SINTRU

SINTRU
SINTRU- 20



By : Tiara Sajanaka


🌼Dia berhenti tertawa sewaktu melihat kelebatan api diatas lembah.


"Apa itu?" tanyaku heran.


"Sepertinya ada yang berkunjung ke lembah."


"Dari jenis apa?"


"Itu Banaspati,"


"Bukankah banaspati itu adalah sihir hitam?"


Mbak Kun tidak menjawab pertanyaanku.


Dengan cepat dia melemparkan selendang kearahku.


Kemudian membawaku menjauh dari bukit.


Hanya dalam hitungan detik,


dia sudah menurunkanku di dekat gerbang antar dimensi.


"Aku bisa terbang sendiri. Kenapa kamu membawaku menggunakan selendang?"


"Nggak usah protes. Kamu tidak tahu situasi saat ini. Kalau kamu lengah sedikit saja. Maka anak buah tuan akan menyambarmu."


"Kenapa bisa begitu?"


"Mereka akan menganggap kamu terbang di wilayah mereka tanpa ijin."


"Aku tidak paham. Tolong jelaskan dengan lebih detail."


"Kamu datang ke sini, karena aku yang membuatmu datang. Selama ini, aku tidak pernah membawamu melewati batas area kami. Tapi, sejak tuan menginginkanmu, dia mengijinkan kamu masuk ke wilayah mereka."


"Batas area kalian, serta wilayahnya.Bukankah semua ada dalam kekuasaannya?"


"Sama seperti di dunia manusia. Ada batas-batas area untuk setiap jenis makhluk. Area untuk kami sampai dimana batasnya. Area untuk para kaum siluman juga ada batasnya. Begitu juga untuk jenis lainnya."


"Oh, paham aku. Artinya, batas area para astral dimensi kedua di wilayah ini hanya sekitar kompleks villa saja?"


"Kamu terlalu banyak tahu. Kembalilah sebelum mereka melakukan patroli."


"Baiklah, besok aku akan bertemu mas Jantaka. Kalau kamu tidak bisa menemuiku, aku akan segera kembali setelah berbicara dengannya."


Mbak Kun tidak mengatakan apapun. Dia melesat pergi dengan tawanya yang menyebalkan itu.


Sebelum melewati gerbang astral, aku melihat panah-panah api yang mengejar mbak Kun.


Ternyata sejak keluar dari taman itu, anak buah Arkana selalu mengawasiku.


Awalnya, aku pikir itu adalah jenis kunang-kunang di dunia astral.


Bentuknya memang seperti panah dengan ujung mengarah kebawah.


Mereka terlihat berkedip-kedip saat berayun di udara.


Mereka mengawasiku dalam jarak cukup jauh. Itu sebabnya, wujudnya tidak terlihat jelas.


Semoga mbak Kun dapat menghindar dari kejaran para anak buah Arkana.


Kalau mereka sampai menyerangnya, sudah dapat dipastikan mereka bukanlah lawan yang mudah dikalahkan.


πŸƒ


Aku kembali saat tengah malam.


Artinya, sudah enam jam aku berada di sana.


Tapi, saat disana waktu terasa lama.


Perbedaan waktu disana dengan dunia manusia sering membuatku bingung.


Ada orang yang mengatakan, saat di dunia manusia malam hari, maka disana siang hari.


Hanya saja, waktu disana terasa lebih lama.


Hal itu yang membuatku sering terkejut saat kembali ke dunia manusia.


Suara keroncongan dari dalam perut, membuatku sadar.


Kalau aku belum makan apa-apa sejak siang tadi.


Perjalanan di dunia astral lumayan menguras energi. Membuat cadangan didalam tubuh terkuras.


Sebaiknya, aku makan sesuatu sebelum melanjutkan tidur. Kalau tidak, aku tidak akan bisa tidur nyenyak.


Kubuka kotak tempat penyimpanan cemilan. Ternyata, sudah tidak ada stock cemilan ataupun mie instan.


Yang tersisa hanya satu sachet susu coklat.


Lumayan buat menghangatkan perut.


Semua cadangan cemilan dan mie instan sudah habis dari kemarin.


Aku harus menunggu gajian untuk berbelanja stock makanan.


Sedangkan gajian masih menunggu dua hari lagi.


Beras, minyak goreng, serta ikan asin masih bisa kugunakan untuk sahur dan berbuka.


Setidaknya masih bisa bertahan sampai waktu gajian.


Sebagai anak kost dan jauh dari orangtua, memang harus pandai berhemat.


Gaji juga mesti dibagi-bagi dengan baik, agar tidak kelabakan saat akhir bulan.


Lalu, kenapa sampai kehabisan stock cemilan dan mie instan?


Sering, tetangga kost meminjam mie instan saat tengah malam.


Mereka tahu, aku selalu punya stock untuk keadaan darurat.


Sedangkan warung sudah tutup.


Akhirnya, mereka akan menggedor pintu kamarku.


Sayangnya, setelah mereka meminjam cadanganku.


Mereka lupa mengembalikan.


Dan aku tidak mungkin menagih pinjaman seperti itu.


Baiklah, sekarang cukup segelas susu coklat panas sebagai pengganjal lapar.


Kutuang air kedalam teko elektrik.Hanya segelas saja. Agar cepat mendidih.


Sambil menunggu air mendidih, aku menulis di sebuah karton tebal.


Menulis daftar harga mie instan, kopi sachet, susu sachet, cemilan, serta beberapa makanan yang sering mereka pinjam. Bahkan pembalutpun selalu ada saja yang meminjam.


Sudah waktunya untuk bersikap sedikit perhitungan.


Karena mereka juga tidak memiliki tanggung jawab untuk mengembalikan apa yang mereka pinjam.


Memang sering terdengar kata-kata tidak enak.


Mereka bilang, "Heleh, sebungkus mie instan doang, sebungkus kopi doang.."


Ya ALLAH,


Pingin banget aku teriak, kalau sebungkus dikalikan sekian orang. Trus dikali beberapa kali pinjam. Jumlahnya jadi berapa bungkus?


Aku pikir, sekelas Indomaret dan Alfamart lama-lama juga akan bangkrut.


πŸƒπŸƒ