
By: Tiara Sajanaka
🌼 Aku memasukkan beberapa bungkus mie instan, telor, gula, teh dan cemilan kedalam sebuah kantong ramah lingkungan.
Memberikan kepada Trisna, sewaktu dia akan kembali ke kamarnya.
"Kalau perlu apa-apa, bilang ya. Jangan sampai mbak nggak tahu." pesanku.
Trisna memelukku, dia mengucapkan terima kasih dengan rasa haru.
Anak baik dan sangat berbakti pada orangtuanya. Tentu akan banyak kemudahan yang diberikan disaat menjalani kehidupan.
Kuantar Trisna sampai depan pintu kamar. Memperhatikan dia berjalan di lorong. Dan menunggunya sampai masuk kedalam kamarnya.
Setelah mengunci pintu, aku mencuci peralatan makan. Membersihkan ruangan serta menyemprot menggunakan penetral ruangan. Membuka jendela kamar dan menghidupkan kipas angin.
Pak Rasyid memperhatikan semua gerak-gerikku dengan senyum lebar.
"Kenapa senyum-senyum?" tanyaku kesal.
"Kamu itu tidak tahan bau. Tapi memasak dikamar. Selesai masak jadi ribet sendiri." kekehnya.
"Aku nggak suka masak di pantry. Sering banyak peralatan makan yang tidak langsung dicuci. Lagian disini ada tempat mencuci piring. Lebih enak masak di kamar."
"Trus, ngapain kamu kasih aku mie instan?"
"Cobalah, pasti nanti akan ketagihan."
"Kamu kan tahu, aku nggak bisa makan seperti itu. Kecuali aku berada didalam tubuh Arya."
Aku tertegun mendengar dia menyebut nama Arya.
"Bagaimana keadaan Arya?" tanyaku khawatir.
"Dia baik-baik saja. Memang dua hari ini dia tidur terus." ucapnya lembut.
"Dia pasti kelelahan. Tubuhnya dibawa kemana-mana."
"Dia sudah terbiasa. Tidak akan ada masalah."
"Bagaimana, kalau kamu tidak lagi menggunakan tubuhnya?"
"Tidak masalah Lira. Sejak kamu tidak lagi bertemu Arya, aku jarang sekali turun. Kecuali disaat aku begitu merindukanmu."
"Apa yang kamu lakukan?"
"Pergi ke tempat-tempat dimana kita pernah datang."
"Seingatku, tidak banyak tempat yang pernah aku datangi bersama Arya."
"Iya, itu sebabnya menjadi lebih mudah buatku."
Aku tersenyum lebar. Dia sangat pandai membuatku luluh.
Kuambil mangkok didekatnya.
Kemudian membuang isinya ke tempat sampah.
"Kenapa dibuang?"
"Mie instan kalau sudah dingin, akan mengembang karena sudah menyerap kaldunya. Rasanya juga sudah tidak karuan."
Aku membungkus sampah, kemudian membawanya keluar. Dan membuangnya di tempat sampah di bawah.
Sewaktu kembali, aku berpapasan dengan Luna di tangga. Tapi dia menaikkan wajahnya.Berpura-pura tidak melihatku.
Aku tertawa sambil menggelengkan kepala.
Benar-benar orang tidak waras.
Bikin perut geli sendiri melihat tingkah lakunya.
Setelah didalam kamar, aku pamit membersihkan diri di kamar mandi.
Ntah apa yang ada didalam pikirannya sewaktu melihat kendaraan yang berseliweran di kejauhan.
Keluar dari kamar mandi, kulihat pak Rasyid menutup jendela dan tirai. Lalu duduk didekat jendela.
"Kenapa suka banget duduk disitu?" tanyaku iseng.
Dia tertawa kecil sambil menunjuk kearah pintu.
"Oalah, biar bisa mengawasi pintu?"
"Salah satunya. Tapi memang asyik duduk disini. Aku bisa melihat semua gerak-gerikmu."
"Ya sudah, duduk saja disana. Aku mau tidur." kataku sambil berbaring.
"Lira, kamu tidak menanyakan kabarku?"
"Ada berita apa?"
"Tuan Arkana, memintaku agar tidak mengganggumu lagi. Karena kamu telah memiliki ikatan di dunia Astral."
"Lalu, apa keputusanmu?"
"Aku akan hidup sebagai manusia bersamamu."
Aku terkejut mendengar keputusannya. Segera aku duduk dan mendekat kearahnya.
"Kamu jangan melakukan itu. Tubuh siapa yang akan kamu pinjam?"
"Mungkin tubuh Luna."
"Aku tidak akan pernah memaafkanmu. Kalau sampai kamu berada didalam tubuhnya."
"Kenapa? Sudah waktunya dia berada ditempat lain."
"Tidak pak. Kalau kamu menjadi dia, aku tidak akan mau berbicara lagi denganmu."
"Kamu takut aku menjadi manusia?"
"Tentu saja. Hal itu melanggar hukum dan juga akan membuat Luna kehilangan kehidupannya."
"Arya tidak. Dia tetap bisa menjadi dirinya sendiri."
"Kamu berada disana sudah sejak lama. Kalian bisa saling melengkapi. Tapi bagaimana dengan Luna? Sukmanya akan memberontak dan tidak bisa menerima kehadiranmu."
"Bukankah dia tidak baik? Kenapa kamu masih peduli padanya?"
"Aku terlalu egois untuk peduli padanya. Yang aku pikirkan adalah diriku sendiri. Bagaimana nantinya kalau aku tiba-tiba memelukmu. Sedangkan secara fisik, kamu adalah wanita."
Pak Rasyid tertawa mendengar alasanku.
"Kamu berbohong. Kamu khawatir dia akan kehilangan kehidupannya saat aku berada didalam tubuhnya."
"Lakukan saja apa maumu. Tapi aku tidak akan menyapa dan tidak akan mengijinkan kamu masuk kedalam kamarku."
"Hmmm.. sepertinya akan menarik." godanya.
"Terserah saja. Aku mau tidur. Jangan mengusikku." ketusku.
Aku langsung berbaring dan memakai selimut.
Dia berbaring disebelahku sambil bersedekap dan memandang langit-langit kamar.
"Lira, ikut aku ke dunia netral ya." ajaknya.
"Tidak malam ini, aku lelah untuk bepergian."
"Baiklah, kita tidur." dia memelukku dengan tenang.
Akupun merasa damai berada didalam pelukannya. Membuatku bisa terlelap dengan cepat.
🍃🍃