SINTRU

SINTRU
SINTRU-97



By: Tiara Sajanaka


🌼Terbang dengan lembut melewati lembah dan sungai. Membuatku lengah dengan sekeliling.


Tiba-tiba sebuah bola api melintas didepanku dengan cepat.


Aku juga merasakan sebuah hantaman dingin yang membuatku terlempar kearah berlawanan dengan bola api itu.


Kalau aku tidak terlempar karena hawa dingin itu, sudah dipastikan tubuh astralku akan mengalami musibah.


"Ceroboh sekali." sungut Manggala


"Aku tidak fokus dengan arah tujuan,"


"Kakak tidak seharusnya melalui jalur ini saat sendiri."


"Iya, tadi aku dari tempat mas Jantaka. Jalur ini adalah jalan terdekat menuju tempat Rasyid."


"Tapi, jalur udara disini adalah jalur paling berbahaya."


"Aku tidak tahu hal itu." jawabku sedih.


"Lain kali jangan lewat udara disini. Jalan darat lebih aman."


"Akan kuingat pesanmu."


"Baiklah, aku akan menemanimu ke kediaman Rasyid."


"Manggala, darimana kamu tahu kalau aku sedang melintasi udara disini?"


"Radarku memiliki jangkauan yang luas. Tentu saja aku tahu kalau ada yang melintas disini."


"Bagian udara di kawasan ini, bukan wilayahmu. Artinya kamu tahu dari prajurit atau dari orang lain."


"Hahha..kakak memang pemikir. Nanti saja kita membahas masalah ini. Sebaiknya kita segera ke tempat Rasyid." Manggala memintaku mengikutinya.


Dia tidak merubah wujudnya seperti tetesan air beku atau embun.


Cara Terbangnya juga berbeda, dia tidak terbang dalam posisi horizontal ataupun vertikal.


Jejak terbangnya meninggalkan alur melingkar, zig-zag dan sesekali berbentuk elips.


Aku tertawa geli melihatnya bergerak seperti itu. Dia sengaja menggodaku. Agar aku tidak bisa menebak dengan benar caranya terbang saat dia tidak merubah wujudnya.


Seorang panglima yang masih kekanak-kanakan dan anak mami.


Aku menjadi terhibur dengan tingkah lakunya yang tidak biasa itu.


Setibanya kami di halaman rumah Rasyid, Manggala memintaku menunggunya.


Dia ingin memastikan, apakah Rasyid sudah dapat bertemu denganku.


Sekitar lima menit, Manggala telah kembali.


Dia memintaku masuk ke area tengah.


"Tunggu, ada yang ingin kutanyakan padamu." kata Manggala.


"Tentang apa?"


"Apa kamu siap berpisah dengannya?"


Aku terkejut mendengar pertanyaannya.


"Jawab saja pertanyaanku." dia menatapku serius.


"Tidak, aku belum siap. Dan aku tidak memiliki kemampuan untuk melepaskan semua ingatan tentang Rasyid."


"Kasihan sekali kamu, kak. Kamu harus mengalami penghapusan ingatan untuk kedua kalinya."


Perasaanku sangat sakit, sewaktu mendengar hal itu. Aku mengerti dengan kata penghapus ingatan. Karena sampai sekarang, aku masih kehilangan ingatan tentang pemuda yang pernah kami temui itu.


Suatu saat, ingatan itu pasti kembali.


Lalu, bagaimana kalau aku juga akan mengalami untuk kedua kalinya?


Bisa-bisa aku akan menjadi amnesia permanen.


"Setidaknya, aku pernah menikmati masa-masa yang indah bersama Rasyid." sahutku tenang.


Manggala menghela nafas berat. Dia pasti tidak mengerti dengan jalan pikiranku.


Kenapa aku bisa menjalani kehidupan yang seperti di dalam dunia hayalan.


Sebab, sangat mustahil seorang manusia bisa selalu keluar masuk dunia astral tanpa mengalami kebingungan.


Ditambah, aku pernah menjalani penghapusan ingatan. Tapi, aku tetap dapat membedakan mana dunia manusia dan mana dunia astral.


"Apa kakak bisa melewati semuanya dengan aman?" tanyanya khawatir.


"Semoga saja, Manggala. Awalnya bisa saja aku menjadi kebingungan. Tetapi semua akan bisa kujalani dengan baik."


"Bagaimana kakak bisa tidak mengalami gangguan pikiran atau gangguan kejiwaan?"


"Aku juga tidak tahu. Tapi, aku selalu berserah kepada Sang Maha Pencipta. Apapun yang terjadi di dalam hidupku, aku yakin itu adalah rencana indah untukku."


"Akhirnya, aku menemukan jawabannya."


"Jawaban apa?"


"Selama ini, aku selalu bertanya sendiri. Bagaimana kakak bisa berada di dunia Astral lalu kembali ke dunia manusia tanpa menjadi hilang ingatan."


"Lalu, apa jawabannya?"


"Kakak selalu pasrah dan ikhlas saat berada di manapun. Di dunia astral, kakak tidak memberontak. Tetap patuh pada tanggung jawab yang diberikan. Di dunia manusia, kakak tetap menjalani kehidupan sebagai manusia tanpa merasa marah pada keadaan."


"Buat apa marah? Kalau sudah kita jalani, mau nggak mau ya harus diterima.Ntah itu kesenangan atau kesedihan."


"Apa kakak tidak tahu, kalau manusia itu sering meminta bantuan para astral?"


"Ya aku tahu. Tetapi, aku tidak diijinkan ikut campur urusan mereka."


"Pantas saja, kakak tidak tergoda pada kemewahan yang diberikan tuan Arkana."


Aku tertawa geli mendengar caranya berbicara.


Manggala..Manggala, kalau saja kamu tahu, bagaimana perjalanan hidupku.


Kamu pasti akan menangis pilu.


Tapi buat apa aku membangkitkan ingatan pahit pada masa lalu.


Sekarang adalah waktu untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.


🍃🍃