
By: Tiara Sajanaka
🌼Aku jadi penasaran dengan minyak gosok itu.
Segera ku habiskan bubur ayam sarapanku. Meminum teh panas dengan terburu-buru. Masih panas,membuat ujung lidahku melepuh.
Namun kuabaikan. Karena pikiranku hanya tertuju pada minyak gosok itu.
Setelah kuamati wadah minyak gosok yang terbuat dari kaca hitam tebal,
aku tersadar, kalau minyak ini bukan berasal dari dunia manusia.
Bentuk wadahnya yang berbeda, serta aromanya yang lembut, membuatku semakin yakin. Suara kantong plastik yang dibuka tadi, bukanlah halusinasi.
Tapi, pak Rasyid memasukkan minyak ini kedalamnya.
Dia memang pintar. Tapi dia lupa kalau aku bisa membedakan benda-benda dari dunia manusia dan benda-benda dari dunia astral.
Seketika wajahku terasa merona.
Aku tersanjung dengan perhatiannya.
Namun, aku bertanya-tanya. Apa dia melakukan hal itu benar-benar dari hatinya atau itu perintah Arkana?
Pak Rasyid membuatku seperti gadis remaja yang sedang jatuh cinta.
Tersenyum sendiri dan terus menerus membayangkan senyumannya.
Padahal, aku sangat sulit untuk menyukai laki-laki.
Apalagi, dia bukan manusia.
Bagaimana bisa, aku jatuh cinta pada makhluk astral?
Kali ini, aku memang seperti sedang terbuai pada pesonanya. Saat mengusap kaki dengan minyak gosok.
Hanya wajahnya saja yang terbayang.
Wajahnya yang menawan, serta senyumnya yang membiusku.
Rasanya, aku ingin segera kembali ke dunia astral.
Ingin merasakan genggaman tangannya yang menenangkan.
Dan menghabiskan waktu bersamanya disana.
Aku tidak peduli kalau nantinya Arkana akan sangat marah.
Toh dia bukan siapa-siapaku. Dia memang melamarku. Tapi aku telah menolaknya.
Aku berhak menyukai pria yang membuatku nyaman.
Pikiranpun berkecamuk dalam dua pilihan.
Membiarkan diriku hanyut dalam perasaan yang terlarang. Atau menghentikannya sekarang juga.
Bisa saja aku hanya terlalu gede rasa atas perhatiannya.
Dan semua dia lakukan karena tanggung jawabnya untuk mengawasiku.
Oh Tuhan, kenapa aku menjadi tidak realistis seperti ini?
Bagaimana bisa tiba-tiba jatuh cinta padanya?
Kami baru bertemu tiga kali. Lalu sekarang merasakan gairah seperti anak remaja.
Ini semua adalah tipuan.
Jangan sampai terlena karena perhatiannya.
Sadarlah Lira! Aku mohon, tetaplah berada pada gravitasi bumi. Teriakku dalam hati.
Waktu menunjukkan pukul delapan pagi.
Aku bisa minum Paracetamol yang memiliki kandungan untuk mengurangi rasa pegal dan linu. Agar saat bangun tidur, badan terasa lebih ringan.
Pagi ini, kugunakan waktu untuk membereskan kamar.
Serta memasukkan pakaian kotor ke dalam kantong laundry.
Nanti siang, karyawan laundry akan datang mengambilnya. Dia juga akan mengantar pakaian yang sudah bersih ke semua kamar kost.
Pemilik kamar kost, membuka usaha laundry di ruko samping kedai kopi miliknya.
Pemilik kost memberi diskon dua puluh persen untuk para penghuni kost miliknya.
Kami juga bisa membayar setelah gajian.
Cukup meringankan bagi para pekerja seperti kami.
Selesai membersihkan kamar, aku menutup jendela.
Sedangkan tirainya tetap kubiarkan terbuka,
Sambil berbaring aku membaca sebuah buku. Sekedar menghilangkan kebosanan.
Perlahan-lahan rasa kantuk mulai menyergap .
Tak lama kemudian, aku mulai berada diantara sadar dan setengah tertidur.
Samar-samar kulihat pak Rasyid menutup tirai jendela. Membuat suasana kamar menjadi redup dan teduh.
Dia mengambil minyak gosok. Kemudian membalurkannya keseluruh betis dan telapak kakiku.
Selesai membalur bagian betis, dia membalur bahu, lengan sampai ke telapak tanganku.
Rasanya nyaman sekali.
Didalam tidurku, aku merasa kalau semua yang terjadi hanyalah sebuah mimpi.
Tak lama kemudian, dia duduk disebelah kepalaku. Mengusap kepalaku lembut dengan penuh perasaan.
Dia melakukannya dengan penuh ketulusan.
Tidak terasa, air mataku menetes perlahan.
Pipi yang basah membuatku terbangun.
Kuusap air mata yang mengalir ke pipi.
Ternyata aku benar-benar meneteskan air mata.
Kulihat kesekeliling kamar.
Tidak ada siapa-siapa.
Mungkin mimpi itu, bagian dari alam bawah sadarku yang terus menerus mengingat pak Rasyid.
Kulihat jam di handphone baru menunjukkan pukul sebelas kurang sepuluh menit.
Lumayan lama juga aku tertidur.
Sekarang badan sudah terasa lebih ringan.
Betis dan kaki tidak kebas lagi.
Minyak gosok itu, sangat ampuh mengusir rasa kebas dan linu-linu di badan.
Bersyukur, pak Rasyid memberikan minyak itu. Walaupun masih merasakan banyak keanehan dari dirinya.
🍃🍃