SINTRU

SINTRU
SINTRU-32



By: Tiara Sajanaka


🌼 Keanehan demi keanehan membuatku berfikir. Siapa sebenarnya pak Rasyid.


Kenapa para penjaga sangat patuh padanya.


Pepohonan di taman menuruti perintahnya.


Dia juga bisa membawaku ke dunia bawah.


Yang lebih mengherankan, dia bisa menyentuhku. Bisa membawa benda-benda dari dunia astral ke dunia manusia.


Makhluk astral jenis apa sebenarnya dia?


Awalnya aku tidak menyangka akan memiliki perasaan seperti ini padanya.


Karena aku tidak pernah ingin terlibat hubungan apapun dengan para penghuni dunia lain.


Ntah itu dari dimensi kedua, maupun dimensi ketiga.


Karena hal itu akan membuatku mengalami penurunan kualitas sebagai manusia.


Dan nantinya, akan menyebabkan aku terikat pada dunia mereka.


Setelah bangun tidur, badan sudah mulai terasa enak.


Sebaiknya aku masak nasi dan buat sambel ikan asin.


Walaupun ada roti, tapi perutku tidak mempan kalau hanya diisi roti.


Sebagai orang Indonesia yang dari kecil makanan pokoknya adalah nasi, perutku wajib diisi nasi.


Terdengar suara ketukan pintu.


Mungkin karyawan laundry yang akan mengambil cucian.


Kuambil kantung cucian kotor didekat pintu.


Menenteng cucian, sambil membuka pintu.


Ternyata bapak driver yang mengetuk pintu.


Sebuah kantong plastik disodorkan padaku.


"Dari ibu Manager ya pak?" tanyaku.


Dia mengangguk dan tersenyum tanpa berbicara.


"Terima kasih pak. Mohon maaf nggih pak, bapak jadi bolak-balik datang kesini."


Bapak driver menggeleng. Kemudian berpamitan tanpa bersuara.


Hanya kedua tangannya yang ditangkupkan didada.


"Kenapa bapak itu terlihat aneh ya? Apa beliau kelelahan dan jadi malas berbicara?" gumamku. Setelah beliau tidak terlihat lagi.


Sebelum menutup pintu kamar, kulihat karyawan laundry datang.


Kuberikan kantong cucian padanya.


Dia juga memberikan cucian yang sudah bersih.


"Saya nggak pakai parfum mbak. Malah saya sedang pakai minyak gosok." kekehku.


"Aromanya lembut dan manis. Enak banget mbak."


"Widih, enak. Emang kue?" candaku.


"Beneran mbak, mosok minyak gosok baunya enak begini?" dia tertawa kecil.


Aku tertawa geli. Tidak berani menunjukkan botol minyak itu padanya.


Dia pasti akan bertanya dimana aku mendapatkan minyak itu. Dimana membelinya. Serta berbagai pertanyaan lainnya.


"Terima kasih ya mbak, saya masuk dulu." kataku sopan.


Karyawan laundry itu tersenyum. Dia juga mengatakan akan melanjutkan pekerjaannya.


Kulambaikan tangan padanya sebelum menutup pintu.


Aku merasa tidak enak pada ibu manager ditempat kerjaku.


Tadi pagi, drivernya telah mengantarkan sarapan. Sekarang malah mengirimkan sesuatu.


Kubuka kantong plastik putih dengan rasa penasaran.


Aroma sop tulang seketika tercium olehku.


Bagaimana ibu manager bisa mengetahui kesukaanku?


Selama ini, beliau tidak pernah melihatku makan sop tulang.


Aku memang suka sekali sop tulang.


Sesekali akan membelinya, saat ada rezeki lebih. Untuk memperbaiki gizi dan menambah energi.


Seporsi sop tulang dan sebungkus nasi putih. Menu makan siangku hari ini.


Akhirnya, aku tidak makan ikan asin untuk menu makan siang.


Sungguh luar biasa cara ALLAH menyentuh hati seseorang.


Sampai ibu manager berkenan membelikan sarapan dan makan siangku.


Sebelum makan, kukirim pesan pada ibu manager.


Mengucapkan terima kasih atas semua kebaikannya.


Pesan yang kukirimkan masih centang satu.


Mungkin beliau sedang sibuk. Bathinnku.


Mencium aroma sop tulang kesukaan, membuatku tidak tahan untuk menunda jadwal makan siang.


Setelah membaca doa, aku menikmati makan siang dengan penuh rasa syukur.


Rasa sop yang sangat kuhapal. Membuatku heran. Darimana beliau tahu tempatku berlangganan sop tulang.


Atau selama ini, beliau sering melihatku ke kedai sop itu?


🍃🍃