
By: Tiara Sajanaka
🌼Suasana ditempat kost terasa sepi sekali, sewaktu aku pulang kerja.
Sejak pulang dari cuti, aku merasa suasana tempat kost sangat berbeda.
Tidak lagi terdengar suara musik yang hingar bingar. Atau suara televisi yang bergema di lorong.
Kuketuk pintu kamar Trisna. Dia membuka pintu dan memintaku masuk.
"Baru selesai mandi Tris?"
"Iya mbak, sekarang musim dingin. Tidak berani mandi malam-malam lagi." katanya sambil menuang air panas kedalam gelas.
"Kamu buat apa itu?"
"Air panas untuk mbak."
"Tunggu, kenapa kamu memberiku air panas?"
"Tris nggak punya gula sama teh mbak." jawabnya santai.
"Ya ALLAH Tris, kamu kan bisa bilang sama mbak. Kamu itu kalau ada yang dibutuhkan, jangan sungkan."
"Terima kasih mbak. Tris nggak enak sudah sering ngerepotin."
"Ya sudah, ayo ke kamar mbak. Kita buat mie bareng." ajakku.
Kuambil gelas air panas yang sudah dituangnya tadi. "Mbak bawa ke kamar ya. Kamu sudah menuangnya untuk mbak."
Trisna terkekeh melihatku menenteng gelas air panas.
Sewaktu membuka pintu kamar, aku terkejut melihat pak Rasyid sedang duduk sambil membaca buku.
Tapi Trisna tidak bisa melihatnya.
"Duduk Tris, mbak ganti baju dulu ya."
Aku mengambil baju ganti, dan berganti pakaian di kamar mandi. Sekalian membersihkan diri.
Kulihat Trisna seperti merasa tidak nyaman.
"Ada apa?" tanyaku.
"Kok, kamar mbak terasa hangat ya? Tris juga merasa, seperti ada yang memperhatikan." sesekali dia mengusap tengkuknya.
"Ya, memang ada yang memperhatikan kok." jawabku santai.
"Ih mbak ini, bikin Tris takut aja."
"Lha, kan ada malaikat yang mengawasi kita."
"Hehehe, iya juga ya mbak."
Kulihat pak Rasyid seperti tidak peduli dengan kehadiran kami. Dia masih asyik membaca buku.
Aku memasak mie instan menggunakan rice cooker.
Dengan tambahan potongan sayur sawi, brokoli, telor dan cabe iris.
Kutuang mie instan kedalam tiga mangkok besar. Memberikan satu mangkok untuk Trisna, satu mangkok untukku dan satu lagi buat pak Rasyid.
Trisna memandangku heran. Dia melihat kearah mangkok yang kuletakkan diatas meja kecil.
"Itu untuk siapa mbak?"
"Siapa tahu, nanti kita mau nambah." jawabku asal.
Aku tersenyum,dan memintanya untuk menikmati mie instan.
"Tris, kenapa akhir-akhir ini, suasana terasa sepi banget ya?" tanyaku heran.
"Mbak belum dengar soal Luna?"
"Ada apa Tris?"
"Sewaktu mbak cuti, setiap pulang kerja dia sering marah-marah. Omongannya ngelantur. Kalau dengar suara keras dari kamar penghuni kost lainnya, langsung digedor pintunya."jawabnya.
Aku tertegun mendengar cerita Trisna. Tapi aku yakin bukan Manggala yang melakukan teror pada Luna.
"Terus gimana ceritanya?"
"Sebenarnya sama pemilik kost diminta pindah mbak. Tapi anak-anak lainnya, minta dia lunasi dulu hutang-hutangnya."
"Jadi, dia juga punya pinjaman sama anak kost lainnya?"
"Dari lantai dua sampai lantai tiga mbak. Semua ada pinjamannya."
"Orang gampang percaya sama dia. Atau orang risih dengan caranya waktu meminjam?" tanyaku sedih. Sebab, aku juga pernah risih banget dengan caranya meminjam. Hidungnya itu tajam sekali dengan bau uang disetiap kamar anak kost.
Tingkahnya sudah bikin resah dan menyebalkan.
Kulihat pak Rasyid memasukan buku yang dibacanya tadi kedalam kantong jubahnya.
Dia mendekat kearah mangkok diatas meja.
Membauinya dengan senyum lebar.
Tapi dia mengayunkan jari telunjuknya berkali-kali kearahku.
Seketika aku tertawa geli.
"Kok ketawa mbak?"
"Ingat kalau Luna minjam uang. Dia pasti bertingkah sok akrab dan banyak bicara."
"Iya mbak, aku kesal sekali, waktu sedang makan nasi Padang. Dia bilang ada perlu, eh tahu-tahu ikutan makan nasi Padang. Tanpa cuci tangan dulu. Apa nggak kesel jadinya."
"Hihihi..tambahan vitamin itu." ledekku.
Trisna menaikkan bahunya sambil menunjukkan ekspresi geli.
"Trus, apa hubungannya dengan suasana sepi?"
"Mereka males ngeladeni orang ngamuk mbak. Makanya pada nggak buat kebisingan."
"Ada hikmahnya juga ya, jadi pada tenang." kekehku.
"Iya mbak, tapi jadi seperti tidak ada kehidupan. Pulang kerja, mereka langsung masuk kamar. Padahal biasanya pada suka nongkrong di ruang tengah."
"Semoga nanti nggak sepi banget Tris. Kalau mbak memang suka suasana tenang begini. Tapi yang suka ramai, pasti lebih suka kalau ada suara musik atau suara televisi. Jadi nggak merasa sendirian."
"Iya mbak, Trisna sebenarnya lebih suka ada suara musik. Jadi nggak merasa sepi."
Benar kata Trisna, tempat sebesar ini, kalau sepi sekali juga terkesan dingin dan seram.
Sebagian orang ada yang suka suasana ramai seperti Trisna.
Ada juga yang sepertiku. Lebih suka suasana sepi dan hening.
🍃🍃