SINTRU

SINTRU
SINTRU-55



By: Tiara Sajanaka


๐ŸŒผPaman mas Jantaka memulai proses untuk memanggil para astral pulang ke Villa.


Selama ini, mereka tercerai berai dimana saja.


Termasuk mbak Kun.


Saat mereka datang, suasana terasa berat sekali. Energi negatif mulai berputar-putar diatas villa.


Mereka bukan menunjukkan wujudnya, tetapi hanya berupa kabut tipis seperti gumpalan kapas berwarna abu-abu.


Setelah paman membaca sebuah mantra, para astral mulai memasuki kayu-kayu yang berada diatas daun jati.


Mbak Kun berdiri di sampingku, dia tidak perlu masuk kedalam rumah lama mereka.


Dia memiliki energi yang besar untuk dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya.


Tetapi, saat dia mengembalikan energi itu pada pemiliknya, dia akan kehilangan kemampuan itu.


Tiba-tiba mbak Kun melesat cepat sekali menuju arah Utara.


Sepertinya dia sedang mengejar seorang astral yang akan kabur.


Tak berapa lama kemudian, dia kembali sambil menjewer telinga seorang anak kecil.


Anak itu tidak ingin pindah dari wilayah di villa ini. Mungkin dia sudah merasa nyaman bisa berkeliaran sesuka hatinya.


Tetapi dia tidak tahu, kalau hal itu dapat membuatnya menjadi terlunta-lunta.


Setelah membawa anak itu masuk ke dalam rumah mereka, mbak Kun memberitahu kalau kayu-kayu itu sudah bisa dibungkus dan diikat dengan tali dari serat batang pisang.


Aku menyampaikan pada mas Jantaka. Karena mas Jantaka bisa mendengar suaraku.


Walau dia mendengarnya Seperti sebuah bisikan.


Padahal aku harus berbicara dengan suara sangat keras dan kuat.


Mas Jantaka menganggukkan kepalanya sewaktu mendengar suaraku.


Kemudian, dia bersama paman mulai membungkus kayu-kayu itu dan mengikatnya serapat mungkin.


Sekitar tiga puluh menit, pekerjaan itu selesai.


Mbak Kun memintaku menyampaikan pada mereka mantra yang harus dibaca.


Mereka harus membaca sebait mantra sambil mengusap setiap kayu sebanyak tiga kali.


Dan sesuatu terjadi, sewaktu mereka selesai membaca semua mantra.


Kayu-kayu itu bergerak naik perlahan. Lalu melayang-layang di udara.


Mas Jantaka dan pamannya terlihat sangat terkejut melihat kayu-kayu itu bergerak sendiri.


"Katakan pada mereka, kami pamit dan tidak akan mengganggu tempat ini lagi." kata mbak Kun.


Aku menyampaikan pesan mbak Kun pada mas Jantaka. Mas Jantaka melanjutkan pesan itu pada pamannya.


Paman terlihat mengangguk dan mempersilakan kayu-kayu itu menuju ke tempat yang lebih baik.


Mbak Kun berdiri didepan semua kayu yang berbaris di udara.


Sewaktu dia melangkah ke depan, kayu-kayu itu bergerak ke depan.


Saat dia berhenti, kayu-kayu itu juga berhenti.


"Mas, aku pamit ya! Sampaikan rasa terima kasih kami pada paman!" teriakku didekatnya.


Mas Jantaka tersenyum dan menganggukkan kepala dengan wajah penuh kelegaan.


Perlahan-lahan kami mulai meninggalkan villa milik mas Jantaka.


Mbak Kun berjalan didepan. Dia bertugas memandu arah ke tempat baru.


Sedangkan aku berjalan disamping sebelah kanan kayu-kayu itu.


Sesampainya di perbatasan antara villa dan sebuah hutan.


Satu unit pasukan menghadang kami.


Dari pakaian yang dikenakan, mereka adalah pasukan milik Manggala.


"Kenapa kami dihadang disini?" tanyaku pada kepala pasukan.


"Kami diminta untuk membantu kakak ipar sampai tujuan." jawabnya tegas.


Ya Tuhan...mereka juga menyebutku kakak ipar. Benar-benar edan anak itu.


Kalau aku bisa menyentuhnya. Pasti akan kujewer telinganya sampai merah.


"Kalian tidak boleh menyebutku kakak ipar."


"Kami tidak berani." tegasnya.


"Ya sudahlah, terserah kalian saja. Aku tidak akan menang berdebat dengan kalian."


ketusku.


Kepala penjaga tersenyum sambil memberi tanda hormat.


Kemudian dia meminta anak buahnya memanggul kayu-kayu itu.


Satu kayu, dipanggul oleh dua orang eh makhluk astral madsudnya.


Mereka berjalan beriringan menuju area yang akan kami tuju.


Mbak Kun berjalan di dekatku.


"Semoga tidak ada kendala sampai semuanya selesai." dia seperti sedang berbicara sendiri.


"Memangnya kendala apa?" tanyaku penasaran.


"Bisa saja, mereka tiba-tiba menolak tinggal ditempat baru."


"Wah, bisa kacau kalau hal itu terjadi."


"Iya, itu sebabnya para prajurit dunia bawah ditugaskan membantumu."


"Nggak kebayang, ternyata proses perpindahan makhluk astral itu sangat ribet, repot dan memakan waktu."


"Bukan kesalahan kami. Manusia yang sering tidak mematuhi aturan dan hukum semesta."


Aku tidak bisa mengelak kalau soal itu. Karena apa yang dikatakannya memang benar.


Manusia sering seenaknya menebang pohon, membakar hutan dan menghancurkan tempat-tempat yang menjadi hunian para astral.


Kalau saja, manusia bisa menjaga Bumi dengan baik, maka kehidupan akan memiliki satu harmoni yang penuh keseimbangan.


๐Ÿƒ๐Ÿƒ