
By: Tiara Sajanaka
🌼Rasyid keluar bersama Dokter muda itu.
Walaupun terlihat masih muda, sebenarnya Dokter telah berusia ratusan tahun. Bahkan lebih tua dari Rasyid.
Rasyid sudah bisa berjalan dengan langkah pelan. Dia tidak memerlukan alat bantu ataupun di tandu.
Sungguh luar biasa cara kerja Dokter tampan itu. Dalam waktu singkat, Rasyid sudah dapat berjalan lagi.
Dokter tersenyum kearah wanita yang bersamaku.
Mereka berbicara sangat lembut dan mesra.
Seolah-olah kami tidak ada disini.
Aku mendekati Rasyid, menanyakan padanya apa dia masih merasa kesakitan.
"Tidak Lira. Aku tidak merasa sakit lagi. Tetapi aku tetap harus melangkah dengan hati-hati. Agar masa pemulihan lebih cepat."
"Syukurlah, berarti kita bisa kembali sekarang?"
"Ya tentu saja. Kita tidak akan mengganggu pasangan yang sedang asyik menikmati kebersamaan." kekehnya.
"Mereka seperti pasangan yang sedang jatuh cinta." bisikku.
"Benar, Dokter selalu jatuh cinta pada istrinya. Setiap hari. Dari awal mereka bertemu sampai sekarang."
"Bagaimana hal itu bisa terjadi?"
"Istri Dokter, masih memiliki tubuh material. Kapan saja, dia bisa kehilangan seluruh unsur yang dimilikinya. Hal itu membuat Dokter tidak ingin kehilangan moment indah selama istrinya masih bersamanya."
Seketika aku terduduk lemas. Tidak bisa kubayangkan rasa kehilangan itu. Jika saatnya tiba, Dokter pasti akan sangat menderita.
Seandainya, aku bersama Rasyid.
Maka kami juga akan mengalami hal yang sama.
Bersama selama beberapa ratus tahun, sebelum akhirnya, harus menerima ajal.
Sedangkan Rasyid akan mengalami kesedihan yang panjang.
Aku mengembalikan buku yang kubaca tadi ke tempatnya semula.
Kemudian, kami berpamitan pada Dokter dan istrinya.
Istri Dokter, berharap aku mau mengunjunginya lagi. Dia merasa senang bisa berbicara dengan manusia yang masih memiliki unsur kehidupan.
Rasyid, berjanji akan membawaku saat dia akan melakukan therapy. Agar kami bisa berbincang tentang banyak hal.
Dokter dan istrinya mengantar kami. Sampai masuk ke dalam kereta. Mereka melambaikan tangan, sewaktu kereta mulai berjalan meninggalkan kediaman Dokter.
Mengembalikan energi istri mas Jantaka.
Semoga saja, mas Jantaka sudah membawa istrinya kembali ke Villa itu.
Sepanjang perjalanan aku menikmati suasana. Melihat alam yang kami lalui dari udara. Benar-benar indah kawasan kekuasaan Arkana.
Sepertinya dia memang menata wilayahnya dengan sangat baik.
Bangunan-bangunan indah dan menjulang tinggi dibangun hanya dalam waktu sekejap.
Dan selalu diperbaharui setiap beberapa tahun sekali.
Ntah darimana sumber kekayaan Arkana.
Sampai dia bisa mengelola wilayahnya dengan sangat baik.
Apa makhluk astral juga membayar pajak? Atau mereka memiliki sumber penghasilan yang besar dari tempat lain?
"Kamu sedang memikirkan sesuatu?" tanya Rasyid menyelidik.
"Iya. Aku sedang berfikir tentang pajak. Apa makhluk astral ditempat ini juga membayar pajak?"
"Hahaha, kamu itu! Semua dipikirkan. Urusan makhluk astral, urusan manusia, semua tidak luput dari perhatianmu."
"Sebenarnya aku heran dengan suasana serta kehidupan disini. Semua tertata dengan baik dan indah. Tentu saja, untuk membangun wilayah seperti ini, membutuhkan biaya yang besar."
"Benar Lira. Tuan Arkana memiliki sumber dana dari berbagai sektor. Sedangkan pajak yang dibayarkan, itu dikembalikan dalam bentuk fasilitas umum juga pelayanan publik."
"Nah, itu yang aku pikirkan." sungutku kesal.
Rasyid tersenyum melihatku kesal.
"Kamu tidak haus?"
"Ya, aku haus dan lapar. Tapi, aku akan segera kembali. Sebaiknya aku makan di tempatku saja."
"Kalau begitu, aku akan mengantarmu sampai gerbang astral. Tapi, aku belum bisa menemani ke duniamu."
"Tidak apa, sebaiknya kamu fokus pada pemulihan. Agar bisa menemaniku ke kediaman mas Jantaka."
Rasyid mengangguk. Dia menatapku lembut.
Caranya menatap, membuat perasaanku trenyuh. Semua terasa tidak adil untuknya.
Tapi dia tetap menjalani kehidupan sebagai makhluk abadi dengan penuh kepatuhan.
🍃🍃