
By: Tiara Sajanaka
🌼Aku membaca artikel dari sebuah portal, berita tentang prostitusi terselubung sangat marak akhir-akhir ini.
Aku tidak berfikiran negatif tentang berita itu.
Tetapi berharap dijauhkan dari hal-hal seperti itu.
Setelah mandi, sholat dan makan, aku duduk membaca buku.
Dibuku ini, ada mantra doa untuk membersihkan energi negatif.
Nantinya, istri mas Jantaka harus mandi dengan tata cara ini, sebelum menggunakan akar laut.
Mungkin mas Jantaka tahu tentang mantra doa ini. Jadi, aku tidak perlu menemani istri mas Jantaka saat melakukan ritual.
Setelah membaca beberapa arahan dari buku ketabiban, aku beristirahat sejenak.
Sebaiknya, malam ini aku tidak ke tempat mereka. Badan terasa lemah dan sedikit dehidrasi. Seharian tadi aku malas sekali minum. Hal itu membuat bibir
kering dan pecah-pecah.
Suara Trisna terdengar memanggil dari balik pintu.
Kubuka pintu sebagian, menjulurkan kepala untuk melihatnya.
"Ada apa?" tanyaku setengah mengantuk.
"Tris mau bicara sebentar mbak." ucapnya sambil mendorongku masuk.
Dia juga masuk kedalam kamar sambil menutup pintu.
"Mbak, sudah mau tidur?" tanyanya sambil memintaku duduk.
Dia juga duduk bersila berhadapanku.
"Iya. Tapi bicaralah. Mbak akan dengarkan."
"Mbak sudah ketemu sama Fara?"
"Sudah, bahkkan dia tahu banyak hal tentang mbak dari kamu."
"Dia bohong mbak." ketusnya.
"Ha? Trus apa alasan, dia berbohong?" tanyaku terkejut.
"Biar Tris jelaskan dulu ya mbak."
"Baiklah," kuambil dua gelas air putih untuk kami.
"Minumlah dulu." kusodorkan satu gelas untuknya.
Trisna meraih gelas, lalu meneguknya dengan cepat.
"Hei, pelan-pelan."
"Aku haus banget mbak. Belum sempat masuk kamar."
"Pantes masih bau."
"Ih mbak ini, aku pakai deodoran lho."
"Mbak, aku serius soal kebohongan Fara."
"Dia anak kost baru, trus kenapa dia berbohong soal kita."
"Bukan kita saja, tapi beberapa anak kost disini juga sama. Saat berbicara denganku, dia bersikap sok kenal. Dan mengatakan kalau teman satu kamarku bercerita banyak tentang aku. Padahal, mbak tahu sendiri Dina itu bagaimana?"
"Hmm, cukup menarik."
"Menarik apanya?"
"Artinya, dia ingin terlihat akrab dengan semua orang. Sayangnya cara yang digunakan melibatkan orang lain."
"Nah itu mbak. Aku tadi sudah menebak. Pasti dia akan mengatakan kalau aku cerita banyak tentang mbak. Padahal, kami hanya sempat ngobrol sebentar sekali. Sewaktu aku mau berangkat kerja. Itupun dia langsung bicara kalau Dina cerita banyak tentangku."
Kuhela nafas panjang. Mencoba menganalisa tentang kejadian ini.
Apa sebenarnya tujuan Fara bersikap seperti itu?
Masalah Luna belum selesai. Dia masih meninggalkan hutangnya disini.
Ntah keluarganya akan menyelesaikan urusan hutang-hutangnya itu atau tidak, aku tidak tahu.
Sekarang muncul Fara yang bersikap, seolah-olah sangat mengenal kami semua.
Apa mereka ada kaitannya atau sebenarnya mereka satu kelompok?
Duh! Jangan berprasangka Lira.
Sebaiknya bersikaplah tenang dan tulus.
Siapa tahu, Fara memang ingin bersikap baik. Dan ingin bisa diterima di tempat ini.
"Kita lihat saja, ada apa dibalik semua keanehan yang terjadi di tempat kita ini."
"Mbak merasa ada yang aneh?" tanyanya penasaran.
"Tidak, Trisna. Tapi waspada itu juga perlu."
"Trisna tidak berani terlalu dekat sama Fara, mbak."
"Kamu trauma?"
"Hanya tidak mau bermasalah dengan orang lain, mbak."
Aku tersenyum. Kita selalu berusaha menghindari masalah. Tapi seringkali orang lain yang mencari dan membuat masalah.
"Aku pamit ya mbak. Mau mandi.Gerah banget rasanya." kata Trisna sambil berdiri.
Setelah Trisna kembali ke kamarnya.
Aku langsung berbaring dan tidur.
Malam ini, waktunya tubuh untuk beristirahat dengan cukup. Serta memberikan waktu pada organ didalam untuk meregenerasi sel-sel inti.
Hal yang sulit dilakukan saat aku sedang mengembara.
Walaupun tubuh material sedang dalam posisi tidur, tapi tubuh astral yang berkelana dapat mempengaruhi kesehatan tubuh material.
🍃🍃