SINTRU

SINTRU
SINTRU 71



By: Tiara Sajanaka


🌼Kami makan malam dengan menu ala barbeque. Ditemani nyala api unggun yang membuat suasana menjadi hangat dan ceria.


Sekelompok pemuda-pemudi yang berada ditempat ini, mereka mulai bernyanyi dan bermain gitar. Ada yang asyik ngobrol, ada yang bersenda gurau.


Pandanganku tertuju pada bekal makanan yang dibawa Manggala dan Mavendra.


Mereka membawa sesuatu yang ditusuk dengan tusukan sate.


Bentuknya pipih seperti potongan daging burger. Tetapi ini berwarna hijau dan merah.


Sewaktu mereka memanggangnya diatas pemanggangan, aromanya seperti rumput laut yang dibumbui kelapa bakar. Wangi dan menggugah selera.


"Itu apa?" tanyaku pada pak Rasyid.


"Itu ikan air tawar yang dihancurkan, dengan campuran alga merah, jamur hijau yang tumbuh hanya didekat tebing air terjun, serta kelapa sangrai. Semua bahan dicampur dan dibentuk seperti lempengan burger."


"Wah, kamu tahu betul komposisinya."


"Aku sering berkunjung ke tempat mereka. Ibu Manggala sangat ahli mengolah berbagai jenis makanan dunia bawah air."


"Pasti wanita yang luar biasa. Memiliki kekuasaan, tetapi tetap bersedia memasak untuk putranya."


"Kamu juga akan melakukannya untuk putra kita?"


"Mulai.." dengusku kesal.


Pak Rasyid tertawa. Dia memberiku sebuah piring yang penuh dengan berbagai jenis makanan.


"Aku tidak akan sanggup menghabiskannya."


"Aku tahu, ini untuk kita berdua." ucapnya sambil menyomot sebuah jagung bakar.


Dia begitu menikmati suasana malam ini.


Matanya terlihat berbinar, dan senyuman selalu menghiasi wajahnya.


"Lalu, apa yang ada didalam toples kecil berwarna orange?" tunjukku kearah toples kecil yang dipegang Manggala.


"Itu puding telor salmon. Kamu mau?"


Kugelengkan kepala dengan cepat. Nggak kebayang rasa anyir dari telor salmon yang diolah menjadi puding.


Makanan itu memang bukan untuk manusia.


Jadi, aku tidak perlu khawatir soal itu.


Mereka tidak akan memaksaku buat mencicipinya.


Sambil menikmati makan malam, aku melihat kearah lampu-lampu yang bertebaran di bawah bukit.


Deburan ombak dikejauhan menambah syahdu dan damai suasana.


Bintang-bintang bertebaran membentuk gugusannya.


Milky way terlihat begitu indah dilangit. Membentang di jalurnya dengan keajaiban semesta.


Pikiran terasa lepas dan jernih.


Sungguh menakjubkan.


Pak Rasyid duduk disebelahku merangkul bahuku sambil mencondongkan kepalanya.


Aku menjadi risih, berusaha melepaskan rangkulannya perlahan.


Dia melihatku dengan senyumannya yang mencurigakan.


Kemudian, mengambil piring dari pangkuanku. Meletakkannya diatas meja dekat pemanggangan.


"Ikut aku."


"Kemana?"


"Tidur.." candanya.


"Aku belum ngantuk. Lagian tumben mau tidur dengan cuaca cerah begini."


Dia berbisik di telingaku. Membuatku spontan memukul punggungnya.


"Hanya itu pelampiasannya. Tidak mungkin aku memukul Manggala atau Mavendra. Mereka tidak dapat kudekati."


"Semoga Arya tidak marah, saat nanti dia melihat badannya memar semua."


Aku tertawa geli. Lalu meninggalkan dia untuk membersihkan badan dan berganti pakaian.


Ditempat ini disediakan toilet bersama yang selalu terjaga kebersihannya.


Ada juga ruang shower buat mandi.


Selesai membersihkan badan dan berganti pakaian, aku kembali ke tenda.


Terlihat hanya Mavendra yang berada di dekat tenda.


Aku memasukkan pakaian kotor dan perlengkapan mandi kedalam tas ransel.


Kemudian mendekati Mavendra. Aku juga tidak bisa berada terlalu dekat dengannya.


"Mereka kemana, Mavendra?"


"Tadi, utusan tuan Arkana datang. Beliau meminta mereka untuk menemuinya." jawabnya tenang.


"Apa mereka akan lama?"


"Sepertinya begitu. Mereka memintaku agar menjagamu selama mereka pergi."


"Kenapa mereka tidak menungguku ya? Setidaknya berpamitan gitu."


"Kamu ditunggu lama sekali. Itu sebabnya mereka meninggalkanku disini."


Aku tertawa. Membayangkan mereka menungguku selesai mandi.


Aku juga tidak tahu, kenapa saat di kamar mandi bisa begitu lama.


Padahal kegiatannya sama seperti orang lain.


Tapi, aku bisa berjam-jam berada disana.


Ntahlah, aku juga tidak paham soal itu.


"Mavendra, aku ingin menanyakan sesuatu padamu."


"Iya, tanya saja."


"Kenapa pak Rasyid tidak bisa berwujud sebagai dirinya saat berada di pulau ini?"


"Bukankah kamu tahu, kalau Rasyid memiliki darah campuran manusia?"


"Iya, tapi itukan dari leluhurnya ribuan tahun yang lalu. Apa hal itu masih terus ada dalam garis keturunan bangsa astral?"


"Tentu saja. Darah yang telah mengalir didalam garis keturunan bangsa kami, akan terus ada sampai akhir dunia. Karena hal itu untuk menegaskan status seseorang."


"Apa karena hal itu, pak Rasyid memiliki status tertinggi diantara kerabatnya?"


"Benar, begitu juga kalau seseorang itu memiliki garis keturunan dari para penghuni dimensi kedua, maka dia akan menempati status paling rendah didalam wilayah kami."


"Mengerikan sekali ya? Status seseorang dilihat dari garis keturunan. Seperti jaman jahiliah saja."


Mavendra tertawa, "Kamu lupa kalau kami adalah makhluk dari masa sebelum manusia tinggal di Bumi."


"Tidak, hanya saja aku berfikir, kalau kehidupan kalian sudah sangat modern. Ternyata masih menggunakan sistem kasta."


"Ya memang seperti itu."


"Mungkin hal itu yang membuat pak Rasyid tidak mau menikah dengan bangsa astral?" gumamku dalam hati.


Pak Rasyid ingin garis keturunannya berada pada posisi tertinggi di wilayah Arkana.


Dengan begitu, para astral akan sangat menghormati keturunannya. Itu sebabnya, dia bisa menempati posisi sebagai putra mahkota dan memegang jabatan sebagai sang bijaksana didalam kepemimpinan Arkana.


Sikapnya memang berbeda sekali saat berada di dunia Astral dan di dunia manusia.


Dia bisa menempatkan posisi dirinya dengan baik.


Ah..pak Rasyid, aku memang memujamu. Sangat memujamu.


🍃🍃