SINTRU

SINTRU
SINTRU-26



SINTRU- 26


By: Tiara Sajanaka


๐ŸŒผKeluar dari kediaman mas Jantaka, aku berusaha mencari keberadaan mbak Kun.


Sebaiknya aku melihat dari atas.


Bukankah area ini adalah zona aman untuk terbang?


Selama dua menit aku berputar disekitar kompleks villa. Tapi, mbak Kun tidak kutemukan.


Apa aku kembali saja? Sebelum para anak buah Arkana datang.


Setibanya di gerbang kompleks villa, pikiranku berubah.


Kuarahkan pandangan ke arah atas.


Mencoba mencari bayangan anak buah Arkana. Mereka tidak terlihat sedang berpatroli.


Atau mereka sedang bersiaga di suatu tempat?


Suasana Diatas terasa hening dan berangin.


Dengan menambah kewaspadaan, aku mencoba melintasi area mereka, area para jin merah.


Dan benar seperti dugaanku.


Sebentar saja berada di area mereka, panah-panah api itu sangat cepat meluncur kearahku.


Aku tertawa kecil sambil menghindari kejaran mereka.


Sangat menyenangkan saat meliuk-liuk diudara. Seperti sedang bermain mobil-mobilan didalam game Tom.


Kadang aku melakukan zig-zag untuk melihat gerakan mereka.


Dengan adanya mereka yang mengejarku, aku memiliki alasan untuk masuk ke area mereka.


Dengan cepat, aku menuju ke arah jembatan gantung.


Tempat yang membuatku penasaran.


Serta ada sebuah vibrasi samar-samar yang kurasakan.


Sewaktu akan berhenti dijembatan gantung, kulihat mereka masih mengejarku.


Hal itu membuatku terbang rendah menuju kearah taman.


Sebenarnya, ada perasaan takut saat memasuki taman milik Arkana.


Tapi kusingkirkan rasa takut itu.


Dengan cepat, aku berlari kearah sebuah pohon dan bersembunyi dibalik pohon.


Anak buah Arkana, mendarat di tanah dengan meninggalkan jejak rumput yang terbakar. Wujud mereka seketika berubah saat berada di bawah.


Mereka adalah para prajurit berpakaian merah. Mereka menenteng senjata crosbow berukuran kecil.


Senjata itu sekaligus menjadi kendaraan mereka saat terbang.


Kuintip mereka dari balik pohon.


Mengawasi gerak-gerik mereka sewaktu berkeliling taman untuk mencariku.


Kulihat, mereka berpencar mencari kesegala sudut taman.


Tentu saja mereka tidak menemukanku.


Setelah mereka yakin tidak menemukanku, kepala pasukan meminta mereka meninggalkan taman.


Sewaktu mereka berjalan kearah jembatan gantung. Perasaanku menjadi lega.


Pelan-pelan kusandarkan badan ke pohon.


Aku lupa kalau pepohonan disini adalah pohon hidup dan dapat bergerak.


Tentu saja aku terkejut saat bersandar. Dan hampir berteriak.


Tetapi pohon tempatku bersandar, dengan cepat menutup mulutku menggunakan rantingnya.


Pohon ini juga mulai menutup seluruh badanku dengan ranting-rantingnya yang berdaun lebat.


Sekarang tubuhku terbungkus rapat, membuatku tidak bisa melihat apa-apa.


Sewaktu para prajurit itu melintas didepanku. Langkah kaki mereka tidak terdengar.


Mereka juga tidak bersuara.


Namun, hawa panas dari tubuh mereka dapat kurasakan.


Aku berusaha menahan nafas dengan baik. Agar getaran dari tubuh material tidak dapat mereka deteksi.


Hal ini sangat penting saat berada di dunia astral.


Karena mereka sensitif terhadap frekuensi dan vibrasi sekecil apapun.


Mereka kembali mencari lebih teliti. Beberapa saat aku merasakan sebuah hawa panas berdiri cukup lama didepanku.


Sedangkan aku harus mengikuti gerakan pohon yang meliuk dengan lembut dan gemulai.


Para penjaga akan curiga kalau ada sebuah pohon yang tidak bergerak.


Hal itu bisa sangat membahayakanku.


"Kalian sedang apa didalam taman?" sebuah suara terdengar menegur mereka.


"Kami mengejar seseorang yang mencurigakan tuan." jawab kepala prajurit.


"Bukankah batas kalian hanya sampai jembatan? Kenapa kalian berani memasuki taman?" suara itu ku kenal.


Itu suara pak Rasyid. Apa dia mengetahui kalau aku berada disini?


Tapi, kenapa mereka memanggilnya tuan?


"Maafkan kami, tadi kami melihat sosok itu menerobos masuk ke area taman."


"Apa selama ini ada yang bisa lolos dari pepohonan. Mereka pasti akan menangkap sosok itu."


"Maafkan kami, tuan."


"Lalu, bagaimana kalian akan membereskan kerusakan karena ulah kalian?"


"Kami akan meminta pengurus taman untuk membersihkan rumput yang rusak,"


"Baik, lakukan itu besok. Sekarang,kalian bisa kembali berpatroli." tegasnya.


Syukurlah, akhirnya para penjaga meninggalkan taman.


Aku belum berani keluar dari ranting yang menutup.


Semoga saja pak Rasyid tidak mengetahui kalau sebenarnya akulah yang mereka cari.


๐Ÿƒ๐Ÿƒ