
By: Setya Rahayu
🌼Waktu tiga hari itu, ternyata cukup menyiksaku.
Perasaan menjadi gelisah tidak menentu.
Pikiran juga tidak bisa fokus dengan hal apapun.
Sampai aku memutuskan untuk melupakannya. Agar hatiku bisa merasa damai dan tidak kemrungsung.
Janjiku pada mas Jantaka belum bisa kutepati.
Semoga setelah masalah pak Rasyid dan Arkana selesai. Aku bisa menemui mas Jantaka.
Hari ini aku pulang kerja lebih awal. Saat akan membuka pintu kamar, kulihat Luna juga baru pulang.
Tidak ada siapa-siapa selain kami berdua.
Sepertinya dia baru pulang dari berbelanja di sebuah gerai ternama.
Terlihat dari kantong belanjaan yang di tentengnya.
Dia terkejut melihatku. Mungkin dia pikir aku belum pulang kerja. Karena biasanya jam setengah enam, aku baru sampai tempat kost.
Dia buru-buru membuka pintu kamarnya. Sebelum dia masuk, aku menghampirinya.
"Kamu tega ya, disaat Trisna berjuang untuk mendapatkan uang buat ibunya. Kamu malah tidak mengembalikan uangnya."
"Kenapa sih, kamu sok ikut campur urusanku? Bilang aja kalau kamu sirik.Nggak bisa beli barang mahal kayak aku."
"Kamu ini memang sudah kelewatan.Aku tidak peduli dengan gaya hidupmu. Asal kamu ingat kewajibanmu sama kami."
"Iya, nanti aku bayar." dia mendorongku dengan bahunya. Kemudian masuk kamar dan langsung mengunci pintu.
Ku ketuk pintu kamarnya pelan-pelan.
Dia tidak mau membukanya.
Kuketuk lagi dengan suara lebih kuat
Terdengar suara benda yang dilemparkan ke pintu.
Seketika emosiku meledak.
Membuatku menggedor pintu kamarnya dengan keras.
Dia berteriak sambil mengucapkan kata-kata kotor.
"Kamu mau bicara baik-baik atau kutelpon bapak penjaga." teriakku.
"Telpon sana!" pekiknya.
Kutelpon bapak penjaga kost.
Beliau naik keatas dan menanyakan ada masalah apa.
Kukatakan kalau aku perlu berbicara pada Luna.
Akhirnya, bapak kost meminta Luna keluar dari kamarnya.
Luna keluar dari kamar sambil marah-marah dan mengoceh.
Aku belum sempat berbicara, dia sudah mengancamku.
Bapak kost memintanya agar berbicara lebih sopan.Tapi dia malah semakin menjadi.
"Aku mau bicara, kamu tidak mau membuka pintu."
"Aku akan laporkan kamu."
"Dengan tuduhan apa?"
"Perbuatan tidak menyenangkan dan pencemaran nama baik."
Aku terkekeh mendengar ancamannya. Bapak kost sampai geleng-geleng kepala.
"Kamu itu memang keterlaluan. Sudah salah malah pakai ngancam segala."
"Kamu sudah membuatku tidak nyaman. Kamu juga sudah bikin aku malu."
"Terserah kamu saja. Yang penting, selesaikan urusanmu dengan kami."
Dia masuk kedalam kamar, mengambil handphone untuk menghubungi seseorang.
Bapak penjaga kost mengatakan kalau masih ada urusan di bawah.
Beliau juga memintaku menghubunginya kalau terjadi sesuatu.
Kuucapkan terima kasih dan meminta maaf karena telah menyita waktu beliau.
Kutinggalkan Luna yang masih sibuk berbicara di telpon.
Sebaiknya aku mandi terlebih dulu, sebelum nanti berbicara lagi padanya.
Terdengar dia membanting pintu kamarnya saat aku masuk kamar.
Aku mengelus dada, berusaha untuk tidak terpancing emosi.
Ingin rasanya, menariknya keluar dan menghajarnya.
Tapi hal itu hanya akan membuat masalah semakin melebar.
Selesai mandi, aku kembali ke kamarnya.
Sebenarnya, aku hanya ingin memastikan kapan dia akan mengembalikan pinjamannya itu.
Mungkin bagi dia, uang yang dipinjam tidak seberapa.
Tetapi bagi kami, uang itu sangat besar nominalnya.
Dia membuka pintu setengahnya.
Dan mengatakan, nanti ada pihak berwajib yang akan menangkapku.
"Baiklah, kalau memang itu maumu. Tapi jangan menyesal kalau aku menuntut balik nantinya." tegasku.
Dia terdiam, memandangku dengan marah.
Kemudian tanpa basa-basi menutup pintu dengan kasar.
Sepertinya anak itu sudah tidak beres.
Atau sebenarnya dia mengalami gangguan kejiwaan.
Tingkah lakunya benar-benar menjengkelkan.
🍃🍃