SINTRU

SINTRU
SINTRU- 87



By: Tiara Sajanaka


๐ŸŒผSuara ketukan di pintu terdengar pelan sekali. Pak Rasyid menyuruh pengetuk pintu itu masuk.


Seorang pekerja pria, membawa pesan padanya.


Tuan Arkana memintanya untuk menemuinya.


Mereka berbicara cukup serius. Sampai pekerja itu meninggalkan kami.


"Aku akan menemui tuan Arkana. Kamu tunggu disini ya.."


"Tidak pak, aku harus bertemu mbak Kun. Ada yang harus kami selesaikan."


"Baiklah, aku akan menemanimu sampai gerbang depan." ucapnya lembut. Dia meraihku kedalam pelukannya. Mencium keningku dengan kasih sayang yang begitu mendalam.


Kami berpisah di gerbang depan. Pak Rasyid berjalan ke arah kediaman Arkana.


Aku berjalan menuju perbatasan miliknya.


Dua penjaga perbatasan pak Rasyid, membuka gerbang timur untukku.


Kulihat mbak Kun sedang duduk diatas sebuah pohon didekat perbukitan.


Dia segera turun mendekatiku. Kemudian membawaku ke tempat para astral tinggal.


Tetapi baru sampai batas area terdepan.


Ku hentikan langkahku.


"Ada apa?" tanya Mbak Kun.


"Kenapa aromanya tajam sekali. Apa mereka tidak menjaga kebersihan?"


"Mereka masih belum terbiasa dengan semua fasilitas disini."


"Tapi, setidaknya, mereka juga harus menjaga kebersihan. Jumlah mereka banyak sekali. Kenapa tidak ada yang bisa mengatur mereka?" tanyaku kesal.


Mbak Kun terlihat marah padaku. Dia kesal karena aku tidak bisa memahami kondisi mereka.


"Siapa pemimpin seluruh penghuni disini?" tanyaku.


"Seorang sesepuh, tetapi dia memaklumi kondisi mereka yang harus beradaptasi tinggal diatas tanah."


"Sampaikan pada pemimpin disini, untuk membersihkan seluruh area selama tiga hari. Nanti, aku akan datang untuk melihatnya."


"Apa kami bisa meminta beberapa pohon?"


"Ya tentu saja. Nanti akan aku sampaikan pada Manggala."


Kuurungkan niatku melihat tempat mereka. Aku benar-benar tidak tahan dengan aroma yang datang dari tempat tinggal mereka.


Aku berteriak memanggil Manggala. Suaraku terdengar menggema keseluruh area.


"Tidak perlu berteriak seperti itu Kakak sayang." tiba-tiba dia sudah ada di sampingku.


"Siapa tahu, kamu sedang tidur. Itu sebabnya aku berteriak memanggilmu."


"Ada apa?" tanyanya kalem.


"Apa kita bisa menanam pohon di tempat mereka?"


"Artinya, aku harus mencari pohon besar dan rindang."


Benar juga katanya. Tidak mungkin menanam pohon kecil. Bisa menunggu sampai puluhan tahun, baru bisa ditempati.


" Mereka masih sulit beradaptasi. Karena terbiasa tinggal di pohon."


"Jumlah mereka banyak sekali, aku membutuhkan sekitar lima belas pohon besar."


"Apa itu memakan waktu?"


"Tidak, dalam waktu satu Minggu semua akan selesai."


"Manggala, apa kamu bisa memastikan kalau pohon-pohon itu tidak ada penghuninya?"


"Syukurlah, artinya tidak ada masalah dengan pohon yang akan dipindahkan ke tempat ini."


Manggala mengangguk sambil tersenyum lebar.


"Bagaimana mbak Kun, lima belas pohon itu bisa menampung satu garnisun."


"Ya, akan aku sampaikan pada tetua kami." jawabnya.


"Apa ada lagi yang akan kakak sampaikan?"


"Tidak, tapi aku meminta mereka untuk membersihkan area selama tiga hari. Apa kamu bisa meminta anak buahmu mengawasi?"


"Baiklah, akan kulakukan."


"Oh ya, Manggala. Pak Arkana meminta pak Rasyid menemuinya. Kira-kira ada masalah apa ya?"


"Aku belum mendapatkan informasi tentang itu. Tapi, sebaiknya aku kesana sekarang."


Setelah mengatakan itu, Manggala melesat ke arah Barat. Menuju ke kediaman Arkana.


Tinggal kami berdua. Mbak Kun sepertinya masih kesal padaku.


Tapi aku tidak peduli soal itu.


Aku ingin, mereka memiliki tatanan hidup yang lebih baik.


Tidak sesuka hati seperti dulu. Walaupun mereka adalah astral golongan rendah.


Mereka tetap berhak Memiliki kehidupan yang layak dan nyaman.


"Urusan kita bagaimana?" tanyaku datar.


"Rumah itu belum selesai. Masih menunggu pengerjaan akhir."


"Kamu sudah melihat kondisi istri mas Jantaka?"


"Dia belum dibawa ke rumah itu."


Ternyata tugasku belum selesai. Aku harus menunggu sampai istri mas Jantaka dibawa ke villa itu.


Maka mbak Kun akan bisa mengembalikan energi milik istri mas Jantaka.


"Aku kembali dulu. Tiga hari lagi, aku akan datang."


"Bukankah Rasyid memintamu menunggunya?"


"Dia bisa menemuiku di dunia manusia. Apalagi sudah hampir fajar. Aku harus segera kembali."


"Lira, kalau semua ini selesai. Apa kamu akan mengambil area itu?"


Aku berbalik melihat kearahnya. Merasa aneh dengan pertanyaannya.


"Kenapa kamu bisa berfikiran seperti itu?"


"Beberapa dari kami, mengatakan kalau kamu hanya memanfaatkan kami. Seperti yang sering dilakukan manusia."


"Bukankah kamu yang membuatku datang ke sini? Lalu, bagaimana caranya aku memanfaatkan kalian? Bahkan aku harus bersikap tidak adil pada Rasyid. Agar kalian mendapatkan tempat tinggal."


"Ya, aku tahu itu. Tetapi mereka membutuhkan kepastian. Apakah mereka hanya diijinkan tinggal untuk sementara. Atau kami boleh menetap seterusnya?"


"Sejujurnya, aku tidak membutuhkan apapun di tempat ini. Area itu pemberian pak Arkana untuk kesepakatan kami. Kalian boleh tinggal selamanya, dengan aturan yang dibuat pak Rasyid."


"Bukankah kamu selalu menolak kesepakatan dengan mereka?"


"Ini kesepakatan yang berbeda. Tidak menyangkut kehidupan di dunia manusia. Aku tidak mengambil apapun dari tempat ini."


Mbak Kun terlihat lega.


Aku tidak menyangka kalau para astral juga bisa memiliki pemikiran yang tidak logis.


Semoga tiga hari lagi, tempat itu benar-benar lebih bersih dan tertata.


๐Ÿƒ๐Ÿƒ