
By: Tiara Sajanaka
🌼"Bapak tidak menawari saya?" candaku.
"Kamu tidak boleh makan biskuit ini. Kecuali.."
"Kecuali apa pak?"
"Kecuali, kamu telah menjadi anggota keluarga kami."
"Apa itu biskuit khusus untuk bangsawan para astral?"
Pak Rasyid tertawa, dia berhenti tertawa saat tersedak.
"Huk..huk..huk.." dia terbatuk-batuk.Tangannya terkepal memukul dadanya perlahan.
Tapi dia masih terbatuk-batuk.
Kudekati dia, dan mulai memukul punggungnya dengan keras.
"Eits, kamu sedang membantuku atau sedang melampiaskan kekesalanmu?" tanyanya dengan suara tercekat.
Mendengar suaranya yang tercekat, membuatku terpingkal-pingkal
Aku tidak menyangka, ternyata para astral juga bisa tersedak seperti itu.
Setelah berhenti batuk, dia melihatku dengan kesal.
"Kamu itu, orang tersiksa malah diketawain."
"Habisnya, suara bapak terdengar lucu."
"Sepertinya duniamu begitu ringan dan tanpa beban."
"Bukankah kita sebagai manusia harus selalu berfikiran positif, pak. Jadi, apa yang membuat hidup menjadi penuh beban?"
Dia mengelus kepalaku.
"Itu sebabnya, kamu dapat melangkah kemana saja dengan ringan."
"Saya menikmati setiap waktunya, pak. Karena saya tahu, tidak akan pernah kembali lagi ke masa yang telah dilewati."
"Benar Lira, apapun yang akan kita lakukan harus dipikirkan baik-baik. Agar tidak menyesali setiap keputusan yang telah diambil."
Aku mengangguk setuju.
Kuambil mug keramik miliknya, lalu mencecapnya perlahan.
Teh milikku sudah habis. Sebaiknya kuhabiskan saja teh untuknya, sebelum menjadi dingin.
Sepertinya listrik akan padam seharian.
Ledakan yang mengakibatkan matinya aliran listrik , kemungkinan adalah gardu listrik.
"Tidurlah Lira, waktu subuh masih lama."
"Bapak tidak kembali?"
"Kamu mengusirku?"
"Tidak, saya hanya bertanya."
"Dengan cuaca seperti ini, aku tidak bisa kembali."
"Apa berpengaruh pada dunia astral pak?"
"Berpengaruh pada portal. Kalau cuaca seperti ini, kamu sebaiknya tidak melewati portal."
"Saya baru tahu pak. Selama ini saya pergi selalu dalam keadaan normal."
"Ya, sebaiknya kamu mulai memperhatikan beberapa hal."
Aku segera berbaring diatas kasur. Hujan lebat, membuat udara menjadi dingin.
Kuambil selimut tebal untuk menyelimuti seluruh badan.
Pak Rasyid menyusul masuk kedalam selimut. Seketika aku menggigil ketakutan.
Dia memelukku erat dan memintaku untuk segera tidur.
Rasa lelah, membuatku cepat tertidur.
Sampai tidak memperdulikan lagi, keberadaan pak Rasyid didalam selimutku.
Kalau pak Rasyid itu manusia, sudah dipastikan kami akan lepas kendali.
Berada didalam satu selimut dengan cuaca yang dingin.
Tetapi, dia hanya memelukku sampai waktu subuh tiba.
Pengendalian diri para astral itu, sangat luar biasa. Usia yang panjang, membuat mereka menjadi lebih bijaksana.
Setelah mandi, kami melaksanakan sholat subuh berjamaah. Pak Rasyid sangat khusyuk dalam setiap pembacaan ayat-ayatnya. Berdoa dengan sungguh-sungguh dan Hidmat.
Tidak terasa air mataku menetes perlahan.
Rasa haru begitu menguasai perasaan.
Selama ini, aku tidak pernah sholat berjamaah hanya dengan dua orang.
Apalagi saat ini yang menjadi imam adalah laki-laki dari bangsa jin.
Apa ini disebut anugrah atau malah kesalahan?
Aku tidak tahu hal itu, yang aku tahu tidak semua orang pernah mengalami seperti diriku.
Pak Rasyid mengulurkan tangannya.
Kuraih tangannya dan mencium tangannya dengan haru.
Dia melanjutkan doa dengan khusyuk.
Aku membuka mukena, melipatnya dan merapikan bersama sajadah.
Menggantungnya dirak khusus mukena yang terletak di dekat jendela.
Sambil menunggu pak Rasyid selesai memanjatkan doa.
Kusiapkan pakaian untuk bekerja.
Pagi ini, tidak bisa memasak. Listrik masih padam.
Untuk sarapan, masih ada roti.
Sedangkan makan siang nanti, mungkin aku akan membelinya atau berbekal roti saja.
Biasanya uang gajian masuk ke ATM saat sore hari.
Nanti malam aku bisa belanja beberapa keperluan.
Sedangkan kasbon yang kujanjikan pada Trisna, juga ditransfer ke nomer rekening.
Aku bisa memberikannya hari ini, sesuai dengan janjiku.
Setidaknya, semua urusanku dimudahkan saat ini.
Walaupun masalah dengan Luna belum selesai.
🍃🍃