SINTRU

SINTRU
SINTRU-81



By: Tiara Sajanaka


🌼Pak Rasyid memelukku. Berusaha menenangkan dan memintaku berhenti menangis.


"Kalau mereka sengaja membuatku tidak mengingat kehidupan bersama mereka, kenapa sekarang mereka meminta kita datang?"


"Sebab, mereka mendengar rencana pernikahan kita. Dalam hukum semesta, hal itu melanggar hukum."


"Karena statusku adalah istri pria muda itu?"


"Benar, dan kalian tidak bisa bercerai. Pernikahan kalian abadi."


"Lalu bagaimana aku akan menjalani kehidupan sebagai manusia? Kalau aku sudah memiliki suami di dunia Astral."


"Lira, sebenarnya dia sudah membebaskanmu dengan perjanjian sebagai manusia. Kamu bisa menikah dengan pria dari dunia manusia. Tapi tidak dengan pria dari dunia astral."


"Aku jadi semakin pusing. Apa kita sudah bisa pergi?"


"Kalian harus bicara. Dia merindukanmu."


"Makhluk jenis apa yang membuatku kehilangan seluruh ingatan tentang dunia kalian? Lalu sekarang dengan tenang dia mengatakan merindukanku. Bagaimana aku bisa memiliki hubungan dengan pria sekejam itu?" teriakku marah.


Aku tidak peduli kalau nantinya akan mengalami kelelahan psikis dikarenakan amarah yang meluap-luap.


Pak Rasyid memintaku merendahkan suara.


Aku memeluknya dan terisak didalam pelukannya.


Setelah menangis cukup lama, aku mulai kelelahan. Sampai akhirnya tertidur didalam pelukannya.


Sebuah sentuhan lembut diwajah, membuatku membuka mata. Dan berusaha melihat kearahnya.


Sewaktu melihat kearahnya, aku terkejut.


Dia bukan pak Rasyid.


"Dimana pak Rasyid?" tanyaku sedih.


"Dia sedang berbicara dengan bapak."


"Bapak? Apa dia bapak tuan?"


"Jangan memanggilku tuan."


"Lalu, aku harus memanggil dengan sebutan apa?"


"Kamu sering memanggilku Beib,"


Aku tertawa getir. Apa aku seromantis itu? Sampai memanggilnya Beib.


"Kamu juga sering memanggilku honey,"


"Apa aku seromantis itu?"


"Kamu lembut, manja, romantis, sedikit galak dan keras kepala." ucapnya tenang.


Apa benar aku seperti itu?


Selama ini aku selalu bersikap keras dan kaku pada laki-laki.


Sangat aneh rasanya kalau ternyata aku pernah menjadi wanita yang lembut dan romantis.


"Maafkan aku, Lira. Aku telah membuatmu mengalami kebingungan Seperti ini."


Dia memegang tanganku dengan hati-hati.


Sebenarnya, aku ingin menepis tangannya.


Tapi, getaran yang kurasakan. Serta kehangatan yang menjalar ke dalam aliran darah, membuatku menggenggam tangannya erat-erat.


Aku tersentak dengan caranya membelai kepalaku.


Sentuhannya itu, terasa merasuk kedalam hatiku.


"Apa benar, kita telah menikah?" tanyaku lirih.


"Kita akan membicarakan hal ini, setelah kondisi psikismu lebih baik."


"Kenapa kamu muncul? kenapa tidak membiarkan diriku bersama pak Rasyid?"


"Lira, kalaupun aku membiarkan kamu bersama Rasyid. Kalian tidak akan terlepas dari hukum dunia astral. Kamu memiliki status lebih tinggi dari Rasyid. Pernikahan kita telah memberimu kehidupan di dunia Astral. Seharusnya kamu tahu, kalau kamu tidak bisa memiliki hubungan apapun dengan bangsa mereka."


"Kenapa harus meletakkan status untuk suatu hubungan?" ketusku.


"Sebaiknya kamu istirahat.Kita tidak bisa membahas masalah ini disaat emosimu masih tidak menentu."


"Kamu yang telah membuatku seperti ini."


Dia memandangku lembut. "Iya, sejak awal memang aku yang salah. Kalau saja dulu, aku tidak mendekatimu, kita tidak akan berada di dalam kepedihan ini."


"Aku benar-benar tidak bisa mengingat tentang hal itu sedikitpun."


"Semua kami lakukan untuk kebaikanmu."


"Kalau saja aku tidak bertemu pak Rasyid, aku tidak perlu mengetahui masalah ini. Masalah ini terlalu membingungkan buatku."


"Kamu percaya takdir kehidupan?"


"Tentu saja aku percaya. Semua yang telah terjadi adalah bagian dari takdir."


"Jadi, jangan menyalahkan keadaan. Pertemuanmu dengan Rasyid, adalah bagian dari perjalananmu. Selama kalian tidak menikah, maka keadaan akan baik-baik saja."


"Kamu tidak marah? Melihat istrimu bersama laki-laki lain?" tanyaku hati-hati.


"Bukan hanya marah. Tapi hancur dan berdarah-darah."


"Lalu, kenapa kamu bisa membiarkan istrimu bersama laki-laki lain?"


"Tubuh kasar manusia tidak abadi.Usia manusia juga tidak panjang. Lalu, untuk apa aku membuatmu tersiksa dalam menjalani kehidupan sebagai manusia?"


"Aku tidak mengerti dengan caramu berfikir."


Dia tersenyum manis.


Seorang pekerja wanita datang membawa sebuah nampan yang penuh dengan buah-buahan. Serta segelas air putih.


Setelah meletakkan nampan diatas meja, pekerja itu undur diri.


"Kenapa dia berjalan seperti itu?" tanyaku sewaktu melihat pekerja itu berjalan mundur.


"Mereka menghormatimu. Dan para pekerja disini tidak boleh membelakangimu sebelum mereka berjarak lebih dari lima meter."


"Kenapa ada aturan seperti itu? Aneh sekali."


"Kamu tidak tahu, siapa statusmu disini. Itu sebabnya, kamu merasa aneh dengan hal seperti itu."


"Bukankah dengan sesama makhluk, kita harus saling menghargai?"


"Lira, istirahatlah. Jangan membebani pikiran dengan hal-hal yang akan membuatmu bingung."


Kuhela nafas panjang. Menatapnya dengan perasaan tidak menentu.


Kalau saja aku bisa mengingat tentang kami sedikit saja. Tentu aku tidak akan mengalami kebingungan Seperti saat ini.


🍃🍃