
By: Tiara Sajanaka
๐ผAdzan subuh berkumandang.
Tepat saat aku kembali.
Setelah mandi dan sholat subuh, aku duduk sambil memikirkan perjalanan tadi.
Kira-kira di daerah mana, tempat yang aku datangi itu?
Sepertinya bukan di wilayah tempat tinggalku.
Tempat yang kudatangi itu, adalah area perbukitan.Dengan lingkungan sekitarnya memiliki hutan-hutan kecil.
Udaranya bersih, sejuk dan asri.
Sangat cocok untuk orang-orang yang menyukai ketenangan dan suasana alami.
Sebaiknya, aku tanyakan pada wanita itu saat kami bertemu.Dimana sebenarnya wilayah tempat mereka tinggal?
Agar aku bisa memastikan sejarah lahan dan awal mulanya dibangun komplek villa itu.
Siang harinya, aku mulai mencari kitab yang berhubungan dengan dunia astral.
Mencoba mencari solusi terbaik untuk masalah mereka.
Agar mereka bisa memiliki tempat tinggal lagi.
Disinilah perbedaan makhluk astral liar, dengan makhluk astral yang memiliki wadah atau rumah.
Makhluk yang liar, mereka bisa tinggal dimana saja. Asalkan ada rumah kosong, pepohonan yang dapat menerima mereka, atau tempat-tempat yang terbengkalai.
Sedangkan makhluk yang memiliki tempat tinggal, mereka sulit untuk bisa hidup sembarangan.
Lalu, bagaimana caraku membantu mereka?
Aku mencoba mempelajari kitab karya Al-Farabi. Disana tidak kutemukan tulisan tentang dunia lain.
Tetapi ilmu filsafat dan politik yang sangat luas banyak diulas disana.
Begitu juga dengan kitab karya Al-Kindi dan kitab karya Al-Ghazali.
Semua itu kitab yang berat buatku. Membuatku sakit kepala dan termenung berjam-jam.
Sebaiknya aku bertemu guru. Agar bisa membahas masalah ini.
Kucoba menelpon beliau untuk membuat janji.
Teleponku tidak diangkat.
Begitu juga pesan via WA tidak dibalas.
Mungkin guru sedang sibuk.
Nanti akan kucoba menghubungi lagi.
Satu jam kemudian, guru membalas pesanku.
Beliau mengatakan,
Energi wanita itu tidak sebesar pria.
Tetapi, wanita memiliki kelebihan tidak mudah tergoda dengan tipuan dunia astral.
Mereka mudah tergoda dan tidak bisa mengendalikan diri saat berada didunia astral.
Itu sebabnya, lebih banyak laki-laki yang "hilang" daripada wanita.
Beliau memintaku mempelajari kitab Al-Buni.
Aku sedikit terkejut.
Sebab kitab itu, memiliki beberapa kitab lanjutan.
Namun, tidak ada salahnya kucoba membaca kitab karya Al-Buni.
Bersyukur aku mendapatkan kitab terjemahannya.
Kalau tidak, aku harus membaca kitab aslinya.
Kitab dengan huruf Arab gundul.
Pasti akan membuatku semakin pusing, kalau membaca kitab dengan tulisan Arab gundul.
Selama satu jam membaca kitab karya Al-Buni, tidak satupun kalimat yang bisa kucerna dengan baik.
Kuletakkan kitab diatas meja.
Merebahkan diri diatas kasur, agar sirkulasi darah berjalan lancar.
Rasa nyaman saat berbaring, membuatku tertidur.
Akupun bermimpi tentang kehidupan dunia astral.
Dunia yang masih menjadi misteri bagi manusia.
Disana kehidupan mereka sama seperti kehidupan manusia. Mereka juga membutuhkan tempat tinggal. Sedangkan manusia telah membuat tempat tinggal mereka hancur.
Suara alarm di hanphone membuatku tersentak.
Ternyata sudah jam tiga sore.
Tak lama kemudian, terdengar suara adzan ashar.
Setelah menjalankan sholat Ashar, aku duduk termenung. Mencoba mengingat mimpi yang kualami tadi.
Selama ini, manusia telah membuat hunian dengan mengambil wilayah-wilayah yang seharusnya menjadi tempat tinggal para astral dimensi kedua.
Begitu juga tempat tinggal para astral penghuni dimensi ketiga.
Secara logika, hal ini tidak dapat dijelaskan.
Bagaimana mereka bisa kehilangan tempat tinggal, kalau mereka berbeda dimensi.
Hal ini, sangat sulit untuk kujelaskan kepada orang-orang yang memiliki keinginan tahuan dalam hal ini.
Andai saja, aku bisa membawa manusia melakukan tour antar dunia astral dan dunia manusia..
Aku lebih suka membawa manusia kesana.
Agar mereka bisa melihat sendiri, seperti apa sebenarnya kehidupan dunia astral.
Karena menjelaskan hal yang tidak terlihat itu sulit.
๐๐