketika menghentikan tawanya.
Dia juga langsung bersikap sopan.
"Apa yang kalian tertawa kan?" tanya Arkana datar.
Manggala mengatakan kalau aku sedang bercanda dengannya.
"Candaan seperti apa?" selidik Arkana.
"Saya membayangkan araipama Gigas yang terbakar, pak." jawabku cepat.
"Apa kamu ingin memakan Manggala?" tanyanya.
"Bukan..bukan seperti itu pak. Tapi saya membayangkan kalau dia sedang marah."
Arkana terkejut mendengar jawabanku. Dia mendengus kesal dan memintaku untuk berbicara berdua dengannya.
Tentu saja dia merasa kesal.
Karena hanya keturunannya yang sanggup melakukan hal itu.
"Lira hanya bercanda, tuan." kata Manggala.
"Aku ingin berbicara padanya bukan soal itu. Ini menyangkut kesepakatan kami." tegasnya.
"Apa mau aku temani, Lira?" tanya Manggala berbisik.
"Kami hanya bicara berdua, Manggala." ucapnya keras.
Arkana sudah kehilangan kesabaran pada putranya itu. Tetapi, dia tidak ingin membuat masalah dengan ibu Manggala.
Ibu Manggala adalah istrinya yang paling kuat dan luas kekuasaannya.
Kalau sampai ibu Mangala marah. Maka Arkana akan kehilangan dukungan dari dunia bawah. Itu artinya, dia harus bersedia menyerahkan kekuasaannya kepada pak Rasyid.
Hubungan ibunya Manggala dan Ibunya pak Rasyid sangat dekat.
Mereka memiliki hubungan seperti saudara kandung.
Walaupun mereka berbeda wujudnya.
Itu sebabnya, Arkana tidak akan melakukan kesalahan dengan memarahi Manggala.
"Ikut saya, Lira." ajak Arkana.
Aku segera menyusulnya.
Mbak Kun mengikuti dari jarak cukup jauh.
Sesekali aku menoleh kebelakang. Untuk memastikan, dia masih menemaniku.
🍃🍃